Benarkah Indonesia Tanah Airku?

Oleh Sumbo Tinarbuko

Surat terbuka ini ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia. Ditulis setelah melihat foto hasil bidikan Mazda Jopra yang beredar di dinding facebook. Di dalam foto terpampang pernyataan getir, dituliskan si empunya  ‘rombong’ yang diletakkan di atas motor berplat  A 4197 VI. Rangkaian kata itu digoreskan dengan cat merah di atas ‘rombong’ warna putih. Di kiri dan kanan tulisan itu dihias gambar bendera kebangsaan Indonesia, Sang Saka Merah Putih. Pernyataan itu terbaca: ‘’Indonesia bukan tanah airku. Tanah masih ngontrak. Air masih beli.’’

Presiden yang terhormat, pernyataan tersebut, dimaknai sebagai representasi rintihan kawula alit. Curahan hati semacam itu bermuara dari keinginan rakyat Indonesia mendapatkan kemerdekaan lahir batin dalam arti sesungguhnya. Pertanyaannya kemudian, benarkah Indonesia bukan tanah airku? Benarkah tanah tempat kita berpijak masih ngontrak? Benarkah untuk mendapatkan air harus beli?

Pada titik ini harus diakui, ternyata merdeka dalam arti sebenarnya, masih sebatas angan belaka. Meski sebatas angan, secara realitas sosial, ternyata sulit digapai. Semuanya ini terjadi akibat pemerintah, pejabat publik dan anggota dewan lebih suka membincangkan dan menggerakkan kehidupan politik praktis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Penyelenggara negara  terlihat enggan memikirkan nasib rakyatnya. Mereka setengah hati dalam menyejahterakan hidup dan kehidupan rakyatnya. Parahnya, mereka abai memberi perlindungan agar rakyat dapat terus hidup dalam garis kesejahteraan yang merata. Itu terjadi akibat hidup dan kehidupan di negara ini dikuasai sekelompok elit politik dan segolongan orang berduit.

Presiden yang terhormat, pesimisme rakyat makin menderu saat pemerintah, pejabat publik, anggota dewan dan elit politik tidak menjalin hubungan kekeluargaan yang didasarkan pada semangat untuk melindungi dan melayani masyarakat berdasarkan asas komunikasi fungsional bukan komunikasi struktural. Dampak moral dan sosialnya, muncullah tragedi kekerasan, kejahatan dengan pemberatan dan ketegangan sosial di berbagai daerah.

Karena pemerintah melakukan pembiaran atas berbagai kekerasan okol (otot), terorisme, radikalisme, dan kriminalitas yang digerakkan orang-orang jahat, tumbuh subur di Indonesia. Kejahatan publik yang menjadi basis kekuatan kriminalitas dan radikalisme merebak akibat kekecewaan rakyat terkait dengan kehidupan sosial ekonomi yang timpang dan tidak berkeadilan sosial bagi masyarakat luas. Atas merebaknya kekerasan publik yang muncul di ruang publik, maka benarlah pernyataan yang ditulis si empunya motor 4197 VI: Indonesia bukan tanah airku!

Presiden yang terhormat,  meski sudah memasuki momentum 67 tahun Indonesia merdeka, tetapi realitas sosialnya rakyat Indonesia semakin terjajah. Lihatlah misalnya, lidah sebagian rakyat Indonesia dikendalikan produk kuliner bercitarasa luar negeri. Adat istiadat dan kebudayaan asli digempur dan dipaksa untuk ditinggalkan hanya dengan alasan agar dianggap sebagai orang modern. Beragam sinetron, talkshow, dan pertunjukkan musik  hasil tiruan televisi asing, menyuburkan jejaring penjajah industri tontonan di negeri ini. Akibatnya, lahirlah budaya visual yang membelit rakyat Indonesia lewat program ideologi pembodohan yang secara sistematis di masukkan ke dalam otak rakyat Indonesia. Rakyat pun selalu diposisikan sebagai bangsa konsumen yang ditaklukkan dengan ideologi budaya instan, gaya hidup modern yang  konsumtif dan  hedonis.

Presiden yang terhormat,  jika pemerintah, pejabat publik dan anggota dewan  tidak segera berbenah diri,  rakyat pun semakin bersedih.  Ketika rakyat dirundung kesedihan permanen, maka kawula alit merasa hidup sendiri tanpa perlindungan dari pemerintah dalam melangsungkan hidup dan kehidupannya di jagad raya ini. Presiden yang terhormat, tegakah Anda dengan keadaan semacam ini?

Demikian surat terbuka ini, semoga Presiden yang terhormat berkenan membaca dan menindaklanjutinya dalam sebuah gerak langkah yang sesungguhnya. Selamat merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke 67. Merdeka!

*) Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Penulis dapat dihubungi di jejaring sosial twitter dengan akun @sumbotinarbuko

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

4 Balasan ke Benarkah Indonesia Tanah Airku?

  1. Sepertinya, tulisan tentang kita, bukan tentang tulisan di rombong.. 🙂

  2. Matjerachmat Dua berkata:

    Sumpah aku setuju… Mudah2 an bukan cuma Presiden yg akan megerti.. tapi juga para Anggauta DPR atau Kader Parpol yg merasa dirinya menjadi Wakil Rakyat (?) pdahal mereka cuma wakil partai yg tidak mewakili rakyat yg sebenarnya.. jadi cepat ” Sadar ” dan ” Waras ” hatinya… sebab nanti di ” Yaumil akhir ” kita akan dtanya yg sebenar2nya akan apa yg telah diperbuat di alam kehidupan ” Sementara ” ini…???

  3. Motamatika berkata:

    Indonesia sudah lama merdeka, tetapi rakyatnya masih dijajah oleh penguasa negeri

  4. parjono berkata:

    Euforia Demokrasi telah membutakan mereka terhadap pembangunan yg.langsung menyentuh kebutuhan/ harkat hidup orang banyak. Mereka para elit politik, elit penyelenggara negara saling0berlomba untuk memperkaya diri dan kelompoknya.Mereka lupa bahwa semua rakyat indonesia punya hak yang sama untuk menikmati kue kemerdekaan ini,0hanya karena mereka lebih kuasa/lebih punya kesempatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s