(Rubrik Ruang Publik Radar Jogja) Konversi Elpiji dalam Perspektif Komunikasi Visual


Oleh Sumbo Tinarbuko

Sejak 2007, pemerintah sudah menjalankan program penggunaan gas elpiji. Kebijakan tersebut dicanangkan pemerintah sebagai ganti atas pemanfaatan minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil. Hingga hari ini program konversi gas elpiji tersebut banyak diikuti warga masyarakat.

Meski program tersebut diklaim pemerintah berhasil memindahkan bahan bakar minyak tanah bersalin ke gas elpiji untuk kebutuhan rumah tangga, namun belakangan ini banyak warga masyarakat merasa khawatir dengan banyaknya tabung gas yang meledak, selain harga jualnya yang mulai membumbung tinggi.

Kekhawatiran warga masyarakat akan ‘teror’ tabung gas  ini menjadi masalah nasional yang merusak citra keberhasilan program konversi gas elpiji. Di beberapa tempat yang penduduknya menggunakan gas elpiji tabung hijau 3 kg banyak ditemukan ledakan mematikan akibat dari tabung gas meledak. Korbannya warga masyarakat miskin yang ‘dipaksa’ untuk mengganti minyak tanah menjadi gas elpiji tatkala menanak nasi dan memasak sayur untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-harinya.

Dari sisi konsep, kebijakan tersebut 100 persen benar. Sayangnya, dari sudut operasional pelaksaannya kurang tepat. Kenapa dianggap kurang tepat? Karena sedari awal kebijakan tersebut dibuat, pemerintah melupakan aspek edukasi dan sosialisasi penggunaan gas elpiji yang aman bagi masyarakat.

Berbagai program komunikasi visual yang dibuat pemerintah lebih banyak berbicara perihal pentingnya konversi minyak tanah ke gas elpiji. Di dalam iklan layanan masyarakat (ILM) versi pemerintah cenderung memvisualkan berbagai keuntungan yang dapat diperoleh masyarakat ketika menggunakan gas elpiji. Tersebutlah di dalam ILM  konversi minyak tanah ke gas elpiji, selain hemat, ditanggung bersih, praktis, efektif, murah, dan aman.

Pertanyaannya, ketika ILM tersebut seolah-olah menjamin pengguna gas elpiji atas keadaan aman, bersih, murah, praktis, efektif, dan hemat, kenapa tidak lama kemudian muncul tragedi konversi gas elpiji?

Dalam tragedi tersebut ditemukan gas elpiji tabung hijau kemasan 3 kg, bocor! Kebocoran itu menyebabkan ledakkan yang memorakporandakan tempat tinggal rakyat yang menggunakannya. Atas kejadian itu, banyak warga masyarakat menjadi korban ‘teror’ gas elpiji meregang nyawa. Tidak sedikit pula yang babak bundhas menderita luka bakar akibat ledakan dahsyat gas si tabung hijau yang berdentam di dapur rakyat jelata.

Ketidaktepatan lainnya, pemerintah dalam tayangan ILMnya sejak awal kurang menyosialisasikan kepada masyarakat tentang aspek keselamatan dan jaminan rasa aman atas penggunaan gas elpiji untuk kepentingan rumah tangga.

Saat itu, pemerintah terkesan terburu-buru menerapkan kebijakkan tersebut karena dihantui melambungnya harga minyak di pasaran dunia. Sementara itu di ranah publik tercatat penyediaan tabung, slang, regulator, dan kompor, sebagian besar kurang memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) atas produk tabung gas berikut perlengkapannya.

Setelah ‘teror’ tabung gas elpiji meledak di mana-mana, baru  belakangan pemerintah mengeluarkan kebijakan guna meredam ledakan tabung gas elpiji dengan menghimbau masyarakat untuk mencari tabung, regulator, dan selang yang memiliki label SNI. Toh semuanya itu tidak dengan serta merta menyelesaikan masalah. Pada titik ini, masyarakat belum sepenuhnya memiliki pemahamaman komprehensif atas penggunaan gas elpiji serta minim pengetahuannya perihal pemakaian gas elpiji yang aman bagi dirinya sekeluarga. Padahal, berkat ‘keberhasilan’ program konversi bagi rakyat, sekarang gas elpiji  menjadi elemen utama dalam menjalankan aktivitas masak memasak di dapur rumah tangga maupun di warung makan.

Jangan Anggap Enteng Komunikasi Visual

Silang sekarut masalah konversi gas elpiji berikut ‘teror’ tabungnya, sebenarnya dapat dieliminir manakala pemerintah tidak menganggap enteng masalah komunikasi visual untuk menyosialisasikan jaminan rasa aman dalam program konversi gas elpiji dari berbagai sudut pandang.

Sosialisasi program konversi gas elpiji harus terus menerus dilakukan guna menyampaikan informasi ke dalam benak masyarakat perihal manfaat positif atas penggunaan gas elpiji bagi rumah tangga. Sampai kapan hal itu harus dilakukan?  Sampai semuanya menjadi sebuah gaya hidup  baru atas objek yang bernama gas elpiji.

Cukupkah itu? Belum cukup! Harus diupayakan  sampai masyarakat benar-benar memahami cara menggunakan gas elpiji yang aman. Dan yang lebih penting lagi, sampai tidak ditemukan lagi korban manusia akibat ledakan tabung gas elpiji di dapur warga masyarakat.

Ketika menyosialisasikan program konversi gas elpiji, tidak ada salahnya  menggunakan pendekatan teori komunikasi visual. Dalam teori komunikasi visual (Tinarbuko, 2008:89), mensyaratkan unsur pesan verbal dan pesan visual yang disampaikan harus memperhatikan siapa khalayak sasaran yang dituju. Selain itu,  melalui media komunikasi visual apa sajakah pesan verbal dan pesan visual tersebut sebaiknya disampaikan. Karena itu, untuk membuat komunikasi visual menjadi efektif, harus dipahami betul siapa khalayak sasarannya, secara kuantitatif maupun kualitatif.

Pada konteks ini, ketika pemerintah membuat ILM konversi gas elpiji terkesan bergumam alias omong sendiri. Hal itu terlihat misalnya pada ILM yang dibuat sekitar 2007 versi ‘Warteg Ibu Elpija’, ‘Gas Elpiji Dik Doang’, Pertamina dan Pedagang Keliling’.

ILM tersebut lebih banyak membincangkan keunggulan manakala menggunakan gas elpiji terutama dari aspek hemat, praktis, dan aman. ILM tersebut meski menggunakan model seolah-olah warga masyarakat, tetapi secara visual terlihat kalau tidak sedang berkomunikasi pada target sasarannya, yakni masyarakat status sosial menengah ke bawah.

Kenapa pemerintah dinilai sedang bergumam lewat ILM konversi gas elpiji? Karena pemerintah terkesan sedang menyombongkan diri atas keberhasilannya  membantu masyarakat untuk menghemat bahan bakar rumah tangga. Dalam konteks ini, kata ‘hemat dan murah’ sengaja ditekankan terus menerus lewat testimoni angka penghematan yang tersaji di ILM versi ‘Warteg Ibu Elpija’. Di sana disebutkan pengeluaran gas elpiji selama sebulan sebesar Rp. 118.000 sedangkan jika menggunakan minyak tanah mencapai 165 ribu rupiah. Perbandingan angka yang cukup signifikan itu terjadi dengan setting keadaan tahun 2007 saat ILM tersebut dibuat. Sekarang tentu angkanya berubah secara signifikan.

Karena terbuai pada kesuksesan membantu masyarakat untuk menghemat anggaran belanja bahan bakar rumah tangga warga masyarakat, pemerintah lupa mengkomunikasivisualkan aspek keamanan rasa aman dalam penggunaan gas elpiji di kalangan rumah tangga.

Padahal, jaminan rasa aman seharusnya melekat erat dalam kampanye komunikasi visual program konversi gas elpiji. Pada saat menyampaikan pesan verbal dan pesan visual terkait dengan konversi gas elpiji, pesan utama yang harus dibangun dan disampaikan kepada masyarakat adalah jaminan keamanan pada saat menggunakan gas elpiji untuk kepentingan rumah tangga. Baru kemudian menyebutkan keuntungan berikutnya: hemat, praktis, dan efektif.

ILM yang dibuat pun seyogianya lebih menekankan bagaimana caranya menggunakan gas elpiji yang aman. Bagaimana cara menempatkan tabung gas dan kompor gas. Bagaimana memasang slang, regulator di atas tabung gas. Bagaimana menghidupkan kompos gas.

Terhadap ILM semacam ini pesan verbal dan pesan visual perihal kehebatan program konversi gas elpiji yang ingin disampaikan oleh pemerintah menjadi mubasir. Artinya, pesan verbal dan pesan visual yang terkandung di dalam ILM sangat lambat untuk ditindaklanjuti oleh target sasaran. Bahkan ekstremnya, masyarakat tidak memahami maksud dari pesan tersebut.  Yang ada di benak masyarakat, ILM itu mengajak masyarakat untuk mengganti minyak tanah menjadi gas elpiji. Alasan yang disampaikan pemerintah lewat ILM: menggunakan gas elpiji lebih hemat, bersih, murah, dan aman.

Sayangnya muatan pesan verbal dan pesan  visual  yang dituangkan di dalam ILM konversi gas elpiji terlalu banyak. Secara visual, desain ILM yang disajikan pun menjadi kurang elok, kurang cerdas, tidak komunikatif, dan terkesan menggurui. Akibatnya masyarakat luas yang diposisikan sebagai target sasaran dari ILM tersebut menganggap ILM konversi gas elpiji tidak ditujukan kepada kalangan masyarakat pengguna gas elpiji.

Melihat kenyataan pahit semacam itu, pemerintah kemudian menayangkan ILM versi ‘Gunakan Elpiji yang Baik dan Benar (2010)’. Meski oleh beberapa kalangan dinilai terlambat, tetapi hasrat menyosialisasikan program konversi gas elpiji lewat ajakan menggunakan gas elpiji dengan baik dan benar adalah upaya konkret dari pemerintah untuk memberangus ‘teror’ tabung gas elpiji. Semoga langkah ini berhasil dengan baik.

*)Sumbo Tinarbuko (http://sumbo.wordpress.com/), Pengamat Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual Program Pascasarjana ISI Yogyakarta. Artikel ini dimuat di Rubrik Ruang Publik harian Radar Jogja, Kamis Wage, 10 Februari 2011.

~ oleh sumbo pada 10 Februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.