Realitas Semu

Sumbo Tinarbuko

 

 

 

Fenomena kehidupan realitas semu ditengarai telah menelikung sebagian besar masyarakat Indonesia. Kehidupan berdasarkan konstruksi konsep realitas semu dapat diputar rekamannya lewat berbagai serial sinetron tv dan tontonan seni pertunjukkan lainnya.

 

Dalam kehidupan realitas semu, mereka yang menjadi pemerannya ditakdirkan paritas alias sewarna. Dihadirkan sempurna. Selalu cantik, ganteng, dan kaya raya. Hidup dalam balutan panorama yang membahagiakan, nyaman, dan tenteram bagaikan pasangan Adam Hawa yang bercengkerama di Taman Eden.

 

Mereka ditakbiskan sangat berkecukupan karena memiliki berpuluh-puluh perusahaan yang difungsikan sebagai mesin penghasil uang. Segala barang dan jasa produk kapitalisme yang menjadi simbol modernitas selalu ada dalam genggaman tangannya.

 

Skenario dan setting kehidupan realitas semu yang mensyaratkan para pendukung kapitalisme mengedepankan egoisme dan individualisme merupakan hukum formal yang telah digariskan dan layak dipatuhi tanpa basa-basi.

 

Mereka dibiasakan berpikir instan, pragmatis, dan lebih senang bersiasat jangka pendek dengan menisbikan jalinan sebuah proses. Padahal kalau mau jujur, sebuah proses – apapun bentuk dan pengejawantahannya – sejatinya adalah pilihan wajib, bagi penandatangan kontrak hidup di jagat raya ini.

 

Di dalam potret rumah tangga modern, misalnya, kehidupan realitas semu menampakkan wajah buruknya sebagai sublimasi orangtua yang tidak mampu mendampingi anaknya secara maksimal. Pasangan orangtua yang bekerja lebih 6 jam sehari cenderung mewujudkan kasih sayangnya lewat sikap permisif memenuhi seluruh permintaan anaknya atau memberikan uang saku berlebih.  Akibatnya, mereka menjadi pemuja uang dan harta duniawi.

 

Mereka sangat konsumtif membelanjakan uang hasil ‘’sogokkan’’ orangtuanya. Mereka hafal merek produk berkelas dan menjadi pembelanja produktif untuk produk industri hiburan, komunikasi, fashion, elektronika, otomotif, kuliner junkfood, rokok. Bahkan narkotika dan psikotropika.

 

Dahsyatnya, mereka memiliki  seloka yang hampir sama antara satu dengan lainnya: ‘’ketika muda senang belanja, hidup senang karena suka belanja, dan foya-foya menikmati hasil belanja. Setelah tua meninggal dunia, dan masuk surga!’’.

 

Sikap hidup pragmatis seperti terungkap di atas jika diulik lagi, sejatinya merupakan konsep kapitalisme global.

 

Atas dasar itu, para penggiat kapitalisme pun mendedahkan sesanti: ‘’karena aku membeli maka aku ada’’. Agar aku senantiasa ada dan diakui keberadaannya, maka aku harus selalu membeli dan mengonsumsi berbagai produk kapitalisme. 

        

Bagaimana caranya menjadi modern dalam konteks membeli dan mengonsumsi? Jangan khawatir bos, tim sukses kapitalisme sudah menciptakan mesin hasrat kebutuhan yang hanya bisa dipuaskan manakala bersedia menjadi konsumen loyal.

 

Sebagai hadiahnya, mereka dibaptis menjadi manusia modern dengan atribut status sosial menengah atas. Kalau ingin menaikkan derajat martabatnya menjadi kaum jetset dan the have, konsumen loyal diminta juga menaikkan tensi konsumsi dan gaya hidupnya lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya. Semakin tinggi status sosialnya, semakin tinggi pula cengkeraman gurita kapitalisme yang dalam perkembangannya berhak menentukan hidup dan kehidupan para korbannya.

 

Terkait dengan wacana kebutuhan yang didengungkan para pendekar kapitalisme, jika dikaji secara mendalam, sesungguhnya hal itu merupakan modus penjajahan baru. Akibatnya lebih mengerikan dari Perang Dunia I dan II.

 

Kenapa mengerikan? Karena manusia yang masuk perangkapnya, seluruh organ dan jaringan tubuhnya diseragamkan lewat sebuah mantra sihir: ‘’karena aku membeli maka aku ada’’.  

   

Lebih mengerikan lagi, otak dan pikirannya menjadi tumpul untuk mencipta dan menggali ide kreatif nan brilian. Otak dan pikirannya pun menjadi mengkerut akibat dicekoki kebutuhan semu yang harus dipenuhi demi memuaskan libido gaya hidup modern. Dengan demikian seluruh energinya dipersembahkan demi kejayaan dan kemakmuran kerajaan kapitalisme. Dampaknya, mereka menjadi manusia mandul dalam konteks daya cipta, rasa, dan karsa. Padahal ketiga daya tersebut  merupakan ciri pembeda antara manusia dengan makhluk lain ciptaan Tuhan YME. 

 

Tipisnya mentalitas anggota keluarga rumah tangga modern yang terjebak pada kehidupan realitas semu ini ditengarai karena proses pendidikan yang mereka tekuni tidak terkait dengan usaha pengembangan intelektualitas, kebijaksanaan, dan moralitas. Padahal sejatinya, pendidikan adalah manifestasi dari upaya peningkatan kepribadian, akhlak, budi pekerti, dan budaya dalam arti sistem nilai yang meluas melebar.

 

Sikap hidup untuk belajar dalam arti yang sebenarnya semakin luntur di tengah masyarakat yang sedang diterpa virus kehidupan realitas semu. Kegiatan belajar mengajar tidak dipandang sebagai proses pengembangan diri melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menyikapi pendidikan formal hanya sekadar ekskalator sosial yang dapat  menjembatani dirinya agar meraih status sosial terhormat dan gemilang. Mereka menyukai kemasan pikiran yang seragam. Dampaknya, nalar kreatif pun ditenggelamkan budaya instan yang mengedepankan gaya hidup konsumtivisme, hedonisme, dan materialistis.

 

Karena hasrat menjadi modern sangat menggebu akibat rangsangan tayangan produk tontonan dan hiburan yang diternakkan lewat media massa cetak dan elektronik, maka yang terjadi kemudian kearifan lokal yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa urip sak madya (hidup sederhana), urip prasaja (hidup bersahaja), gemi, setiti, lan ngati-ati (hemat, cermat, dan hati-hati) seakan menjadi fosil purbakala yang berserakan. Kearifan lokal muatan ajarannya sangat modern justru dicampakkan begitu saja tanpa ada yang mau memahami dan menggunakannya menjadi bagian dari way of life bagi hidup dan kehidupan kita.

 

 *)Sumbo Tinarbuko (http://sumbo.wordpress.com/) adalah Esais dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

 

 

 

 


About this entry