<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sumbo Tinarbuko</title>
	<atom:link href="http://sumbo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sumbo.wordpress.com</link>
	<description>Desain Komunikasi Visual</description>
	<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:41:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Komunikasi Cinta</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/komunikasi-cinta/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/komunikasi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:41:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sumbo Tinarbuko
 
 
Dalam kondisi yang serba sulit seperti sekarang ini, semua pihak mengaku dirinya pada posisi yang paling benar. Setiap individu, baik secara pribadi, kelompok, atau pun golongan senantiasa mengatasnamakan pikiran dan tindakannya berkonotasi baik dan benar. Sementara kebaikan dan kebenarannya itu katanya semata-mata diabdikan demi kemaslahatan seluruh umat.
 
Karena merasa dirinya telah mengambil keputusan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dalam kondisi yang serba sulit seperti sekarang ini, semua pihak mengaku dirinya pada posisi yang paling benar. Setiap individu, baik secara pribadi, kelompok, atau pun golongan senantiasa mengatasnamakan pikiran dan tindakannya berkonotasi baik dan benar. Sementara kebaikan dan kebenarannya itu katanya semata-mata diabdikan demi kemaslahatan seluruh umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Karena merasa dirinya telah mengambil keputusan yang benar demi kesejahteraan seluruh masyarakat, maka pemerintah dengan retorika politiknya berpandangan<span>  </span>perlu menaikkan harga BBM. Kenapa perlu dinaikkan?<span>  </span>Alasan politik pembenarannya, jika tidak dinaikkan maka APBN akan jeblok. Alasan berikutnya yang seolah-olah membuat miris rakyat: seandainya harga BBM tidak disesuaikan, Indonesia bakalan bangkrut karena subsidi minyak untuk rakyat akan membengkak. Alasan pembenaran lainnya, agar rakyat tidak menderita akibat kenaikan BBM, digelontorkan sejumlah uang tujangan kemiskinan yang popular dengan singkatan BLT. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sudah menjadi sebuah hukum sebab akibat yang sulit dipatahkan asal muasalnya manakala pemerintah menaikkan harga BBM, maka semua aktivitas kehidupan yang digerakkan oleh mesin berbahan bakar minyak, tega tidak tega harus menaikkan biaya operasionalnya. Yang sudah terlihat di pelupuk mata adalah seluruh komponen moda transportasi bermesin yang beroperasi di darat, laut dan sungai, maupun maskapai udara mengubah harga tiketnya menuju besaran angka rupiah yang lebih tinggi dari sebelumnya. Alasan pembenarannya, karena harga BBM dinaikkan pemerintah maka ongkos operasional armada juga menjadi besar. Lalu siapa yang menanggungnya? Ya pasti pengguna jasa transportasi. Siapakah mereka? Ya pasti rakyatlah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kalau ongkos transportasi menyesuaikan dengan kenaikkan harga BBM maka berbagai komoditi (: hasil pertanian, perkebunan, peternakan, berbagai industri rumah tangga, dll) juga akan berbenah diri. Alasan pembenarannya<span>  </span>yang paling rasional adalah berganti harga supaya tidak rugi. Lalu siapa yang menanggungnya? Ya pasti rakyatlah! Siapa lagi kalau bukan rakyat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pada dasarnya, rakyat selalu menaruh kepercayaan penuh kepada kinerja para pemimpin bangsa. Pada galibnya, rakyat selalu rela berkorban demi menyukseskan program pemerintah yang konon kabarnya didedikasikan untuk kesejahteraan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Cuma sayangnya pemerintah tidak pernah mau memahami kondisi sosial, budaya, dan ekonomi rakyat yang dipimpinnya. Pemerintah dalam setiap kali melakukan sosialisasi program kerjanya lebih banyak terkesan bergumam, alias berbicara dengan dirinya sendiri. Pemerintah terkesan bergumam ketika memutuskan peserta didik dari tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK untuk mengakhiri pendidikannya harus menempuh UAN. Pemerintah terkesan bergumam ketika memutuskan program sertifikasi untuk guru dan dosen. Pemerintah terkesan bergumam ketika harga kebutuhan pokok rumah tangga meroket. Pemerintah terkesan bergumam ketika harga pupuk meningkat sementara hasil produksi pertanian dan perkebunan anjlok di pasar bebas. Pemerintah terkesan bergumam ketika jumlah pengangguran, angka kemiskinan, dan penderita gizi buruk meningkat tajam. Pemerintah terkesan bergumam ketika korupsi semakin merajalela yang melibatkan pejabat pemerintah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Mengapa pemerintah setiap kali mengambil langkah kebijaksanaan terkesan bergumam? Karena para pemimpin bangsa lebih senang mendengarkan suara pembisik yang ada di sekelilingnya, maka bahasa komunikasi yang dilontarkannya pun jauh dari bahasa komunikasi cinta yang diharapkan oleh masyarakat. Pemerintah selalu mengedepankan bahasa komunikasi instruksi. Pemerintah senantiasa mengkomunikasikan segala macam kebijakan dengan menggunakan ukuran dirinya atau kelompok massa pendukungnya yang jumlahnya relatif lebih kecil dari pada seluruh rakyat yang dipimpinnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Komunikasi cinta sebenarnya sebuah proses komunikasi yang dilakukan seorang komunikator untuk menyampaikan pesan lewat media komunikasi<span>  </span>kepada komunikan dengan mengedepankan aspek cinta kasih. Yang membedakan proses komunikasi cinta dengan komunikasi nircinta adalah aksentuasi untuk menyampaikan pesan verbal ataupun visual dengan mengedepankan bahasa kalbu yang kamusnya bermukim di dalam hati sanubari insan manusia yang memposisikan dirinya sebagai seorang komunikator. Bahasa kalbu yang menjadi ujung tombak komunikasi cinta ini mampu menggerakkan getar-getar syaraf kalbu dari para komunikan yang menerima pesan lewat frekuensi komunikasi cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika proses komunikasi cinta dijalankan, semuanya terasa penuh kesepahaman yang menyejukkan, indah, dan damai. Meski secara geografis berjauhan dipisahkan ruang dan waktu berbeda, maka saat melakukan proses komunikasi cinta, hati dan pikiran parapihak serasa berdekatan, bahkan dengan berbisik pun maksud pesan yang ingin disampaikan langsung cespleng menggerakkan hati dan pikiran si penerima pesan komunikasi cinta tersebut untuk selanjutnya mengatakan, ‘’Ya, saya sependapat dengan pemikiran dan langkah kebijaksanaanmu’’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Lewat komunikasi cinta, maka apa yang digagas pemerintah dan akan diputuskan menjadi sebuah kebijaksanaan yang menyangkut harkat dan martabat masyarakat luas akan diterima secara legowo dan bersedia menanggung renteng ekses positif dan negatif secara damai pula. Dalam konteks ini, rakyat harus diposisikan bagaikan seorang kekasih hati yang bersedia mendampingi dalam situasi suka atau pun duka. Pemerintah jangan hanya melibatkan rakyat ketika pemerintah dalam suasana hati sedang berduka dan bingung karena berbagai tekanan pihak asing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Komunikasi cinta menyaratkan pemerintah sebagai komunikator harus mampu menggunakan bahasa cinta kepada rakyat yang diayominya. Selain itu lewat komunikasi cinta pemerintah harus mampu melakukan berbagai upaya kreatif guna mencari solusi yang membahagiakan semua pihak dalam mengatasi kehidupan yang sangat sulit ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jika hal itu berhasil dilakukan pemerintah maka rakyat akan tersenyum bahagia. Rakyat merasa diayomi. Rakyat merasa dilindungi. Rakyat merasa harkat dan martabatnya untuk hidup dan berkehidupan secara aman dan nyaman mendapatkan surganya sesuai dengan talenta masing-masing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">*)Sumbo Tinarbuko (<a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></a>) adalah Pegiat Studi Kebudayaan dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Sekarang Kandidat Doktor FIB UGM.</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=118&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/komunikasi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zonasi Pariwisata Kota Jogja (#1)</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/zonasi-pariwisata-kota-jogja-1/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/zonasi-pariwisata-kota-jogja-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel DKV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sumbo Tinarbuko
 
 
Tahun 2008 ini, Pemkot Jogjakarta membuat gebrakan baru dengan mencanangkan tema pembangunan Jogjakarta kota pariwisata berbasis budaya. Gebrakan dan repositioning Jogjakarta sebagai kota pariwisata berbasis budaya layak diacungi dua ibu jari. Perlu disengkuyung dan disikapi semangat proaktif masyarakat luas yang mengaku memiliki  serta mencintai Jogjakarta.
 
