Urun Rembug Visual Branding Desa Budaya

Kata Pengantar
Pameran DKV Visual Branding ADIDAYA
Karya Mahasiswa Angkatan 2015, Prodi Desain Komunikasi Visual
FSR ISI Yogyakarta

Urun Rembug Visual Branding Desa Budaya
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko

ig visual branding des 2017

Branding wilayah atau branding destinasi wisata, belakangan menjadi trend di seluruh kabupaten, kota dan provinsi di Indonesia. Semua menyadari, di era bisnis modern yang dijual adalah merek, brand dan bukan produk. Apalagi produk yang dijual, semuanya hampir sama.

Berhasilkah program tersebut? Tentu ada yang berhasil. Tapi banyak juga yang gagal. Pasalnya? Euforia program branding hanya didedikasikan atas nama proyek. Bahkan program branding dalam pelaksanaannya diyakini mampu menyerap anggaran APBD yang besar. Pada titik ini, program tersebut mengingkari konsep branding yang sudah disepakati bersama.

Untuk itu perlu dibuat kesepakatan baru antarpara pihak. Sebab pada dasarnya, sebuah brand, dalam konteks branding wilayah, kota atau destinasi desa wisata dan desa budaya, tidak sekadar membuat serta merancang nama merek. Kemudian diparafrasekan dan divisualkan dengan pendekatan desain komunikasi visual menjadi sebuah logo.

Gampangnya, brand tidak sama dengan merek. Ibarat raga manusia, merek sekadar nama pribadi manusia. Ketika pendapat umum masih menganggap brand identik dengan merek. Realitas sosial yang muncul, nama tersebut (baca: merek) senantiasa berjarak dengan objek yang diberi nama.

Atas dasar itulah disodorkan konsep baru yang mendekonstruksi brand bukan kembaran dari merek. Sebab brand adalah merek plus plus. Keberadaannya meliputi segenap jiwa raga dari sang manusia itu sendiri. Brand harus dijaga dalam posisi sebagai kata kerja. Bukan kembali pada sang asal, yakni tetap menjadi kata benda.

Berdasarkan realitas sosial tersebut di atas, Pameran DKV Visual Branding ADIDAYA yang digelar mahasiswa angkatan 2015, Prodi Desain Komunikasi Visual, FSR ISI Yogyakarta, mencoba mendekonstruksi sekaligus urun rembug. Mereka menyumbangkan konsep verbal dan konsep visual bagaimana sebaiknya melakukan proses penciptaan dan perancangan visual branding desa budaya yang ada di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul.

Konsep urun rembug tersebut didedikasikan guna membangun citra positif desa budaya yang ada di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul, melalui pendekatan DKV visual branding. Hasilnya dipamerkan di Lippo Plaza Mall Jogja, dari 1 – 3 Desember 2017.

Urun rembug penciptaan dan perancangan visual branding desa budaya ini juga merupakan bentuk pertanggungjawaban sosial dosen pengampu mata kuliah DKV Visual Branding kepada masyarakat luas atas proses belajar mengajar yang dilaksanakannya selama satu semester.

Selain itu, dosen dan mahasiswa yang terlibat menjalankan proses belajar mengajar mata kuliah DKV Visual Branding dengan rendah hati mohon saran, masukan dan sumbangan ide gagasan demi terwujudnya proses belajar mengajar DKV Visual Branding yang membumi dan memberikan kebermanfaatan bagi seluruh umat manusia.

Slamat pameran, salam #merdekave.

(Dr. Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta)

Iklan
Dipublikasi di Artikel DKV | Meninggalkan komentar

(OPINI KOMPAS) Kuasa Kata

Oleh Sumbo Tinarbuko

Kuasa Kata Oleh Sumbo Tinarbuko

Kuasa kata menjadi kambing hitam terjadinya perang pesan verbal antar warganet di medsos. Kuasa kata yang mewujud menjadi ujaran nyinyirisme biasa berkelindan dalam pemandangan linimasa di medsos. Kuasa kata juga menguasai jagat komunikasi politik di lingkaran tokoh publik, pejabat negara, dan anggota Dewan. Kuasa kata yang membara menjadi perang pesan verbal bersumber dari gagasan dan kebijakan yang mereka kumandangkan. Mereka sengaja menggoreng kebijakan yang bermuara dari gagasan impulsif bernuansa subjektif. Mereka menisbikan rasa perasaan warganet dan melumpuhkan akal sehat warga masyarakat.

Pada titik itulah kuasa kata kemudian melahirkan fenomena gagal paham komunikasi. Dampaknya berhasil memporakporandakan bangunan konsep komunikasi sosial yang sudah berlangsung nyaman. Ujung dari semua itu, menyebabkan kehidupan patembayatan warganet dan warga masyarakat menjadi gaduh melenguh-lenguh.

Gagal Paham

Fenomena gagal paham komunikasi di atas menegaskan kekuatan kuasa kata yang berujung miskomunikasi di medsos. Miskomunikasi di medsos paling membahana saat ini adalah kesalahpahaman antara parapihak akibat perang wacana atas kuasa kata yang dilontarkan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta

Fenomena gagal paham komunikasi yang dipantik pidato, komentar, pendapat serta pernyataan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta lalu membara di medsos. Alirannya kemudian merembet ke seluruh media massa cetak dan elektronik. Efek turunannya berlanjut dengan polemik nyinyirisme yang semakin memanas di medsos antara kelompok haters lawan geng pendukung pernyataan orang nomer satu dan nomer dua di kantor pemerintahan DKI Jakarta.

