Ritual Mudik dan Fenomena Budaya ‘Pamer’

Oleh Sumbo Tinarbuko

 

Ilustrasi mudik yang dimuat di harian Kompas, garapan illustrator harian Kompas Jitet Koestana, menggambarkan romantika ritual mudik dan fenomena budaya pamer. Kenapa harus mudik? Kapan mudik?  Mudiknya naik apa? Itulah sepenggal  pertanyaan yang muncul di medio Agustus ini. Pertanyaan yang dimunculkan sesama  mudiker ini selalu diucapkan secara gethok tular. Mereka saling berkomunikasi untuk agenda mudik bersama menuju kampung halaman tercinta.

Ritual mudik selalu diawali dan diakhiri dengan penuh perjuangan dan bersusah payah. Tak jarang nyawa menjadi taruhannya. Meski menanggung resiko besar, ritual mudik selalu berputar kencang  untuk menyedot para penggembara dan perantau setia agar bersedia menyegarkan energi  yang kerontang akibat digilas mesin waktu kehidupan. Sebuah mesin raksasa yang menjadikan manusia perantau bagaikan mesin-mesin kecil yang dengan riuh rendah ‘memproduksi’ uang demi memenuhi kehidupan sang mesin kecil di tanah perantauan.

Perayaan Idul Fitri menjadi magnet besar  yang mampu menyedot  semangat  untuk  menggugah adrenalin rasa kangen seseorang pada kampung halamannya. Ia dimitoskan mampu membangunkan adrenalin rasa kangen seseorang pada orang tuanya, sanak saudara, sahabat dan kerabat. Keberadaannya pun mampu menggoyang  kerinduan seseorang atau sekelompak orang, agar setia mengunjungi kampung halamannya.

Harus diakui, mudik  bagi orang Indonesia, senantiasa menyembulkan  getaran romantisme tiada tara. Forum silaturahmi bernuansa kehangatan dengan lelaku saling bermaaf-maafan dalam genggaman tangan merupakan ritual tahunan untuk mencari jejak arti sang fitri yang bersumber dari tanah leluhur ibu pertiwi. Ritual mudik mensyaratkan pertemuan fisik antara sang pemudik dengan orang ‘udik’ yang menjadi penjuru inti hidup dan kehidupannya di tanah leluhur. Keberadaannya tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Momentum Idul Fitri menjadi hambar saat dimediasikan melalui beragam alat elektronik dan internet. Karena itulah, para mudiker, secara egaliter dapat bertemu siapapun di ‘udik’ tanpa ewuh pekewuh dengan pangkat dan jabatan sesama pemudik. Artinya, ketika sesama pemudik bertemu dalam forum silaturahmi di ‘udik’, maka semuanya menjadi indah dan bersahabat antara yang satu dengan lainnya. Fenomena nan fitri itu sulit ditemukan di jagat perantauan yang semuanya serba terukur dengan kasta, pangkat, dan jabatan.

Sayangnya, ritual mudik yang mengusung gerbong forum silaturahmi ini mulai terkontaminasi gurita kapitalisme global berbentuk  budaya konsumtif. Secara halus namun dahsyat, rayuannya mampu menelikung  para mudiker untuk memformat dirinya menjadi bangsa konsumen yang patuh untuk membeli apapun yang diperintahkan sang gurita kapitalisme global itu.

Hal ini terlihat dengan diusungnya budaya pamer harta benda oleh para mudiker. Budaya pamer berhasil memasuki relung kalbu orang ‘udik’ yang menjadi tuan rumah dan penerima tamu para mudiker. Tamu orang ‘udik’ selalu mendadani dirinya agar menjadi representasi orang kota yang terlihat modern dan seolah-olah kaya raya. Mereka merepresentasikan dirinya bagaikan artis dan aktor dengan kehidupan glamour yang sedang berakting di sebuah sinetron opera sabun.

Terlepas dari keprihatinan kita kepada para mudiker akibat cengkeraman gurita kapitalisme global, secara akal sehat,  hal seperti itu dapat sedikit dipahami, meski dengan hati ndongkol.

Lalu, bagaimana cara memahami para mudiker yang sedang keblinger?  Berikut ini hasil analisisnya: Secara psikologis, seseorang yang pamit merantau untuk mengubah garis hidupnya, dituntut mempertanggungjawabkan niatannya itu. Ketika para mudiker pulang ke kampung halamannya, pada saat itulah mereka sedang mempertanggungjawabkan status sosialnya sebagai seorang perantau yang ‘berhasil’. Karena sebagian besar para mudiker bekerja di rantau bermodalkan okol, maka bentuk pembuktiannya adalah memamerkan harta benda yang diperolehnya secara kasatmata.

Semuanya itu dilakukan untuk menunjukkan jatidirinya sebagai manusia modern bercita rasa dan  bergengsi tinggi yang  berhasil menguasai dunia. Demi melengkapi pertunjukan budaya pamer, peserta pameran mudik ini selalu mengkonsumsi apapun yang ditawarkan produsen jaringan kapitalisme global demi  memuaskan hasratnya akan materi dan gengsi.

Dampaknya, para mudiker terlihat sangat puas ketika tetangga dan sanak saudara di ‘udik’ memberikan predikat pada dirinya sebagai orang yang sukses hidup di kota. Pada titik inilah para mudiker secara tidak langsung telah menjadi agen kebudayaan kota yang permisif, artifisial dan konsumtif.

Para mudiker agen kebudayaan kota ini seakan membawa virus yang dalam berbagai kesempatan senantiasa bertabrakan dengan adat istiadat di desa. Sebuah kearifan lokal yang dipelihara secara turun temurun oleh para pemangku adat kebudayaan di desa mendadak  terpinggirkan akibat terpaan budaya pamer kekayaan saat ritual mudik berlangsung. Efek turunannya, dengan perlahan namun pasti, secara ideologis, para mudiker agen kebudayaan kota akan mengubah desa menjadi kota.  Kearifan lokal menghilang. Lokalitas keberagaman puncak-puncak kebudayaan Indonesia pun mendekati kepunahannya. Semuanya tampak seragam. Yang diakui hebat harus berbau modern, bercita rasa kota. Sedangkan yang ‘udik’ dianggap ndeso dan oleh karenanya harus digempur, diganti beraroma kota.

Ritual mudik dan budaya pamer yang diusung agen kebudayaan kota menyusup dengan nikmat di kampung halaman. Inilah realitas sosial di era budaya konsumtivisme yang telah  menjadi problem sosial  kebudayaan yang mahaberat bagi bangsa Indonesia.  Masalah tersebut sulit diurai, karena sebagian besar masyarakat Indonesia terlena oleh kenikmatan dan kehangatan budaya instan tersebut.

Meski ritual mudik dan budaya pamer kekayaan yang dipelopori agen kebudayaan kota  itu seolah-olah sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia, tetapi yakinlah, masih ada waktu untuk berbenah. Lalu bagaimana caranya untuk berbenah? solusi apakah yang layak diterapkan hal ini?

Jujur harus diakui, sebagai manusia kita memang membutuhkan materi. Hidup dan kehidupan ini tidak akan berputar  tanpa dukungan materi. Namun yang perlu diupayakan, bagaimana menjadikan materi sebagai tujuan utama kita membangun manusia Indonesia dalam konteks mencapai ketinggian derajat kemanusiaan secara proporsional. Yang harus dihindari adalah upaya untuk mengarahkan seluruh energi kemanusiaan demi memberhalakan materi lewat budaya pamer kekayaan duniawi.

Momentum mudik ini sebenarnya mengingatkan  kita bahwa  hidup dan kehidupan ini ibaratnya sekadar mampir ngombe alias hidup ini hanya sesaat. Untuk itu agar diperoleh keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual, kita harus senantiasa belajar menjalani hidup dan kehidupan ini dengan penuh kesederhanaan, berlaku bijaksana dalam kondisi  apa pun dan untuk siapa pun, serta semeleh dalam akal pikiran dan nalar perasaan.

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Penulis dapat dihubungi di akun twitter @sumbotinarbuko

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

4 Balasan ke Ritual Mudik dan Fenomena Budaya ‘Pamer’

  1. meda berkata:

    a thousand thumb up dedicated for u, dad

  2. w berkata:

    tetangga saya mengatakan bisa jadi para mudiker itu harus menabung, atau bahkan berhutang, agar bisa tampil ala orang kota yang sukses

  3. rbokatro berkata:

    mas w : itu namanya penyakit ‘asal sohor walau tekor’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s