Sejatinya, tanpa konsep repositioning pun, kota Jogjakarta sudah dipatenkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Tahun 2008 ini, Pemkot </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> membuat gebrakan baru dengan mencanangkan tema pembangunan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> kota pariwisata berbasis budaya. Gebrakan dan repositioning </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> sebagai kota pariwisata berbasis budaya layak diacungi dua ibu jari. Perlu disengkuyung </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">dan disikapi semangat proaktif </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">masyarakat luas yang mengaku memiliki<span>  </span>serta mencintai </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sejatinya, tanpa konsep repositioning pun, kota </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> sudah dipatenkan sebagai kota pariwisata dan pendidikan. Menjadi kota pariwisata karena peninggalan bangunan heritage, kuliner, kesenian, dan adat istiadat yang adiluhung mahakarya nenek moyang Ngajogjakarta Hadiningrat. Sedangkan sebagai kota pendidikan disebabkan oleh hadirnya lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi telah teruji oleh ruang dan waktu yang berhasil menghantarkan peserta didiknya menjadi seorang intelektual Indonesia tulen yang religius, humanis, berbudaya, dan bermartabat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pertanyaannya kemudian, repositioning </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> sebagai kota pariwisata berbasis budaya macam apa yang dimaksudkan dalam konteks ini? Apakah embel- embel kata budaya selanjutnya diartikan sebagai objek wisata yang mengedepankan sejumlah atraksi kesenian tradisional yang dipadatkan penyajiannya sebagai unggulan daya tarik wisata? Atau para pelaku pariwisata diwajibkan menggenakan busana tradisional </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> yang terdiri dari jarik, kebaya, surjan, dan blangkon? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Lalu bagaimana dengan kondisi penyajian objek wisata itu sendiri? Kumuh, kotor penuh coretan grafiti liar, ala kadarnya, bersih, unik, menarik, menawan? Bagaimana pula dengan pola pelayanan dan citra kenyamanan yang didedikasikan kepada para wisatawan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sudah siapkah Pemkot </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> menyediakan sarana prasarana, SDM, dan lingkungan yang menunjang keberadaan objek wisata tersebut? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Terlepas dari berbagai pertanyaan di atas, seyogianya sebelum mencanangkan kembali </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> sebagai kota pariwisata berbasis budaya, terlebih dulu perlu mempersiapkan berbagai objek wisata di seantero kota </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> lengkap dengan sarana prasarana yang memadai, nyaman, aman, <em>ngangeni</em>, dan unik khas </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Langkah yang dilakukan: membuat zonasi atas objek wisata yang ada di </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">. Zona satu, terdiri dari: wisata pendidikan dan konferensi, wisata kuliner sajian beragam jenis makanan khas </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> dan sekitarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Wisata belanja di sepanjang jalan Solo, Malioboro, pasar Beringharjo pasar Ngasem, dan pasar klithikan Kuncen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Wisata heritage yang terdiri dari bangunan peninggalan arsitek Portugis, Belanda yang masih berdiri megah hingga sekarang seperti: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman lengkap dengan Alun-alun, ndalem pangeran Jeron Beteng, Tamansari, museum Sonobuyo, museum kereta kuda, dan arsitektur Masjid Agung yang unik dan indah. Selain itu juga bangunan heritage peninggalan Belanda seperti: Gedung Agung, Societet, Beteng Vredenburg, Kantor Pos, Bank Indonesia, Bank BNI, Ngejaman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Serta wisata seni rupa, seni pertunjukan tradisional dan kontempoter dilengkapi museum, galeri, ruang pamer, gedung pertunjukkan dengan dukungan kreativitas seniman yang berjibun jumlahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Zona dua, wisata sejarah, dan wisata religius. Semuanya itu bisa didapatkan di daerah<span>  </span>Kotagede dan sekitarnya. Di sana berbagai bangunan kuno dan makam leluhur peninggalan kerajaan Mataram pertama, cenderamata perak dan kuningan, pasar dan makanan tradisional, kesenian tradisional, kendaraan tradisional tanpa mesin. Dapat pula ditambahkan kebun binatang Gembiraloka dengan koleksi lengkap berbagai binatang dan tumbuhan langka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Konsep zonasi objek wisata ini akan menjadi pedoman dalam mempromosikan objek wisata kepada masyarakat luas lewat berbagai media komunikasi visual dan memudahkan pelaku pariwisata untuk mengagendakan berbagai atraksi unggulan di setiap zonasi objek wisata kota </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">. Dengan demikian, para wisatawan akan tersebar ke berbagai objek wisata sesuai dengan minatnya masing-masing tanpa harus menumpuk dan terkonsetrasi di kawasan Malioboro yang dari hari ke hari selalu dirundung kemacetan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Zonasi objek wisata semacam itu menjadi penting bagi wisatawan yang akan mengunjungi kota </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">. Dengan zonasi objek wisata seperti itu lebih memudahkan wisatawan untuk mengunjungi objek wisata di </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> sesampainya mereka turun dari kereta api, pesawat terbang, bus pariwisata, atau kendaraan pribadi. Mereka tidak akan kebingungan karena memiliki panduan dalam bentuk buku objek wisata kota </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> atau denah lokasi, sistem pertandaan yang dengan cermat dan unik akan memandu wisatawan menuju objek wisata yang diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">*)Sumbo Tinarbuko (<a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></a>) Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Sekarang Kandidat Doktor FIB UGM. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="PT-BR"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=117&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/zonasi-pariwisata-kota-jogja-1/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Identitas Visual Pariwisata Kota (#2)</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/identitas-visual-pariwisata-kota-2/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/identitas-visual-pariwisata-kota-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel DKV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Sumbo Tinarbuko
 
Setelah zonasi objek wisata ditentukan, sekarang gilirannya memanjakan para pelancong dengan menyuguhkan identitas visual yang representatif sebagai pengeling-eling pernah mengunjungi objek pariwisata kota Jogjakarta. 
 
Dalam konteks ini, sejatinya para pelancong sangat memerlukan media  informasi  yang menggunakan simbol-simbol desain grafis dalam menggambarkan posisi suatu tempat, arah menuju ke obyek wisata, petunjuk atau instruksi tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Setelah zonasi objek wisata ditentukan, sekarang gilirannya memanjakan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">para pelancong dengan menyuguhkan identitas visual yang representatif sebagai <em>pengeling-eling</em> pernah mengunjungi objek pariwisata kota Jogjakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Dalam konteks ini, sejatinya para pelancong sangat memerlukan m</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">edia<span>  </span>informasi<span>  </span>yang menggunakan simbol-simbol desain grafis dalam menggambarkan posisi suatu tempat, arah menuju ke obyek wisata, petunjuk atau instruksi tentang suatu agenda acara. Para wisatawan itu memerlukan misalnya: peta lokasi keberadaan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">potensi kultural Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"><span>  </span>lengkap dengan sign system yang unik dan artistik agar mampu menuntun mereka menuju lokasi yang diinginkan. Serta memberikan pemahaman yang komprehensif terkait dengan obyek wisata tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Melihat kebutuhan identitas visual dan infografis lingkungan<span>  </span>semacam itu, sudah selayaknya Pemkot Jogjakarta memelopori pembuatan identitas visual, sistem pertandaan yang terintegrasi antarlokasi wisata yang ada di<span>  </span>seantero Jogjakarta. Sebab dengan adanya identitas visual, dan sistem pertandaan yang dirancang secara terpadu akan meningkatkan citra Jogjakarta sebagai sebuah kota yang memiliki keunikan objek pariwisata berbasis budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Desain sistem pertandaan yang dibutuhkan untuk mewujudkan identitas visual<span>  </span>kawasan wisata Jogjakarta adalah desain grafis lingkungan dan infografis berwujud tanda-tanda komunikasi visual yang komunikatif.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Masing-masing unsur<span>  </span>tersebut, baik teks verbal ataupun citra visual dihubungkan sedemikian rupa<span>  </span>dengan<span>  </span>memanfaatkan konsep Gestalt (sosok, latar, bentuk positif dan negatif) yang dikemas secara dekoratif dengan ramuan komposisi, ritme dan kontras yang senantiasa terjaga keseimbangannya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Kesadaran Pelaku Pariwisata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Konsentrasi berikutnya adalah mempersiapkan, menata, dan mendidik SDM pelaku pariwisata, pejabat publik, dan masyarakat luas agar memiliki kesadaran akan pentingnya dunia pariwisata bagi kota </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> dengan mengedepankan aspek <em>handarbeni</em> dan <em>nguri-uri</em> aset objek wisata tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Wujud nyata yang dapat segera diejawantahkan salah satunya dengan memberikan jaminan kepada wisatawan untuk mendapatkan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">kemudahan dalam hal sirkulasi keluar-masuk objek wisata, rasa aman dan nyaman, serta menemukan suasana khas yang bersifat rekreatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Selain itu perlu pula dilakukan penataan rute jalan wisata yang nyaman, kendaraan bermesin ataupun tidak yang dirancang khusus untuk mengangkut wisatawan keliling Yogyakarta, <em>street furniture </em><span>di ruang publik sebagai wahana melepas lelah</span>, tempat parkir yang tertata rapi, membunuh premanisme juru parkir nakal,<span>  </span>membersihkan sampah, menata PKL dan taman kota lengkap dengan patung-patung kota yang dapat menimbulkan kesan indah, bersih, nyaman, dan <em>ngangeni. </em></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">Semuanya itu </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">sangat didambakan wisatawan dalam rangka mendapatkan pengalaman dan kenangan khusus ketika mereka melancong di kawasan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">Kesadaran masyarakat luas,<span>  </span>pejabat publik, dan SDM pelaku pariwisata perlu senantiasa ditumbuhkan dengan mengedepankan aspek budaya Jawa yang menjadi sokoguru bagi perkembangan emosi dan intelektualitas masyarakat </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">. Budaya Jawa mengajarkan kepada kita untuk bersedia melayani dan menolong siapa pun yang membutuhkan. Sabar, ramah tamah dan murah senyum. Memelihara dan menjaga lingkungannya agar senantiasa teduh, nyaman, aman, bersih, serta sehat. Senantiasa memelihara keberagaman dengan selalu memunculkan keunikan-keunikan khas masyarakat </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">Implementasi Identitas Visual Kota</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">Manakala implementasi konsep identitas visual kota Jogjakarta sudah <em>mangejawantah</em>, maka mewujudkan pariwisata Jogjakarta berbasis budaya dengan serta merta akan mulus menancap di dalam benak dan sanubari para pelancong yang mengunjungi Jogjakarta. Apalagi jika identitas visual kota pariwisata Jogjakarta ditambahkan dengan slogan: ’’Budaya Jogja, Jogja Kota Berbudaya’’ akan semakin memperjelas <em>positioning </em>kota Jogjakarta sebagai sebuah kota yang menghidupkan dan senantiasa menyandarkan hidupnya pada segala sesuatu yang berpondasikan warisan kebudayaan Kraton Ngajogjakarta Hadiningrat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">*)Sumbo Tinarbuko (</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="PT-BR"><a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span lang="DE"><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></span></a></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE">) Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Sekarang Kandidat Doktor FIB UGM. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=116&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/identitas-visual-pariwisata-kota-2/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pamer Lukisan dan Upaya Pemberdayaan Publikasi Pameran</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/pamer-lukisan-dan-upaya-pemberdayaan-publikasi-pameran/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/pamer-lukisan-dan-upaya-pemberdayaan-publikasi-pameran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel DKV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sumbo Tinarbuko
 
 
Melukis itu gampang, yang sulit bagaimana memasarkannya, demikian ungkapan  pelukis senior kepada penulis pada satu kesempatan menghadiri pembukaan sebuah pameran lukisan.
 
Jika kita simak kalimat sederhana yang dilontarkan perupa senior tadi, ternyata mempunyai makna yang sangat dalam. Artinya, setiap orang – apakah dia memiliki bakat, mempunyai latar belakang pendidikan seni rupa, atau hanya sekadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Melukis itu gampang, yang sulit bagaimana memasarkannya, demikian ungkapan<span>  </span>pelukis senior kepada penulis pada satu kesempatan menghadiri pembukaan sebuah pameran lukisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jika kita simak kalimat sederhana yang dilontarkan perupa senior tadi, ternyata mempunyai makna yang sangat dalam. Artinya, setiap orang – apakah dia memiliki bakat, mempunyai latar belakang pendidikan seni rupa, atau hanya sekadar coba-coba menekuni dunia seni rupa sebagai aktivitas yang menguntungkan – hukumnya menurut para pihak yang berwenang dengan hal itu dianggap sah. Dia bolah boleh saja jika ingin mengekspresikan dirinya lewat garis, warna, bentuk, tekstur dan elemen-elemen seni rupa lainnya yang dikemas dalam sebuah objek kasat mata, kemudian divisualkan di atas kanvas, kertas, atau medium lain yang selanjutnya disebut dengan gambar, lukisan, grafis, patung, instalasi, <em>conceptual art</em> dan bentuk-bentuk visual lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Masalahnya kemudian, apa yang akan dilakukan setelah<span>  </span>karya visual tersebut selesai dikerjakan. Apakah setelah lukisan itu berjumlah banyak hanya ditumpuk begitu saja di sudut ruangan, dipasang di dinding rumah, diberikan kepada kawan, atau dipamerkan? Ketika pilihan akhir itu yang diputuskan, maka mau tidak mau komentar perupa senior seperti yang penulis paparkan di atas akan menjadi sebuah wacana yang menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Mengapa demikian? Karena harus jujur dikatakan, ketika karya visual tersebut digelar dan dipamerkan kepada khalayak luas, maka harapan terakhir tidak hanya sekadar sebagai medium apresiasi seni rupa<span>  </span>yang dikonsumsi oleh masyarakat luas secara gratis. Tetapi yang lebih penting dari itu, bagaimana caranya agar karya tersebut bisa dikoleksi secara ‘permanen’ oleh kolektor ataupun kolekdol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Fenomena seperti itu agaknya sudah mulai menjadi rahasia umum bagi berbagai kalangan yang terlibat di dalamnya. Sebab manakala karya tersebut berhasil dikoleksi bahkan diperebutkan oleh para kolektor atau pun kolekdol, maka <em>prestise</em>, gengsi dan reputasi dari perupa tersebut akan melambung, dan melangit. Dampaknya, harga nominal karya anggitannya menjadi lebih flamboyan dan selanjutnya secara finansial senantiasa menyejahterakan kehidupan pribadi dan menggairahkan pengembaraan kualitas kreativitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pertanyaannya kemudian, sudahkan para seniman berani secara eksplisit mempublikasikan dan mempromosikan karya-karya kreatif mereka dalam konteks bursa seni. Atau dengan kata lain beranikah para seniman tersebut mengemas anggitan mereka dalam paket-paket siap saji untuk dipresentasikan dalam perspektif komersial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika mempublikasikan dan mempromosikan itu yang dipikirkan di dalam benak mereka apakah hanya sukses menggelar pameran atau pementasan saja, lalu karyanya ditulis dan dikomentari oleh berbagai kalangan, baik wartawan budaya, kritikus, dan penulis seni, tetapi nihil dalam penjualan. Atau karya tersebut laris manis bagaikan pisang goreng yang dijual di kaki lima namun tanpa dukungan promosi dan publikasi yang memadai?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Apa pun pilihannya, para seniman harus mempunyai kesadaran berbagi rasa dengan mengeluarkan jurus komunikasi bisnis dan jurus pemasaran dalam memublikasikan karya mereka. Dalam konteks ini harus ada dekonstruksi <em>positioning</em> bahwa sebuah karya senirupa, seni pertunjukkan dan bentuk-bentuk kreativitas seni lain hasil anggitan para seniman tersebut secara sadar dilihat sebagai sebuah teks dan dibaca sebagai produk ‘dagang’ atau komoditi pasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Karena berupa produk dagang maka pemanfaatan aspek marketing komunikasi salah satunya berbentuk aktivitas periklanan merupakan sesuatu hal yang perlu disikapi secara serius. Sebab periklanan diyakini merupakan salah satu bentuk khusus komunikasi untuk memenuhi fungsi pemasaran. Agar dapat menjalankan fungsi pemasaran, maka yang dilakukan dalam kegiatan periklanan tentu saja lebih dari sekadar memberikan informasi kepada khalayak, akan tetapi periklanan harus mampu mengarahkan dan mempengaruhi konsumen agar mau membeli produk seni rupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sebelum melangkah ke sana, sang seniman musti menyadari produk kreativitas visual dan audio visual itu diposisikan di mana. Apakah karya tersebut dihasilkan oleh para seniman yang baru memasuki tataran dunia kreatif. Artinya masih berpredikat sebagai seniman pemula<span>  </span><em>(pionnering stage)</em> ataukah dia seorang seniman yang sedang naik daun karena kebetulan hasil ciptaannya sesuai dengan selera pasar, atau dia seorang seniman senior yang sedang mempertahankan reputasinya di dunia kesenian yang menggiurkan ini <em>(retentive stage).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kesadaran<span>  </span>menemukenali situasi dan kondisi produk anggitannya ini menjadi amat penting dalam konteks periklanan. Sebab pada dasarnya, <em>positioning</em> menurut Rhenald Kasali dalam bukunya berjuluk ‘’Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia’’ adalah suatu proses atau upaya<span>  </span>untuk menempatkan suatu produk, merek, atau apa saja dalam pikiran mereka yang dianggap sebagai sasaran atau konsumennya. Upaya semacam itu dianggap perlu karena situasi masyarakat atau pasar konsumen sudah <em>over communicated</em> (Kasali, l992:157)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Setelah kita mengetahui atau sengaja mengetahui <em>positioning</em> produk karya kita maka yang perlu dilakukan adalah memilih media periklanan yang tepat untuk mempromosikan dan mempublikasikan karya tersebut. Tidak bisa semua media cocok dan tepat sebagai media promosi. Sebab ada media yang <em>cespleng</em> dan efektif digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut. Sebaliknya ada juga yang tidak. Sesuai dengan kondratnya, karena pada dasarnya masing-masing media memiliki kekurangan dan kelebihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">*) <strong>Sumbo Tinarbuko</strong><span>  </span>(<a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></a>) Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Sekarang Kandidat Doktor FIB UGM. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/114/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/114/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=114&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/06/04/pamer-lukisan-dan-upaya-pemberdayaan-publikasi-pameran/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lokalitas Budaya Lokal dalam Desain Iklan</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/13/lokalitas-budaya-lokal-dalam-desain-iklan/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/13/lokalitas-budaya-lokal-dalam-desain-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 05:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel DKV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Sumbo Tinarbuko
’’Apakah mungkin budaya lokal mampu menjadi inspirasi iklan Indonesia?’’
’’Kalau pun mungkin, apakah tidak terlihat ndeso?’’
’’Kalau pun mungkin, bagaimana pula caranya?’’
’’Caranya gampang bos, alias mudah!’’
’’Konkretnya gimana, hayo?’’
’’Konkretnya?’’
’’Ya … pahamilah rakyat (konsumen), dan budaya lokal bangsa Indonesia. Dengan mengamati, mencermati, mempelajari, memahami, bergaul, bersahabat, dan menjadi Indonesia, maka untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi 100% iklan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="snap_preview">
<p>Oleh: Sumbo Tinarbuko</p>
<p><em>’’Apakah mungkin budaya lokal mampu menjadi inspirasi iklan Indonesia?’’</em></p>
<p>’’Kalau pun mungkin, apakah tidak terlihat ndeso?’’</p>
<p>’’Kalau pun mungkin, bagaimana pula caranya?’’</p>
<p>’’Caranya gampang bos, alias mudah!’’</p>
<p>’’Konkretnya gimana, hayo?’’</p>
<p>’’Konkretnya?’’</p>
<p>’’Ya … pahamilah rakyat (konsumen), dan budaya lokal bangsa Indonesia. Dengan mengamati, mencermati, mempelajari, memahami, bergaul, bersahabat, dan menjadi Indonesia, maka untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi 100% iklan Indonesia bukan perkara sulit. Gitu aja kok repot!’’</p>
<p>Berdasarkan dialog imajiner di atas, sejatinya dapat dipahami bahwa keberadaan iklan sangat lekat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Ia tak bisa lepas dari sejarah kehidupan umat manusia. Karena ia merupakan salah satu usaha manusia untuk meningkatkan kualitas hidup.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p>Terlihat model perempuan penari Bali yang sedang peye (payu: mendapat order menari) menarikan sebuah tarian Bali yang lemah gemulai dalam balutan gerak ritmis dinamis. Ketika ia sedang menari tari Bali, tiba-tiba suara radio panggil berbunyi dan secara otomatis sang penari menghentikan gerakan gemulainya. Pesan yang tertulis di radio panggil itu berbunyi: ’’Sampai ketemu di diskotek, Daniel’’.</p>
<p>Gambaran tersebut merupakan bentuk kreatif iklan televisi alat komunikasi berbentuk radio panggil yang cukup terkenal di era 90-an dengan mengangkat tari Bali yang eksotis sebagai visualisasi iklan radio panggil. Tari Bali sebagai bagian dari seni tradisional dimanfaatkan oleh tim kreatif iklan radio panggil sebagai penarik pandang kepada target sasarannya. Dalam konteks ini, seni tradisi (tari Bali) diposisikan sebagai sumber inspirasi untuk memasuki wilayah privat kehidupan target sasaran yang hendak dibidik.</p>
<p>Ingatkah Anda dengan tokoh Cepot dalam gagrak wayang Golek? Si Cepot yang dicasting lucu, secara visual semakin kocak ketika dimainkan oleh dalang kreatif Asep Sunarya. Kekocakan dan kelucuan si Cepot berikut dalangnya ‘’dieksploitasi’’ oleh tim kreatif iklan produk suplemen meningkatkan stamina tubuh dengan tagline yang terkenal saat itu: ’’lho, kok loyo!’’.</p>
<p>Iklan produk suplemen meningkatkan stamina tubuh ini dengan kesadaran penuh menampilkan karya seni tradisional dari Jawa Barat karena ingin menyelaraskan frekuensi antara personil wayang Golek si Cepot, dalang Asep Sunarya dengan target sasaran dari golongan status ekonomi sosial (SES) menengah ke bawah. Target sasaran menengah ke bawah ini kecenderungannya bekerja dengan memanfaatkan tenaga otot, untuk itu diperlukan sebuah produk suplemen untuk menambah dan menjaga stamina tubuh agar tetap bugar, bersemangat, dan kuat bertenaga. Menjaga agar tubuh target sasaran tidak cepat loyo, lemas, dan tidak bertenaga.</p>
<p>Hal senada dilakukan pula oleh produk penghilang sakit flu yang kondang dengan slogan berbunyi: ’’Oskadon Pancen Oye!’’. Iklan produk tersebut menggandeng ‘’dalang edan’’ dari Karangpandan Surakarta, Ki Manteb Sudarsono, untuk menjadi juru bicara atas keberadaan produk penghilang sakit flu.</p>
<p>Dalam konteks ini wayang kulit yang merupakan salah satu produk karya seni tradisional yang masih banyak memiliki pendukung dan penonton setia, dirangkul oleh produsen obat flu sebagai media komunikasi visual untuk menginformasikan keberadaan sebuah obat flu yang memiliki khasiat meredakan penyakit flu. Sedangkan, Ki Manteb Sudarsono sebagai dalang dipinjam ketokohannya dan dijadikan model iklan tersebut, karena, Ki Manteb Sudarsono dianggap sebagai representasi target sasaran yang rawan diserang penyakit flu akibat jenis pekerjaannya yang mengharuskan Ki Manteb Sudarsono untuk melekan, begadang sepanjang malam, dan melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain guna memainkan wayang kulit semalam suntuk.</p>
<p>Pernahkah Anda melihat tayangan cowboy penunggang kuda yang dijadikan model iklan rokok filter putih produksi Amerika yang terkenal itu? Sudahkan Anda menyaksikan iklan rokok filter putih yang menampilkan model seorang cowboy gagah menunggang kuda hitam menges-menges (hitam legam) sedang menggembalakan ribuan ternak yang menjadi tugasnya sehari-hari?</p>
<p>Ya. Pasti anda sering melihat atau terpaksa menyaksikan tayangan iklan tersebut di beberapa layar televisi swasta, billboard, poster, majalah, tabloid, dan surat kabar. Selain melihat, so pasti, Anda (terutama paraperokok) yang merasa sebagai pria macho gagah perkasa dengan suka rela menjadi konsumen loyal. Ketika Anda ingin menghisap rokok, kemudian membeli rokok tersebut, maka sukseslah tim kreatif ini memosisikan Anda sebagai konsumen loyal. Sebagai seorang pria perokok macho dan gagah perkasa yang setiap saat mengkonsumsi rokok tersebut. Citra pria macho gagah perkasa yang direpresentasikan lewat cowboy berhasil menancap dengan sukses di dalam benak (ingat konsep positioning: bagaimana upaya produsen dengan segenap jajarannya menancapkan merek ke dalam pikiran target sasarannya) konsumen.</p>
<p>Masih terkait dengan model cowboy yang macho gagah perkasa dan masih bersinggungan dengan rokok filter putih produksi Phillip Morris yang berhasil membeli lebih 70 persen saham PT HM Sampoerna ini. Ternyata ada cerita menarik terkait dengan kreatif iklan rokok filter putih produksi Phillip Morris.</p>
<p>Apa menariknya? Menariknya, iklan tersebut menampilkan kuda kepang atau kuda lumping. Dongengnya begini, untuk mendekatkan dan memperluas target sasaran, digagaslah sebuah kreatif iklan yang tetap menampilkan kuda sebagai citra visual atas keberadaan produk rokok tersebut. Namun atas nama budaya lokal, kuda dan cowboy diterjemahkan ke dalam kuda lumping atau kuda kepang lengkap dengan penarinya.</p>
<p>Visualisasi iklan rokok tersebut menghadirkan ratusan penari kuda lumping yang nyengkelit pecut (cambuk) dan menunggangi kuda kepang dalam kemasan tari kolosal kuda lumping yang diiringi gamelan komplit. Lokasi syuting mengambil tempat di Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.</p>
<p>Di dalam benak tim kreatif konsep dasar western dengan tampilan visual cowboy, kuda, dan ternak yang digembalakan didekonstruksi dan dibaca menjadi sesuatu yang universal. Artinya, tayangan kreatif iklan rokok putih versi cowboy sejatinya sama sebangun dengan iklan serial kuda kuda lumping. Perbedaannya hanya terletak pada objek yang digembalakan. Iklan gaya Amerika: cowboy menunggang kuda menggembalakan ternak yang hidup di padang luas. Sedangkan gaya Indonesia : ternak dan cowboy divisualkan dengan penampilan penari kuda lumping yang menunggang kuda kepang dalam tarian kuda lumping secara kolosal. Titik singgung dari dua kebudayaan yang berbeda itu terletak pada bagaimana menerjemahkan secara visual kata ‘’kuda’’. Pemahaman kata ‘’kuda’’ ini menjadi menarik dalam takaran kreatif periklanan. Hal itu selaras dengan peribahasa Jawa: ‘’desa mawa cara, negara mawa tata”.</p>
<p>Contoh kecil tersebut di atas menunjukkan pada kita, rakyat Indonesia, bahwa karya seni tradisional, baik berbentuk seni pertunjukkan maupun seni rupa sesungguhnya layak dijadikan nara sumber, rujukan, dan sumber inspirasi proses kreatif pembuatan karya desain iklan.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p>Paparan di atas menunjukkan pada kita, rakyat Indonesia, bahwa alam raya (gunung, bukit, gua, lautan, dataran tinggi, dataran rendah, danau, sungai), alam pedesaan yang eksotis (sawah, ladang, hutan, perkebunan), dan jejak-jejak kebudayaan peninggalan nenek moyang (arsitektur heritage, adat istiadat, beragam jenis upacara tradisional) layak dieksplorasi secara positif dan dikembangkan sesuai dengan zamannya.</p>
<p>Dengan memanfaatkan potensi budaya lokal dan kesenian tradisional sebagai sumber energi kreatif penciptaan karya desain iklan, maka keunikan yang dimunculkan dari lokalitas budaya lokal berikut masyarakat pendukungnya akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan jagat periklanan Indonesia. Selain itu, ketika parakreator dan desainer iklan Indonesia senantiasa mengedepankan lokalitas budaya lokal semakin membuncahkan ciri khas dan keunikan periklanan Indonesia. Dampak turunannya akan muncul gerakan periklanan Indonesia mengedepankan konsep kreatif dengan pendekatan budaya lokal yang berbudaya.</p>
<p>Sebab sejatinya, iklan dan proses periklanan merupakan salah satu perwujudan kebudayaan massa. Artinya, sebuah kebudayaan yang tidak hanya bertujuan menawarkan dan mempengaruhi calon konsumen untuk membeli barang atau jasa, tetapi turut juga mendedahkan nilai tertentu yang terpendam di dalamnya. Oleh karena itulah, iklan yang sehari-hari kita temukan di berbagai media massa cetak dan elektronik dapat dikatakan bersifat simbolik. Maknanya, iklan tersebut dapat menjadi simbol sejauh imaji yang ditampilkannya membentuk dan merefleksikan nilai hakiki.</p>
<p>Karena iklan mengemban tugas untuk menyampaikan pesan verbal maupun visual, maka keberadaannya senantiasa dikemas seartistik mungkin. Hal itu dilakukan agar menarik dan mampu membangkitkan rasa tertarik pada masing-masing pribadi, sehingga dapat menimbulkan stimulus dan reaksi untuk memberikan keputusan. Untuk itu, pesan verbal maupun visual yang ditampilkan dalam desain iklan dinyatakan dalam bahasa yang sederhana dan benar. Semua itu menjadi penting agar pesan-pesan tersebut mudah dimengerti oleh pembaca tanpa ada kesalahan interpretasi makna dari pesan tersebut.</p>
<p>Sebagai media komunikasi visual, maka keberadaan iklan menjadi media yang sangat efektif. Dengan demikian iklan mampu membawa masyarakat untuk berkomunikasi secara berbudaya dan dialogis, selanjutnya dimotivasi untuk melakukan suatu tindakan positif atas pengaruh komunikasi tersebut.</p>
<p>*)<a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#ffffff;">Sumbo Tinarbuko</span></a>, Konsultan Desain, Dosen Desain Komunikasi Visual dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.</p>
<p><em>Catatan:<br />
Artikel ini dipresentasikan di Jurusan Periklanan FISIP Undip Semarang tanggal 11 Mei 2008 dalam rangka memperbincangkan ’’Citarasa Lokal dalam Visual Iklan’’</em></p>
<p>•••</p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/113/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/113/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=113&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/13/lokalitas-budaya-lokal-dalam-desain-iklan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Realitas Semu</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/12/realitas-semu/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/12/realitas-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 06:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[
Sumbo Tinarbuko
 
 
 
Fenomena kehidupan realitas semu ditengarai telah menelikung sebagian besar masyarakat Indonesia. Kehidupan berdasarkan konstruksi konsep realitas semu dapat diputar rekamannya lewat berbagai serial sinetron tv dan tontonan seni pertunjukkan lainnya.
 
Dalam kehidupan realitas semu, mereka yang menjadi pemerannya ditakdirkan paritas alias sewarna. Dihadirkan sempurna. Selalu cantik, ganteng, dan kaya raya. Hidup dalam balutan panorama yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Fenomena kehidupan realitas semu ditengarai telah menelikung sebagian besar masyarakat Indonesia. Kehidupan berdasarkan konstruksi konsep realitas semu dapat diputar rekamannya lewat berbagai serial sinetron tv dan tontonan seni pertunjukkan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam kehidupan realitas semu, mereka yang menjadi pemerannya ditakdirkan paritas alias sewarna. Dihadirkan sempurna. Selalu cantik, ganteng, dan kaya raya. Hidup dalam balutan panorama yang membahagiakan, nyaman, dan tenteram bagaikan pasangan Adam Hawa yang bercengkerama di Taman Eden. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mereka ditakbiskan sangat berkecukupan karena memiliki berpuluh-puluh perusahaan yang difungsikan sebagai mesin penghasil uang. Segala barang dan jasa produk kapitalisme yang menjadi simbol modernitas selalu ada dalam genggaman tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Skenario dan setting kehidupan realitas semu yang mensyaratkan para pendukung kapitalisme mengedepankan egoisme dan individualisme merupakan hukum formal yang telah digariskan dan layak dipatuhi tanpa basa-basi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mereka dibiasakan berpikir instan, pragmatis, dan lebih senang bersiasat jangka pendek dengan menisbikan jalinan sebuah proses. Padahal kalau mau jujur, sebuah proses – apapun bentuk dan pengejawantahannya – sejatinya adalah pilihan wajib, bagi penandatangan kontrak hidup di jagat raya ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di dalam potret rumah tangga modern, misalnya, kehidupan realitas semu menampakkan wajah buruknya sebagai sublimasi orangtua yang tidak mampu mendampingi anaknya secara maksimal. Pasangan orangtua yang bekerja lebih 6 jam sehari cenderung mewujudkan kasih sayangnya lewat sikap permisif memenuhi seluruh permintaan anaknya atau memberikan uang saku berlebih.<span>  </span>Akibatnya, mereka menjadi pemuja uang dan harta duniawi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mereka sangat konsumtif membelanjakan uang hasil ‘’sogokkan’’ orangtuanya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mereka hafal merek produk berkelas </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">dan menjadi pembelanja produktif untuk produk industri hiburan, komunikasi, fashion, elektronika, otomotif, kuliner <em>junkfood</em>, rokok. Bahkan narkotika dan psikotropika.</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dahsyatnya, mereka memiliki<span>  </span>seloka yang hampir sama antara satu dengan lainnya: ‘’ketika muda senang belanja, hidup senang karena suka belanja, dan foya-foya menikmati hasil belanja. Setelah tua meninggal dunia, dan masuk surga!’’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sikap hidup pragmatis seperti terungkap di atas jika diulik lagi, sejatinya merupakan konsep kapitalisme global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Atas dasar itu, para penggiat kapitalisme pun mendedahkan sesanti: ‘’karena aku membeli maka aku ada’’. Agar aku senantiasa ada dan diakui keberadaannya, maka aku harus selalu membeli dan mengonsumsi berbagai produk kapitalisme.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>         </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bagaimana caranya menjadi modern dalam konteks membeli dan mengonsumsi? Jangan khawatir bos, tim sukses kapitalisme sudah menciptakan mesin hasrat kebutuhan yang hanya bisa dipuaskan manakala bersedia menjadi konsumen loyal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sebagai hadiahnya, mereka dibaptis menjadi manusia modern dengan atribut status sosial menengah atas. Kalau ingin menaikkan derajat martabatnya menjadi kaum <em>jetset</em> dan <em>the have</em>, konsumen loyal diminta juga menaikkan tensi konsumsi dan gaya hidupnya lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya. Semakin tinggi status sosialnya, semakin tinggi pula cengkeraman gurita kapitalisme yang dalam perkembangannya berhak menentukan hidup dan kehidupan para korbannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Terkait dengan wacana kebutuhan yang didengungkan para pendekar kapitalisme, jika dikaji secara mendalam, sesungguhnya hal itu merupakan modus penjajahan baru. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Akibatnya lebih mengerikan dari Perang Dunia I dan II. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kenapa mengerikan? Karena manusia yang masuk perangkapnya, seluruh organ dan jaringan tubuhnya diseragamkan lewat sebuah mantra sihir: ‘’karena aku membeli maka aku ada’’.<span>   </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>    </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lebih mengerikan lagi, otak dan pikirannya menjadi tumpul untuk mencipta dan menggali ide kreatif nan brilian. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Otak dan pikirannya pun menjadi mengkerut akibat dicekoki kebutuhan semu yang harus dipenuhi demi memuaskan libido gaya hidup modern. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan demikian seluruh energinya dipersembahkan demi kejayaan dan kemakmuran kerajaan kapitalisme. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dampaknya, mereka menjadi manusia mandul dalam konteks daya cipta, rasa, dan karsa. Padahal ketiga daya tersebut<span>  </span>merupakan ciri pembeda antara manusia dengan makhluk lain ciptaan Tuhan YME.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tipisnya mentalitas anggota keluarga rumah tangga modern yang terjebak pada kehidupan realitas semu ini ditengarai karena proses pendidikan yang mereka tekuni tidak terkait dengan usaha pengembangan intelektualitas, kebijaksanaan, dan moralitas. Padahal sejatinya, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">pendidikan adalah manifestasi dari upaya peningkatan kepribadian, akhlak, budi pekerti, dan budaya dalam arti sistem nilai yang meluas melebar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sikap hidup untuk belajar dalam arti yang sebenarnya semakin luntur di tengah masyarakat yang sedang diterpa virus kehidupan realitas semu. Kegiatan belajar mengajar tidak dipandang sebagai proses pengembangan diri melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menyikapi pendidikan formal hanya sekadar ekskalator sosial yang dapat<span>  </span>menjembatani dirinya agar meraih status sosial terhormat dan gemilang. Mereka menyukai kemasan pikiran yang seragam. Dampaknya, nalar kreatif pun ditenggelamkan </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">budaya instan yang</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> mengedepankan gaya hidup konsumtivisme, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">hedonisme, dan materialistis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Karena hasrat menjadi modern sangat menggebu akibat rangsangan tayangan produk tontonan dan hiburan yang diternakkan lewat media massa cetak dan elektronik, maka yang terjadi kemudian kearifan lokal yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa <em>urip sak madya</em> (hidup sederhana), <em>urip prasaja</em> (hidup bersahaja), <em>gemi, setiti, lan ngati-ati</em> (hemat, cermat, dan hati-hati) seakan menjadi fosil purbakala yang berserakan. Kearifan lokal muatan ajarannya sangat modern justru dicampakkan begitu saja tanpa ada yang mau memahami dan menggunakannya menjadi bagian dari <em>way of life</em> bagi hidup dan kehidupan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>*)Sumbo Tinarbuko (<a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></a>) adalah Esais dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/112/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/112/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=112&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/12/realitas-semu/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harga Kertas Melambung, Kebudayaan Sekarat!</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/12/harga-kertas-melambung-kebudayaan-sekarat/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/12/harga-kertas-melambung-kebudayaan-sekarat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 06:11:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sumbo Tinarbuko
 
 
 
Kolom Topik Kompas 26 April 2008 menuliskan informasi cukup fenomenal yang akan terjadi 1 Mei 2008.  Harian ini  mengangkat judul Topik: ’’Harga Kompas Naik’’. Di sana dituliskan, ’’naiknya harga bahan baku  dan ongkos produksi memaksa kami untuk menaikkan harga langganan  Kompas dan eceran per 1 Mei 2008. Harga langganan akan menjadi Rp. 78.000 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Kolom Topik Kompas 26 April 2008 menuliskan informasi cukup fenomenal yang akan terjadi 1 Mei 2008.  Harian ini<span>  </span>mengangkat judul Topik: ’’Harga Kompas Naik’’. Di sana dituliskan, ’’naiknya harga bahan baku<span>  </span>dan ongkos produksi memaksa kami untuk menaikkan harga langganan<span>  </span>Kompas dan eceran per 1 Mei 2008. Harga langganan akan menjadi Rp. 78.000 perbulan, sedangkan harga eceran menjadi Rp 3.500 dan berlaku di seluruh Indonesia. Semoga pembaca maklum’’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Sebulan sebelum Kompas berencana menaikkan harga jual eceran maupun langganan, harian Jawa Pos pada 1 April 2008 sudah terlebih dulu menaikkan harga jual produknya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ffffff;"><span style="font-size:10pt;">Pertanyaannya, kenapa kedua raksasa penerbitan media massa cetak tidak kuasa membendung air bah kenaikan harga kertas? Jawaban diplomatisnya dituliskan harian Kompas lewat kolom Tajuk Rencana berjuluk: ’’</span><span style="font-size:10pt;">Industri Ilmu Pengetahuan’’. Tajuk Rencana yang disiarkannya Sabtu 26 April 2008 memaparkan, ’’</span><span style="font-size:10pt;">naiknya harga kertas dan bubur kertas per 1 April 2008 mendorong penerbit buku dan koran atau majalah terpikir untuk menaikkan harga’’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ffffff;"><span style="font-size:10pt;">Dijelaskannya, asumsi </span><span style="font-size:10pt;">melambung</span><span style="font-size:10pt;">nya harga kertas, bubur kertas, dan </span><span style="font-size:10pt;">perangkat cetak mencetak seperti saat ini</span><span style="font-size:10pt;"> dikarenakan 60 persen dari biaya produksi buku, koran, dan majalah dialokasikan untuk membeli kertas. Hal itu yang menyebabkan penerbit menaikkan harga buku, koran dan majalah minimal 25 persen per eksemplar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Sekaratnya Kebudayaan </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Melambungnya harga kertas yang terjadi belakangan ini, ditengarai dapat mematikan perkembangan kebudayaan di negeri tercinta ini. Mengapa demikian? Karena kebudayaan adalah sistem nilai. Ketika ilmu pengetahuan dan seni diberi muatan nilai kebenaran yang hakiki, maka kebudayaan bukan hanya sekadar tampilan fisik semata. Keberadaannya justru menjadi kompas sekaligus bintang terang yang mampu menuntun dan membimbing kita menuju sebuah sumber kehidupan yang sejati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Sejauh kebudayaan diposisikan secara esensial sebagai sebuah sistem nilai yang hakiki, maka aspek formal dari kebudayaan itu dimanifestasikan dalam bentuk karya akal budi yang mampu mentransformasikan data, fakta, situasi, dan kejadian alam yang dihadapinya menjadi sebentuk nilai-nilai luhur bagi kemanusiaan seorang manusia. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Masalahnya sekarang, sehebat dan secanggih apapun prestasi kita dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni pada suatu kurun waktu tertentu, keberadaannya tidak bisa dicatat secara komprehensif karena kelangkaan kertas sebagai wahana menyimpan prestasi adiluhung tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Kertas dan kebudayaan bagaikan dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kertas, maka kita bisa mencatat dan sekaligus menyimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan untuk disosialisasikan kepada masyarakat luas dan kelak diwariskan kepada anak cucu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Jika krisis kertas ini makin mengkristal di lingkungan kita, maka efek samping dari tidak berproduksinya ratusan penerbit berbagai macam media massa cetak akan terasa manakala informasi, dan refleksi hasil olah nalar berbentuk ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu unsur kebudayaan, tidak lagi tercatat dalam buku, jurnal, majalah, atau pun koran. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Artinya, kita akan mendapatkan kesulitan melacak lintasan kemajuan dan jejaring estafet peradaban yang progresif. Dampaknya, aktivitas kebudayaan akan sekarat dan untuk selanjutnya perlahan-lahan mati dengan sukses. Dampak turunannya, kita sebagai bagian dari sebuah aktivitas kebudayaan menjadi kering, ahistoris, dan terasing. Kegiatan olah fisik, nalar pikir, dan nalar rasa <span> </span>seakan mati rasa. Hal itu ditengarai dengan munculnya prahara budaya instan, pragmatis, dan konsumtivisme. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Kertas Pencatat Kebudayaan </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Lalu bagaimana kita harus bersikap terhadap tanda-tanda zaman yang karut marut seperti ini? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Secara teoretis, kita berharap agar pemerintah, pengusaha, dan pihak-pihak yang terkait dengan bisnis kertas untuk mengatasi fenomena seperti ini. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ffffff;"><span style="font-size:10pt;">Langkah strategisnya, seperti pernah disuarakan Tajuk Rencana Kompas, k</span><span style="font-size:10pt;">einginan penerbit koran agar pajak pertambahan nilai 10 persen dihilangkan, demikian pula pajak penghasilan 15 persen untuk produk buku. <span> </span></span><span style="font-size:10pt;">Sayangnya, sampai harga kertas naik 18,6 persen (menjadi 800 dollar AS per ton) per 1 April 2008, keinginan itu belum ada tanggapan positif.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;">Kenapa hal itu seakan menjadi angin lalu bagi parapihak yang berwenang? Ditengarai muncul beragam warna persepsi <span> </span>dan yang lebih signifikan, agaknya DPR belum sepakat perihal masalah ini. Ada beberapa tanggapan sporadis mewacanakan hal tersebut. Sayangnya gonjang ganjing semacam ini secara politis belum menjadi prioritas anggota dewan yang terhormat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;">Ketidakpedulian terhadap gelombang tsunami harga kertas yang melibas industri buku, jurnal, koran, dan majalah, sebenarnya mengindikasikan ketidakacuhan terhadap industri pengembangan sumber daya manusia Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ffffff;"><span style="font-size:10pt;">Jika krisis kertas ini tidak segera diantisipasi<span>  </span>secara terpadu maka kita: bangsa dan masyarakat Indonesia <span> </span>yang akan mengalami kerugian secara moril dan materiil.</span><span style="font-size:10pt;"> Ujung-ujungnya, p</span><span style="font-size:10pt;">eradaban kita semakin mundur untuk perlahan-lahan sekarat dan mati dengan sukses. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">Harus diakui dengan jujur, meski teknologi internet dan multimedia berkembang dengan dahsyat, namun hingga sekarang masih diyakini bahwa kertas adalah pencatat kebudayaan yang paling praktis dan ergonomis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;">*)Sumbo Tinarbuko (</span><a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#ffffff;">http://sumbo.wordpress.com/</span></a><span style="color:#ffffff;">), Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#ffffff;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="color:#ffffff;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;color:#ffffff;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/111/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/111/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=111&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/05/12/harga-kertas-melambung-kebudayaan-sekarat/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Identitas Visual Pariwisata Jogja</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/24/identitas-visual-pariwisata-jogja/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/24/identitas-visual-pariwisata-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 03:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel DKV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oleh Sumbo Tinarbuko
 
 
Tahun 2008 ini, Pemkot Jogjakarta membuat gebrakan baru dengan mencanangkan tema pembangunan Jogjakarta kota pariwisata berbasis budaya. Gebrakan dan repositioning Jogjakarta sebagai kota pariwisata berbasis budaya layak diacungi dua ibu jari. Perlu disengkuyung dan disikapi semangat proaktif masyarakat luas yang mengaku memiliki  serta mencintai Jogjakarta.
 
Sejatinya, tanpa konsep repositioning pun, kota Jogjakarta sudah dipatenkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Tahun 2008 ini, Pemkot </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> membuat gebrakan baru dengan mencanangkan tema pembangunan </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> kota pariwisata berbasis budaya. Gebrakan dan repositioning </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> sebagai kota pariwisata berbasis budaya layak diacungi dua ibu jari. Perlu disengkuyung </span><span style="font-size:10pt;">dan disikapi semangat proaktif </span><span style="font-size:10pt;">masyarakat luas yang mengaku memiliki<span>  </span>serta mencintai </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Sejatinya, tanpa konsep repositioning pun, kota </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> sudah dipatenkan sebagai kota pariwisata dan pendidikan. Menjadi kota pariwisata karena peninggalan bangunan heritage, kuliner, kesenian, dan adat istiadat yang adiluhung mahakarya nenek moyang Ngajogjakarta Hadiningrat. Sedangkan sebagai kota pendidikan disebabkan oleh hadirnya lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi telah teruji oleh ruang dan waktu yang berhasil menghantarkan peserta didiknya menjadi seorang intelektual Indonesia tulen yang religius, humanis, berbudaya, dan bermartabat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Pertanyaannya kemudian, repositioning </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> sebagai kota pariwisata berbasis budaya macam apa yang dimaksudkan dalam konteks ini? Apakah embel- embel kata budaya selanjutnya diartikan sebagai objek wisata yang mengedepankan sejumlah atraksi kesenian tradisional yang dipadatkan penyajiannya sebagai unggulan daya tarik wisata? Atau para pelaku pariwisata diwajibkan menggenakan busana tradisional </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> yang terdiri dari jarik, kebaya, surjan, dan blangkon? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Lalu bagaimana dengan kondisi penyajian objek wisata itu sendiri? Kumuh, kotor penuh coretan grafiti liar, ala kadarnya, bersih, unik, menarik, menawan? </span><span style="font-size:10pt;">Bagaimana pula dengan pola pelayanan dan citra kenyamanan yang didedikasikan kepada para wisatawan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Sudah siapkah Pemkot </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> menyediakan sarana prasarana, SDM, dan lingkungan yang menunjang keberadaan objek wisata tersebut? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Terlepas dari berbagai pertanyaan di atas, seyogianya sebelum mencanangkan kembali </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> sebagai kota pariwisata berbasis budaya, terlebih dulu perlu mempersiapkan berbagai objek wisata di seantero kota </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> lengkap dengan sarana prasarana yang memadai, nyaman, aman, <em>ngangeni</em>, dan unik khas </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Langkah yang dilakukan: membuat zonasi atas objek wisata yang ada di </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">. Zona satu, terdiri dari: wisata pendidikan dan konferensi, wisata kuliner sajian beragam jenis makanan khas </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> dan sekitarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Wisata belanja di sepanjang jalan Solo, Malioboro, pasar Beringharjo pasar Ngasem, dan pasar klithikan Kuncen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Wisata heritage yang terdiri dari bangunan peninggalan arsitek Portugis, Belanda yang masih berdiri megah hingga sekarang seperti: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman lengkap dengan Alun-alun, ndalem pangeran Jeron Beteng, Tamansari, museum Sonobuyo, museum kereta kuda, dan arsitektur Masjid Agung yang unik dan indah. Selain itu juga bangunan heritage peninggalan Belanda seperti: Gedung Agung, Societet, Beteng Vredenburg, Kantor Pos, Bank Indonesia, Bank BNI, Ngejaman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Serta wisata seni rupa, seni pertunjukan tradisional dan kontempoter dilengkapi museum, galeri, ruang pamer, gedung pertunjukkan dengan dukungan kreativitas seniman yang berjibun jumlahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Zona dua, wisata sejarah, dan wisata religius. Semuanya itu bisa didapatkan di daerah<span>  </span>Kotagede dan sekitarnya. Di sana berbagai bangunan kuno dan makam leluhur peninggalan kerajaan Mataram pertama, cenderamata perak dan kuningan, pasar dan makanan tradisional, kesenian tradisional, kendaraan tradisional tanpa mesin. Dapat pula ditambahkan kebun binatang Gembiraloka dengan koleksi lengkap berbagai binatang dan tumbuhan langka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Konsep zonasi objek wisata ini akan menjadi pedoman dalam mempromosikan objek wisata kepada masyarakat luas lewat berbagai media komunikasi visual dan memudahkan pelaku pariwisata untuk mengagendakan berbagai atraksi unggulan di setiap zonasi objek wisata kota </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">. Dengan demikian, para wisatawan akan tersebar ke berbagai objek wisata sesuai dengan minatnya masing-masing tanpa harus menumpuk dan terkonsetrasi di kawasan Malioboro yang dari hari ke hari selalu dirundung kemacetan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Zonasi objek wisata semacam itu menjadi penting bagi wisatawan yang akan mengunjungi kota </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">. Dengan zonasi objek wisata seperti itu lebih memudahkan wisatawan untuk mengunjungi objek wisata di </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> sesampainya mereka turun dari kereta api, pesawat terbang, bus pariwisata, atau kendaraan pribadi. Mereka tidak akan kebingungan karena memiliki panduan dalam bentuk buku objek wisata kota </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> atau denah lokasi, sistem pertandaan yang dengan cermat dan unik akan memandu wisatawan menuju objek wisata yang diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Identitas Visual Kota</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Setelah zonasi objek wisata ditentukan, sekarang gilirannya memanjakan </span><span style="font-size:10pt;">para pelancong dengan menyuguhkan identitas visual yang representatif sebagai <em>pengeling-eling</em> pernah mengunjungi objek pariwisata kota Jogjakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Dalam konteks ini, sejatinya para pelancong sangat memerlukan m</span><span style="font-size:10pt;">edia<span>  </span>informasi<span>  </span>yang menggunakan simbol-simbol desain grafis dalam menggambarkan posisi suatu tempat, arah menuju ke obyek wisata, petunjuk atau instruksi tentang suatu agenda acara. Para wisatawan itu memerlukan misalnya: peta lokasi keberadaan </span><span style="font-size:10pt;">potensi kultural Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"><span>  </span>lengkap dengan sign system yang unik dan artistik agar mampu menuntun mereka menuju lokasi yang diinginkan. </span><span style="font-size:10pt;">Serta memberikan pemahaman yang komprehensif terkait dengan obyek wisata tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Melihat kebutuhan identitas visual dan infografis lingkungan<span>  </span>semacam itu, sudah selayaknya Pemkot Jogjakarta memelopori pembuatan identitas visual, sistem pertandaan yang terintegrasi antarlokasi wisata yang ada di<span>  </span>seantero Jogjakarta. Sebab dengan adanya identitas visual, dan sistem pertandaan yang dirancang secara terpadu akan meningkatkan citra Jogjakarta sebagai sebuah kota yang memiliki keunikan objek pariwisata berbasis budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Desain sistem pertandaan yang dibutuhkan untuk mewujudkan identitas visual<span>  </span>kawasan wisata Jogjakarta adalah desain grafis lingkungan dan infografis berwujud tanda-tanda komunikasi visual yang komunikatif.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Masing-masing unsur<span>  </span>tersebut, baik teks verbal ataupun citra visual dihubungkan sedemikian rupa<span>  </span>dengan<span>  </span>memanfaatkan konsep Gestalt (sosok, latar, bentuk positif dan negatif) yang dikemas secara dekoratif dengan ramuan komposisi, ritme dan kontras yang senantiasa terjaga keseimbangannya.</span><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Kesadaran Pelaku Pariwisata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Konsentrasi berikutnya adalah mempersiapkan, menata, dan mendidik SDM pelaku pariwisata, pejabat publik, dan masyarakat luas agar memiliki kesadaran akan pentingnya dunia pariwisata bagi kota </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;"> dengan mengedepankan aspek <em>handarbeni</em> dan <em>nguri-uri</em> aset objek wisata tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Wujud nyata yang dapat segera diejawantahkan salah satunya dengan memberikan jaminan kepada wisatawan untuk mendapatkan </span><span style="font-size:10pt;">kemudahan dalam hal sirkulasi keluar-masuk objek wisata, rasa aman dan nyaman, serta menemukan suasana khas yang bersifat rekreatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Selain itu perlu pula dilakukan penataan rute jalan wisata yang nyaman, kendaraan bermesin ataupun tidak yang dirancang khusus untuk mengangkut wisatawan keliling Yogyakarta, <em>street furniture </em><span>di ruang publik sebagai wahana melepas lelah</span>, tempat parkir yang tertata rapi, membunuh premanisme juru parkir nakal,<span>  </span>membersihkan sampah, menata PKL dan taman kota lengkap dengan patung-patung kota yang dapat menimbulkan kesan indah, bersih, nyaman, dan <em>ngangeni. </em></span><span style="font-size:10pt;">Semuanya itu </span><span style="font-size:10pt;">sangat didambakan wisatawan dalam rangka mendapatkan pengalaman dan kenangan khusus ketika mereka melancong di kawasan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Kesadaran masyarakat luas,<span>  </span>pejabat publik, dan SDM pelaku pariwisata perlu senantiasa ditumbuhkan dengan mengedepankan aspek budaya Jawa yang menjadi sokoguru bagi perkembangan emosi dan intelektualitas masyarakat </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">. Budaya Jawa mengajarkan kepada kita untuk bersedia melayani dan menolong siapa pun yang membutuhkan. Sabar, ramah tamah dan murah senyum. Memelihara dan menjaga lingkungannya agar senantiasa teduh, nyaman, aman, bersih, serta sehat. Senantiasa memelihara keberagaman dengan selalu memunculkan keunikan-keunikan khas masyarakat </span><span style="font-size:10pt;">Jogjakarta</span><span style="font-size:10pt;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Implementasi Identitas Visual Kota</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Manakala implementasi konsep identitas visual kota Jogjakarta sudah <em>mangejawantah</em>, maka mewujudkan pariwisata Jogjakarta berbasis budaya dengan serta merta akan mulus menancap di dalam benak dan sanubari para pelancong yang mengunjungi Jogjakarta. Apalagi jika identitas visual kota pariwisata Jogjakarta ditambahkan dengan slogan: ’’Budaya Jogja, Jogja Kota Berbudaya’’ akan semakin memperjelas <em>positioning </em>kota Jogjakarta sebagai sebuah kota yang menghidupkan dan senantiasa menyandarkan hidupnya pada segala sesuatu yang berpondasikan warisan kebudayaan Kraton Ngajogjakarta Hadiningrat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">*)Sumbo Tinarbuko (</span><span style="font-size:10pt;"><a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></span></a></span><span style="font-size:10pt;">) Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Sekarang Kandidat Doktor FIB UGM. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/110/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/110/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=110&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/24/identitas-visual-pariwisata-jogja/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sleman, Kota Seribu Iklan</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/24/sleman-kota-seribu-iklan/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/24/sleman-kota-seribu-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 03:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel DKV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Oleh Sumbo Tinarbuko
 
Kabupaten Sleman terletak di utara kota Yogyakarta. Secara geografis, Sleman bagian utara dan barat, tanahnya ditakdirkan sangat subur untuk industri pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Sedangkan  di wilayah timur dan selatan tanahnya pun juga sangat subur ketika ditanami industri  pendidikan, industri kos-kosan, industri kuliner, industri fotokopi dan penjilidan, industri laundry,  dan industri hiburan malam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Oleh Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Kabupaten Sleman terletak di utara kota Yogyakarta. Secara geografis, Sleman bagian utara dan barat, tanahnya ditakdirkan sangat subur untuk industri pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Sedangkan <span> </span>di wilayah timur dan selatan tanahnya pun juga sangat subur ketika ditanami industri<span>  </span>pendidikan, industri kos-kosan, industri kuliner, industri fotokopi dan penjilidan, industri laundry, <span> </span>dan industri hiburan malam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Jika diamati wilayah Sleman bagian selatan dan timur terutama di sepanjang Jl Magelang, Jl Monjali, Jl Kaliurang, Jl Affandi-Gejayan,<span>  </span>dan Jl Solo dapat disaksikan ratusan spanduk rentang, umbul-umbul, rontek, baliho, billboard, neon box, iklan bando, shopsign, sunscreen, papan nama toko, dan ribuan poster tempel yang saling berserakan dan berjejalan cara pemasangannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Keberadaannya tentu dimaksudkan untuk menarik perhatian pengguna jalan yang melintasi kawasan tersebut. Dampaknya, Pemkab Sleman seolah sedang menggelar laporan prestasi buruk terkait dengan perijinan dan prioritas penempatan titik-titik reklame luar ruang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Di jalanan wilayah Sleman bagian timur dan selatan yang menghubungkan berbagai perguruan tinggi ternama itu, belakangan ini disesaki oleh adegan perang simbolik yang terpampang lewat ribuan reklame luar ruang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Yang terjadi kemudian, Sleman membaptis dirinya menjadi kota seribu iklan. Di sana kian subur dipancangkan hutan billboard dengan segala keturunannya: neon box, spanduk, umbul-umbul, rontek, dan poster tempel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Positioning Pemkab Sleman seperti itu justru menjadi antiklimaks yang meredupkan sekaligus memburamkan hidup dan kehidupan warganya. Sebagian besar masyarakat merasa dihantui teror visual terkait dengan titik sentuh pemasangan reklame luar ruang yang dinilai amburadul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Tebaran cengkeramannya yang dilemparkan lewat visualisasi dan teks mencolok, seluruhnya memproduksi citraan budaya konsumsi. Dan setiap orang, dalam ruang yang disesakinya diprovokasi ke dalam image visual tersebut. Seluruhnya berlangsung dalam keramaian reklame yang nyaris tanpa kontrol. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Setiap ruangan, terutama yang memiliki potensi keramaian, telah menjadi komoditas bagi kepentingan penguasa dan pengusaha. Kepentingan dan hak publik atas ruang terbuka, hanya menjadi pertimbangan kesekian. Ruang visual publik pun diambil alih reklame. Iklan media luar ruang dengan seenaknya terpasang di mana saja, jauh dari pertimbangan kepatutan, etika-estetika, dan ekologi kota. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Jika carut marut perihal reklame luar ruang ini tidak segera dikendalikan dan ditata kembali dengan semangat win-win solution, maka wilayah Sleman terutama di bagian timur dan selatan akan menjadi area publik yang selalu dipenuhi polusi sampah visual.<span>  </span><span>     </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>    </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Ketidaktertiban dan kesemrawutan seperti ini menggambarkan ketidakmampuan Pemkab Sleman mengendalikan ekologi dan estetika kota. Hal itu terjadi karena <em>masterplan</em> penempatan media iklan luar ruang tidak disinergikan dengan <em>masterplan</em> tataruang pengembangan Kabupaten Sleman.<span>  </span><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Sejujurnya masyarakat tetap membutuhkan iklan sebagai sumber informasi atas keberadaan produk dan jasa yang mampu tingkatkan harkat hidup banyak orang. Sebaliknya, masyarakat juga membutuhkan ruang publik yang hijau, teduh, nyaman dan, aman. Khalayak luas mendambakan ruang publik yang dapat digunakan untuk reriungan tanpa terusik dengan kehadiran reklame luar ruang yang senantiasa mendedahkan kekekerasan simbolik yang berujung pada sampah visual!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;">*)Sumbo Tinarbuko (<a href="http://sumbo.wordpress.com/"><span style="color:#800080;">http://sumbo.wordpress.com/</span></a>), Konsultan Desain dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sumbo.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sumbo.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sumbo.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sumbo.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sumbo.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sumbo.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sumbo.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sumbo.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sumbo.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sumbo.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sumbo.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sumbo.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sumbo.wordpress.com&blog=1951135&post=109&subd=sumbo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/24/sleman-kota-seribu-iklan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sumbo-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kridha Lumahing Asta</title>
		<link>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/12/kridha-lumahing-asta/</link>
		<comments>http://sumbo.wordpress.com/2008/04/12/kridha-lumahing-asta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 04:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sumbo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sumbo.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[ 
Sumbo Tinarbuko
 
 
 
Apa komentar Anda jika sedang terjebak lampu merah di beberapa persimpangan jalan raya? Dalam catatan saya, sedikitnya ada empat hal besar yang mengemuka di sini. Pertama, jalanan terasa panas karena minimnya pohon perindang yang ditanam di tempat itu. Kedua, senantiasa mengalami gangguan sesak napas akibat polusi asap knalpot kendaraan bermotor. Ketiga, carut marutnya pemasangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sumbo Tinarbuko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Apa komentar Anda jika sedang terjebak lampu merah di beberapa persimpangan jalan raya? Dalam catatan saya, sedikitnya ada empat hal besar yang mengemuka di sini. <em>Pertama</em>, jalanan terasa panas karena minimnya pohon perindang yang ditanam di tempat itu. <em>Kedua</em>, senantiasa mengalami gangguan sesak napas akibat polusi asap knalpot kendaraan bermotor. <em>Ketiga</em>, carut marutnya pemasangan reklame luar ruang yang cenderung menawarkan kekerasan simbolik dan berujung pada sampah visual. <em>Keempat</em>, semakin banyak gelandangan, pengemis, dan pengamen yang memaksakan kehendaknya dengan menjual mimik memelas dilengkapi kostum compang camping kumal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Terkait dengan banyaknya warga masyarakat yang memilih profesi sebagai gelandangan dan pengemis (gepeng), hal ini merupakan indikasi bentuk kegagalan pemerintah di dalam menjamin rakyatnya untuk memperoleh penghidupan yang layak. Fenomena tersebut jelas bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 34 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Di sudut lain, banyaknya warga masyarakat yang terjun memilih hidup dijalanan ditengarai akibat mereka kurang tekun mengasah nalar rasa dan nalar pikir yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia untuk mengisi hidup dan kehidupannya secara terhormat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sudah menjadi mitos manakala seseorang memilih peran di dalam kehidupannya sebagai gepeng, maka ia dengan serta merta disebut sebagai golongan <em>krida lumahing asta</em> (KLA). <em>Kridha</em>: bekerja, <em>lumahing asta</em>: menengadahkan tangan. Artinya, kelompok KLA adalah sekumpulan orang yang mempertahankan dirinya sebagai tunakarya dengan melakukan aktivitas jalan pintas guna mempertahankan hidupnya menjadi pengemis atau peminta-minta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">‘Kesuksesan’ golongan KLA ini ternyata menjadi inspirasi dan di<em>copy</em> <em>paste</em> kelompok masyarakat lain yang diyakini memiliki kasta lebih tinggi. Para peniru itu banyak di antaranya mengenakan baju pejabat publik, pemerintah, dan anggota dewan. Kelompok orang terhormat ini senantiasa mengajukan proposal kepada negara donor untuk mendapatkan sejumlah dana talangan. Janjinya, uang hasil utang tersebut akan digunakan untuk membiayai program kerja pemerintah dalam bentuk kebijakan publik. Janjinya lagi, kebijakan publik tersebut akan didedikasikan demi kemaslahatan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Karena <em>saking</em> seringnya membuat proposal hutang untuk mendapatkan uang yang akan digunakan sebagai dana operasional penyelenggaraan negara, maka bangsa ini dalam kehidupan sehari harinya terlilit benang hutang yang semakin lama kian menjerat leher rakyat kebanyakan. Bagi pejabat publik yang menandatangani <em>MoU</em> nota hutang seakan menjadi pahlawan bangsa yang mampu memberikan dana segar bagi pelaksanaan program pemerintah. Sedangkan untuk rakyat, fenomena penandatanganan <em>MoU</em> itu dikonotasikan sebagai bentuk penjajahan baru atas kemerdekaan untuk hidup dan berkehidupan secara bebas tanpa campur tangan negara asing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kebijakan pemerintah yang menyandarkan roda kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan anggaran hutang dari negara asing, dalam konteks ini<span>  </span>dapat diketegorikan sebagai aktivitas KLA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hal yang sama juga dilakukan kawula muda dari golongan menengah ke atas yang sejak lahir sudah bergelimangan harta benda karena diuntungkan menjadi anak dari keluarga berkemakmuran lahir dan batin. Mereka terbiasa konsumtif dengan mengandalkan uang saku atau jatah transfer bulanan dari orang tuanya untuk membiayai kehidupannya yang glamor, wangi, dan modern.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Bagi kawula muda tersebut di atas, dunia pendidikan yang mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan agama dianggapnya sebagai dunia hiburan yang tidak pantas untuk ditekuni secara serius. Sebaliknya dunia gemerlap, dunia borjuis, dunia khayal, dan dunia pesta pora dengan aroma seks dan narkoba menjadi sebuah keharusan untuk dihayati, dikuasai agar tidak dianggap udik dan ketinggalan jaman. Maka yang terjadi kemudian, perkembangan budaya populer yang merupakan panglima perang kapitalisme mendapatkan lahan subur untuk menyemaikan keuntungan finansial dan material yang sebesar-besarnya dalam putaran waktu sesingkat-singkatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Anak muda tipe KLA ini adalah golongan yang telat berpikir untuk menemukenali jatidirinya. Mereka terbiasa memecahkan masalah dengan jawaban-jawaban yang instan dan seragam berdasarkan kunci jawaban. Mereka tidak pernah mampu membuat pertanyaan, apalagi mempertanyakan segala sesuatu yang tidak selaras nalar rasa dan nalar pikir. Mereka miskin imajinasi, bagaikan robot diberi seutas nyawa yang diprogram seragam. Ironisnya, tipologi anak muda, eksekutif muda, pejabat publik, anggota dewan, dan pejabat pemerintah yang secara konotasi digolongkan kelompok KLA jumlahnya meningkat<span>  </span>tajam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pertanyaannya kemudian, kenapa idiologi KLA memiliki banyak pendukung?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ditengarai, bangsa ini sedang mengalami gerhana total. Mata, hati, dan telinga<span>  </span>pemerintah, pejabat publik, dan anggota dewan yang notabene tergolong kawula muda lebih banyak dikendalikan nafsu perut. Keseimbangan nalar rasa dan nalar pikir seakan<span>  </span>di<em>delete</em> nafsu perut kelaparan yang setiap saat minta diisi agar terasa kenyang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0.2in 0 0.3in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jika fenomena KLA ini tidak segera diatasi dan dicarikan jalan keluar, maka benar apa kata Deddy Mizwar, pemenang aktor film terbaik, bahwa kiamat sudah dekat. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Untuk itu mari kita bersama-sama berbuat, dan berbuat bersama-sama. Kita segera berbuat se