Atas fenomena gagal paham komunikasi ini, sejatinya ada perbedaan pemahaman makna pesan verbal dan pesan visual atas kuasa kata yang dilontarkan kedua belah pihak ketika sedang beku hatinya. Akibatnya, gagal paham komunikasi menjadi sajian tidak membahagiakan yang harus dikonsumsi warganet dan warga masyarakat.

Sebaliknya, bagi kelompok tertentu fenomena gagal paham komunikasi justru sangat membahagiakan dalam konteks perolehan atensi like jempol biru. Ujungnya, pengelola akun medsos yang mengendalikan gelombang magnetik gagal paham komunikasi mendapatkan penghasilan tetap. Berbagai iklan yang menempel di laman yang dikelolanya senantiasa mengucurkan sejumlah fulus atas capaiannya tersebut.

Dalam perspektif budaya visual, harus diakui, sosok gagal paham komunikasi merupakan representasi setan. Ia selalu mengejawantah dalam sebuah proses komunikasi. Apalagi proses komunikasi yang tidak sejalan bagi peruntukan komunikasi itu sendiri. Dengan demikian, sosok gagal paham komunikasi yang menggunakan kendaraan kuasa kata senantiasa menjadi musuh bersama umat manusia.

Dalam pergerakkannya, ia senantiasa menebar energi negatif. Tebaran energi negatif itu wajib dihirup warganet dan warga masyarakat yang gelap mata atas realitas sosial yang ada. Hebatnya, perwujudan sosok gagal paham komunikasi sangat rajin mengobrak-abrik kedamaian warganet. Di sisi lain, keberadaannya juga menciptakan suasana gaduh melenguh-lenguh warga masyarakat di tengah patembayatan sosial di medsos.

Menyiangi Hati

Di abad budaya layar seperti sekarang ini, dibutuhkan kehadiran wasit dan hakim garis yang mampu menyemprit silang sengkarut kelompok gagal paham komunikasi. Kehadiran wasit dan hakim garis bertugas mengajak warganet senantiasa bergandengan tangan guna membangun kesepahaman bersama saat menjalankan proses komunikasi di medsos.

Hal itu wajib dilakukan agar antar warganet yang terbelenggu belitan tangan gurita sosok gagal paham komunikasi dapat hidup damai di tengah keberagaman sifat kemanusiaannya. Selanjutnya dalam tataran pergaulan sosial, mereka sesegara mungkin menyiangi hati. Dengan hati yang sareh, sabar plus sumeleh akan keluar energi positif. Hal itu diyakini mampu menyelaraskan nalar perasaan dan akal pikiran mereka yang sedang terjerembab dalam kubangan lubang gagal paham komunikasi.

Untuk itu, marilah kita bangkit berdiri agar senantiasa mampu membangun kesepahaman diri pribadi dengan pihak lain. Pejabat publik, elit politik dan tokoh masyarakat seyogianya menjadi orang pertama yang mau dan mampu memahami aspirasi warganet serta gerak langkah warga masyarakat yang dilayaninya.

Jangan malah sebaliknya seperti yang terjadi sekarang ini. Mereka menutup diri dan mengunci hatinya dengan gembok besar. Mereka merasa paling benar. Mereka senantiasa menghindarkan diri pribadi dari realitas sosial. Mereka lebih suka menjawab daripada menanggung tanggungannya. Bahkan mereka enggan mencari jalan keluar atas permasalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Ketika sikap egois semacam itu terus dikembangbiakkan, sejatinya mereka sedang menjalankan gerakan bunuh diri massal. Upaya bunuh diri massal itu dilakukan untuk membunuh benih-benih kebaikan yang seharusnya ditumbuhsuburkan. Untuk itu, seyogianya mereka berani menyematkan konotasi positif atas kuasa kata. Hal itu penting dilakukan demi bertumbuhnya energi kebaikan bagi hidup dan kehidupan umat manusia.

Dr. SUMBO TINARBUKO
Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta
Artikel ini dimuat di kolom OPINI Harian KOMPAS, Sabtu Pahing, 18 November 2017
Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko,
Facebook: @sumbotinarbuko

Dipublikasi di Artikel, Opini | Meninggalkan komentar

Pre Order #1 Buku Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual

cover dg isbn acc

lapor bung dan nona!
buku ke-8 pak guru ‘oemar bakri’ @sumbotinarbuko berjuluk: Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual, sudah dapat anda miliki dg mahar Rp. 96 ribu. mahar tsb belum termasuk ongkos kirim. berat buku 400 gram. untuk perkiraan ongkos kirim buku dari Yogyakarta ke alamat masing-masing pemesan, silakan anda klik http://www.jne.co.id/id/tracking/tarif

bung dan nona, periode pre order #1 mulai 27 Agustus 2017 – 27 September 2017. pembayaran dilakukan melalui transfer ke nomer rekening 0188886264 – Bank BNI Yogyakarta – atas nama: Sumbo Tinarbuko, Drs, M.S

bung dan nona, bagi pemesan buku: Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual, setelah melakukan pembayaran via transfer bank, dipersilakan kirim identitas dan data diri – alamat rumah/kantor – jumlah pemesanan buku – ke email sumbotinarbuko@gmail.com – sertakan juga foto bukti pembayaran

#institutesumbo, ruang untuk bersama-sama belajar dan belajar bersama-sama #merdekave #literasidekave #DKVBertindak

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar