Fenomena Diksi ‘Setan Gundul’

Dr. Sumbo Tinarbuko

Pemerhati Budaya Visual dan Komunikasi Publik, Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

setan gundul bambang setyadi
(Setan Gundul – Ilustrasi Pak Klepon: Bambang Setyadi)

Pada Senin Legi, 6 Mei 2019, pukul 7.54,  Andi Arief, Politisi Partai Demokrat, lewat akun Twitter @AndiArief__ berkicau, ‘’Dalam koalisi adil makmur ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan Gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen.’’

Dua jam kemudian, kicauan Andi Arief tentang Setan Gundul dikomentari rekannya sesama Politisi Partai Demokrat  Benny K Harman.  ‘’Bukan setan gundul tapi monster demokrasi atau genderuwo, tangan-tangan kotor yang tidak kelihatan yang menjadi benalu demokrasi. Namanya benalu yah lama-lama makan tuannya sendiri!’’ tulis @BennyHarmanID

Sesaat kemudian, diksi Setan Gundul yang dilontarkan Andi Arief dan dikomentari Benny K Harman menjadi trending topic pada pergerakan linimasa medsos. Hal itu terbukti dari keberadaan tagar #SetanGundul dituliskan sebanyak 22.600 oleh pengguna Twitter.

Perang Diksi

Ketika sebuah diksi berhasil direkayasa untuk kepentingan proses komunikasi melalui media sosial, pada titik itu, sang diksi memiliki kekuasaan simbolik. Keberadaannya menjadi trending topic. Eksistensi sang diksi mampu menggerakkan siapa pun yang menyebut dirinya sebagai warganet untuk menjalankan proses komunikasi yang berkaitan dengan konteks diksi tersebut.

Atas nama kekuasaan simbolik, sang diksi pun masuk dalam medan pertempuran komunikasi publik di media sosial. Di sana terjadi perang asimetris antara warganet yang pro melawan netizen yang kontra atas keberadaan diksi Setan Gundul.

Masih atas nama kekuasaan simbolik, perang diksi pun menjadi bahasa baru. Hal itu mengemuka saat warganet menjalankan proses komunikasi di jagat ruang publik virtual, berjuluk media sosial.

Ketika perang diksi naik tahta menjadi bahasa baru dalam proses komunikasi sosial. Siasat perang diksi senantiasa memanfaatkan bom nuklir sebagai senjata pamungkas berupa ujaran kebencian dan nyinyirisme. Agar ujaran kebencian dan nyinyirisme tampak heroik, mesti dilengkapi dengan tawuran massal berujud pesan verbal dan pesan visual yang mengharu-biru. Keberadaannya pun secara politik wajib memenuhi target yang digariskan. Yakni harus mendominasi pergerakan linimasa di media sosial. Dampak sosial yang dituju didedikasikan untuk membangkitkan kegaduhan warga masyarakat di jagat patembayatan sosial.

Pada tahun politik ini, perang diksi juga menguasai jagat komunikasi politik di lingkaran pejabat penyelenggara pemerintahan, anggota dewan dan elit parpol. Perang diksi yang membara menjadi perang wacana. Sumber konflik ini pemantiknya bersumber dari gagasan dan kebijakan publik yang mereka kumandangkan. Mereka sengaja menggoreng kebijakan yang bermuara dari gagasan impulsif bernuansa subjektif. Mereka menisbikan rasa perasaan warganet. Ujungnya, mereka sengaja melumpuhkan akal sehat warga masyarakat.

Pada titik itulah perang diksi kemudian melahirkan fenomena miskomunikasi. Indikator keberhasilannya dinilai dari kesuksesan mereka dalam memporakporandakan bangunan konsep komunikasi sosial.  Dampak sosialnya, menyebabkan kehidupan patembayatan sosial antara warganet dan warga masyarakat menjadi gaduh melenguh-lenguh.

Polemik Miskomunikasi

Terjadinya polemik miskomunikasi atas fenomena perang diksi, sejatinya disebabkan adanya perbedaan pemahaman makna pesan verbal dan pesan visual. Perbedaan pemahaman itu terjadi akibat para komunikator memaksakan kehendaknya untuk secara absolut diterima pihak komunikan.

Dampak sosial atas proses komunikasi publik yang didominasi oleh aksi kekerasan simbolik itu menyebabkan musibah miskomunikasi yang berlipat ganda. Dalam perspektif komunikasi publik, harus diakui, mitos fenomena miskomunikasi merupakan representasi Setan Gundul. Ia selalu mengejawantah dalam sebuah proses komunikasi monologis dalam balutan jubah kekerasan simbolik.

Dengan demikian, fenomena miskomunikasi yang menggunakan kendaraan lapis baja perang diksi senantiasa menjadi musuh bersama umat manusia. Dalam pergerakkannya, ia senantiasa menebar energi negatif. Tebaran energi negatif sengaja ditebarkan di ruang publik virtual. Aksi jahat itu sengaja mereka lakukan agar diikuti warganet sekaligus warga masyarakat yang gelap mata atas realitas sosial yang ada. Hebatnya, perwujudan sosok miskomunikasi sangat rajin mengobrak-abrik kedamaian sosial warganet. Di sisi lainnya, keberadaannya juga menciptakan suasana gaduh melenguh-lenguh warga masyarakat di tengah kehidupan patembayatan sosial.

Tebaran Kebaikan 

Ketika sikap egois yang direpresentasikan para pihak lewat perang diksi terus dikembangbiakkan, sesungguhnya mereka sedang menjalankan gerakan bunuh diri massal. Upaya bunuh diri massal itu dilakukan untuk membunuh benih-benih kebaikan yang seharusnya ditumbuhsuburkan.

Sudah saatnya para pihak yang terlibat dalam perang diksi melakukan upaya dekonstruksi sosial atas keberadaan sifat manusia sebagai makhluk sosial. Mereka seyogianya mengedepankan rumus kehidupan untuk sebuah kebaikan hakiki. Di antaranya, bagi yang berkecukupan wajib membantu mereka yang berkekurangan. Bagi yang pandai wajib membagi ilmunya kepada mereka yang  sedang dalam proses belajar. Bagi mereka yang kuat wajib membantu yang lemah.

Untuk itu,  negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan wajib hadir dan memosisikan diri menjadi orang tua bagi warganya. Mereka harus senantiasa merentangkan kedua tangannya selebar mungkin sambil menebar semangat kebaikan hakiki. Gerakan sosial semacam itu harus dilakukan pejabat penyelenggara pemerintahan. Mengapa harus demikian? Sebab dalam konteks komunikasi publik, hal itu merupakan satu upaya guna menangkal pemikiran pragmatis dan radikal. Hal itu juga diyakini mampu menetralisir sikap egoistis dan individualistis yang direpresentasikan lewat perang diksi di linimasa media sosial.

Iklan
Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar

Jalin Komunikasi dengan Sang Jagat Raya

Dr. Sumbo Tinarbuko

Pemerhati Budaya Visual dan Komunikasi Publik, Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

kompas heru sri kumoro
(Foto: luapan air Sungai Ciliwung menggenangi rumah warga dan Jalan Jatinegara Barat, Jakarta, Jumat (26/4/2019) pukul 15.07 – Rep. Kompas/Heru Sri Kumoro)

Harian Kompas (30/4/2019) mewartakan kabar duka perihal banjir dan tanah longsor yang menimpa 9 provinsi yang meliputi 26 kabupaten dan kota. Di antaranya: Jakarta, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat dan Tengah. Selain itu, wilayah Sulawesi Utara, Selatan, dan Tengah juga dilanda banjir dan tanah longsor. Menyusul kemudian Jawa Timur.

Menurut catatan Kompas, semuanya itu akibat curah hujan di atas 50 milimeter perhari. Bahkan jika dalam kondisi ekstrem mencapai 100 milimeter  per hari. Akibat bencana banjir dan tanah longsor di beberapa  wilayah Indonesia, dikabarkan  telah menelan korban jiwa 34 orang meninggal dunia dan 6 orang hilang.

Sementara itu, Tajuk Rencana harian Kedaulatan Rakyat berjudul ‘’Mengantisipasi Ancaman Bencana di DIY’’ mengingatkan kepada kita untuk setiti lan ngati-ati terkait dengan ancaman bencana. ‘’Keselamatan masyarakat yang berada di daerah rawan bencana, menjadi prioritas utama penanganan,’’ tulis Tajuk Rencana KR sambil menyarankan, ‘’Upaya yang harus segera dilakukan adalah membangun dan membenahi infrastruktur yang berfungsi untuk pencegahan maupun penanggulangan ketika bencana itu benar-benar datang’’.

Pada bagian lainnya, Tajuk Rencana KR mengajak masyarakat yang terpaksa tinggal di dekat bantaran sungai, seyogianya pindah ke tempat yang aman. ‘’Idealnya mereka harus pindah ke tempat yang lebih representatif. Harus diakui, masyarakat yang bertempat tinggal dekat bantaran sungai, relatif lebih siap menghadapi bencana banjir’’.

Meski masyarakat yang tinggal di bantaran sungai lebih siap menanggung akibat terjadinya bencana banjir, tetapi sejatinya mereka sedang melakukan upaya mengerdilkan badan sungai. Mengapa dituduh demikian? Karena upaya pengerdilan itu dilakukan agar lahan pemukiman warga di bantaran sungai melebar. Pengerdilan lainnya berupa tumpukan sampah rumah tangga dan sampah industri. Akibatnya badan sungai menyempit dan terlihat menjijikkan. Ketika hujan deras yang sejatinya berfungsi membersihkan polusi udara, banjir bandang pun menjadi hadiah yang berujung penderitaan. Siapa menderita? Tentu pembaca dapat menjawabnya dengan tepat.

Objek Penderita 

Dalam perspektif budaya visual, sejatinya sang jagat raya tidak pernah memberikan bencana kepada manusia. Diriwayatkan, sang jagat raya bukanlah benda mati. Sang jagat raya adalah bagian dari makhluk hidup. Dia bertumbuh. Dia berkembang. Dia selalu memudakan dirinya guna menjaga dinamisasi kehidupan alam raya ini.

Artinya, sang jagat raya  selalu memberikan kebaikan kepada manusia. Sang jagat raya menyediakan jiwa raganya demi keberlangsungan hidup dan kehidupan umat manusia.

Sayangnya, atas kebaikan sang jagat raya, ternyata hal itu dinisbikan manusia. Sang jagat raya selalu mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat tanda-tanda alam yang diinformasikannya setiap saat. Ironisnya, manusia tidak pernah menyatat, mendengarkan, menerima,  bahkan membalas jalinan komunikasi yang ditebarkan sang jagat raya.

Laksana air susu dibalas air tuba. Karena dimudahkan oleh sang jagat raya, manusia menjadi sombong dan egois. Menganggap alam sebagai objek penderita. Lebih sadis lagi, sang jagat raya diposisikan sebagai pelengkap penderita untuk keuntungan diri manusia bersama kelompoknya. Kesombongan manusia semakin menggila ketika mereka mampu menciptakan dan menguasai teknologi. Lewat penemuan teknologi tersebut,  atas nama uang, kekayaan dan kekuasaan, manusia berjubah pemerintah, pejabat publik, anggota dewan, elit parpol, pengusaha, bandar dan makelar memilih  mengeksploitasi sang jagat raya secara membabi-buta demi mengenyangkan perut mereka.

Kesepahaman Bersama

Atas ajakan sang jagat raya untuk saling berkomunikasi. Ada baiknya manusia segera menjalin komunikasi dengan sang jagat raya demi menjalankan keseimbangan hukum alam. Hal itu menjadi penting, karena sang jagat raya selalu mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat tanda-tanda alam yang diinformasikannya setiap saat.

Komunikasi seperti apa yang dapat dilakukan? Menjadikan sang jagat raya sebagai subjek dan sahabat manusia. Di antaranya: melebarkan badan sungai agar air sungai dapat bergerak bebas. Merawat sungai menjadi sangat penting, karena sungai adalah representasi kehidupan manusia yang beradab, sehat dan berbudaya.

Komunikasi bersama sang jagat raya dapat dilakukan dengan membuat tempat penampungan air hujan. Berbentuk lubang resapan biopori, embung atau danau kecil. Sebanyak mungkin menanam pohon perindang yang dapat dijadikan paru-paru kota di ruang publik. Membebaskan tanah pekarangan, perkantoran dan tempat ibadah dari cengkeraman konblok, plester semen dan aspal. Hal itu penting dilakukan agar pori-pori tanah berfungsi secara alamiah.

Dari contoh kecil cara berkomunikasi dengan sang jagat raya, akan muncul proses komunikasi secara intensif bersama sang jagat raya. Dari proses komunikas tersebut diharapkan terjalin kesepahaman bersama antara manusia dengan sang jagat raya. Masalahnya kemudian, apakah manusia rela melakukannya?

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar

Saat Menang dan Ketika Kalah

Dr. Sumbo Tinarbuko

Pemerhati Budaya Visual dan Komunikasi Publik, Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

kalah pemilu 17 april 2019 1

Lewat akun medsos, saya tuliskan sebuah ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri, ‘’Saat menang jadilah pelaku sejarah. Ketika kalah duduklah manis menjadi penyaksi gerak zaman yang semakin gempita dan dinamis’’. Tanggapan dan ulasan pun berhamburan membahana di kotak komentar.

Para komentator menuliskan perasaan pesimisnya kepada pihak yang kalah.  Mereka tidak yakin kepada yang kalah bersedia mengakui kekalahannya. Sebab bagi mereka, kontestasi pemilu pilpres dan pileg merupakan representasi perang kekayaan, perang status sosial bahkan perang ideologi antar kontestan peserta pemilu 2019.

Dalam perspektif budaya visual, tawuran politik dalam kontestasi pemilu pilpres dan pileg merupakan perwujudan perang asimetris. Hal itu sangat disukai kaum nyinyirisme untuk mengalahkan lawannya. Mereka melakukan kekerasan simbolik dengan memanfaatkan kebebasan warganet dalam menjalankan proses komunikasi politik. Kekerasan simbolik direkontruksi menjadi mesiu ganas untuk kemudian diledakkan lewat medsos.

Pada titik ini, lewat fenomena kekerasan simbolik, tim sukses serta pendukung capres dan caleg sedang mempersenjatai dirinya untuk menghimpun dukungan massa. Dalam kampanye politik model anyar, beradu kekerasan simbolik dalam wujud tagar sengaja dihadirkan. Semuanya itu mereka lakukan guna menciptakan komunikasi politik yang gampang diviralkan serta mampu mengharu-biru perasaan warganet.

Beradu Tagar

Fenomena beradunya antar tagar sebagai modus kampanye politik model baru mensyaratkan aspek  kesederhanaan komunikasi verbal dan komunikasi visual. Biaya sosial yang harus ditanggung pun menjadi sangat murah. Sistem kerja beradunya antar tagar dijalankan bagaikan menggunakan bahasa mesin. Sekali share, semua peluru kata atau frasa yang terangkum dalam tagar dapat ditembakkan sekaligus ke segala penjuru dunia medsos.

Secara simbolik, beradu tagar dalam konteks kampaye politik capres dan caleg dihadirkan sebagai penanda konteks atas  pesan verbal dan pesan visual yang dilemparkan melalui medsos. Dalam waktu bersamaan, sang sutradara adu tagar ingin mengemas komunikasi politik hasil racikan tim sukses untuk melemahkan citra diri sang lawan.

Dengan melibatkan bahasa politik, sang sutradara adu tagar menghadirkan tagar dalam wujud kata atau frasa yang menarik dan mudah diingat. Hal itu dimitoskan mampu memunculkan daya ganggu visual bagi publik yang diserbu adu tagar. Berikutnya, mereka digendam secara visual agar ikhlas memviralkan pesan tagar tersebut melalui akun medsos yang dimilikinya.

Berburu kebaikan

Fenomena kekerasan simbolik dalam ajang kampanye pemilu capres dan caleg yang direpresentasikan lewat adu tagar, lontaran berita bohong serta produksi diksi nyinyirisme secara masif dan terstruktur. Keberadaannya pun semakin menguatkan perasaan warganet dan khalayak ramai. Perasaan semacam itu menjadi jejak digital sekaligus catatan realitas sosial. Bahwa untuk mendapatkan sebuah kebaikan tanpa pamrih di zaman yang segalanya selalu ditakar dengan uang, seakan jauh panggang dari api.

Fenomena kekerasan simbolik dalam ajang kampanye pemilu capres dan caleg semakin mematrikan mitos. Bahwa hidup berkalang budaya layar sangat sulit rasanya untuk menemukan sebuah kebaikan. Tentu yang diharapkan dalam konteks ini adalah sebuah kebaikan yang sungguh baik menurut perspektif  ideologi kebaikan itu sendiri.

Mengapa fenomena semacam ini menggejala? Karena ditengarai, budaya instan telah mengepung kemerdekaan manusia Indonesia. Budaya instan yang diternakkan budaya layar ditengarai menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu mengolah nalar pikir dan mengelola nalar rasa guna diekspresikan ke dalam pola laku yang bernuansa kebaikan. Akibatnya, hakikat kebaikan tidak mungkin didapatkan secara gratis. Melainkan harus dibeli seperti halnya yang terjadi pada aktivitas bisnis komersial. Yakni proses jual beli produk barang dan jasa.

Artinya, dalam perspektif bisnis komersial, sebuah kebaikan akan muncul dengan sendirinya. Syaratnya, jika mereka mampu menghadirkan sebuah pamrih yang dikendalikan remote control bisnis komersial barang dan jasa. Ujung keberhasilannya pun ditakar manakala mereka mampu memperoleh keuntungan menggunung.

Pada tahun politik ini, berhitung perihal kebaikan, rumusnya sama sebangun dengan perincian ongkos perdagangan produk barang dan jasa komersial.  Kalkulasi bisnis kontestasi politik mensyaratkan perincian untung rugi dalam memperebutkan kursi kekuasaan.  Karena itulah, orientasinya diarahkan pada segala sesuatu yang dapat menjadikan mereka sebagai pemenang. Atau mereka menempuh segala cara untuk meraih kursi kemenangan. Mereka lebih suka membuat target perolehan kursi kekuasaan yang nantinya berujung pada kekuasaan itu sendiri. Kursi kekuasaan tersebut menjadi lokomotif yang menggerakkan proses penguasaan aset publik. Ujungnya perolehan harta kekayaan dalam waktu singkat.

Pernyataannya, kenapa kita sulit untuk berbuat baik tanpa diembel-embeli berbagai kepentingan yang bersifat duniawi? Kenapa pula kita belum mampu melakonkan sebuah kebaikan dalam jagat kehidupan yang manusiawi tanpa harus disorot kamera? Kenapa ketika tangan kanan memberikan sebuah kebaikan, tangan kiri juga harus mengetahuinya?

Pada tahun politik ini, kenapa kita tidak rela saat menderita kekalahan dalam sebuah proses kontestasi pemilu? Kenapa kita inginnya menang terus tanpa mau menundukkan kepala untuk memeriksa gumpalan kelemahan yang menjadi bagian dari hidup dan kehidupan di jagat raya ini?

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar