Rayuan Iklan Ramadan

Oleh Sumbo Tinarbuko

Ruang publik di kota besar seantero Indonesia bersama media massa cetak dan elektronik sedang menikmati masa keemasan yang ‘membahagiakan.’ Jajaran media massa cetak, elektronik dan ruang publik yang menjadi penyedia jasa pemasangan iklan meraup untung besar dengan bertaburnya iklan Ramadan yang sedang menggelora di tanah air.

Kenapa jajaran media massa cetak, elektronik dan ruang publik mendapatkan fulus berlipatganda di bulan Ramadan ini? Jawabannya terlihat jelas manakala gulungan kalender bulan Juli dan Agustus 2012  terbuka lebar. Saat itulah paraprodusen berlomba lewat iklan Ramadan untuk memromosikan produknya  berbentuk barang dan jasa kepada masyarakat dengan memanfaatkan momentum bulan suci yang penuh rahmat ini.

Material Promosi

Beragam material promosi produk barang dan jasa berbentuk iklan dirancang kembali dan dikemas dalam nuansa Ramadan. Ada yang diposisikan hanya sebagai reminder bagi konsumen, sekadar peluncuran produk baru, atau direncanakan dengan matang guna menguatkan pencitraan produk barang dan jasa di tengah-tengah target sasarannya. Semuanya itu dilakukan oleh produsen secara terintegrasi tentu dengan tujuan akhir agar mendapatkan simpati masyarakat di bulan Ramadan.

Atas nama pemanfaatan momentum bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri, para pengumbar ideologi  pasar menggandeng pemilik industri media massa cetak dan elektronik. Media televisi, radio, majalah, koran, berikut bilboard, baliho, poster, rontek dan spanduk, mereka sanding untuk diposisikan sebagai media iklan. Dari sanalah rayuan  iklan Ramadan ditebarkan lewat  pesan verbal dan pesan visual yang dikemas secara halus bernuansa religius. Mereka menjaring target sasaran lewat rayuan iklan Ramadan agar merogoh dompetnya untuk berbelanja produk barang dan jasa yang ditawarkannya.

Penetrasi rayuan  iklan Ramadan dan Idul Fitri mudah dikenali masyarakat karena ada penanda pesan visual dan pesan verbal berbunyi antara lain: ‘’ Rejeki Ramadan’’, ‘’Lebaran Bersama’’, ‘’Rayakan Kemenangan’’, ‘’Ketupat Berhadiah’’, ‘’Ramadan Ceria’’, ‘’Bonus Bulan Ramadan’’, ‘’Cahaya Lebaran’’, ‘’Hemat Di Bulan Suci’’, ‘’Ramadan Sale’’, ‘’Rayakan Lebaran Bersama’’, ‘’Liburan Sambil Lebaran’’, ‘’Magic Ketupat’’

Dalam konteks ini, rayuan iklan Ramadan yang ditengarai dikendalikan jaringan kapitalisme global,  sanggup menghipnotis siapa pun lewat  tebaran mitos yang sangat menggelitik adrenalin masyarakat pembelanja. Mereka menebarkan ranjau konsumtivisme lewat rayuan iklan Ramadan.  Semuanya itu dilengkapi pernak pernik rayuan iklan Ramadan berupa obral diskon yang dikemas sedemikian rupa. Selebihnya, mereka senantiasa menyetel  mesin hawa nafsu masyarakat pembelanja dengan melibatkan pusat perbelanjaan lokal maupun berjaringan internasional, hotel, restoran dan layanan jasa publik lainnya.

Kemasan Gaya Hidup

Mengalirnya rayuan iklan Ramadan berwujud promosi produk fashion, produk kosmetika, makanan cepat saji,  alat-alat rumah tangga, produk cat tembok, produk elektronika, alat komunikasi seluler, kendaraan bermotor, produk makanan instan, dan bahan kebutuhan pokok sehari-hari yang direpresentasikan di beberapa mal, hypermarket, dan pasar swalayan,  di seantero penjuru Indonesia selama bulan Ramadan, memberikan cara sangat efektif dalam memacu akselerasi produk konsumsi.

Dahsyatnya, meski pun salah kaprah, fenomena semacam itu bagi masyarakat pembelanja disadari sesadar-sadarnya menjadi bagian dari gaya hidup yang harus disandang dan disandingnya dalam hidup bermasyarakat.

Kemasan gaya hidup dalam gempuran gelombang konsumtivisme menjadikan masyarakat pembelanja merasa berdosa jika produk yang direpresentasikan iklan Ramadan belum tersedia dalam genggaman tangannya. Mereka, parapemburu nafsu ‘keinginan’ harus meluncaskan hasrat negatif tersebut dalam bentuk aktivitas beli dan harus senantiasa membeli seperti yang didogmakan iklan Ramadan. Ironisnya, gaya hidup semacam itu, oleh masyarakat pembelanja, seolah-olah mendapatkan permaklumannya di bulan Ramadan.

Apa yang harus dilakukan saat menyikapi rayuan iklan Ramadan? Idealnya, rayuan promosi iklan Ramadan yang digencarkan selama ini harus disikapi secara arif dan bijaksana. Tindakan membeli berbagai kebutuhan hidup selama bulan Ramadan memang tidak ada salahnya. Tetapi alangkah eloknya jika belanja berbagai barang kebutuhan dilandaskan pada azas kebutuhan bukan hasrat mengumbar nafsu ‘keinginan.’ Untuk itu, dalam rangka mengasah sifat arif dan bijaksana, tidak ada salahnya membatasi kemasan gaya hidup hedonis dengan  mengarahkan seluruh energi kemanusiaan demi kebermanfaatan sesama umat manusia.

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com)  adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Artikel DKV, Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s