Komodifikasi Kekerasan Di Ranah Publik

Oleh Sumbo Tinarbuko

13460845821126455269

Kekerasan menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain. Kekerasan dapat juga diartikan sebagai sebuah perilaku yang  menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Sedangkan mengeras, sesuatu yang sudah keras menjadi sangat keras.

Secara teoretis kekerasan versi Kamus Bahasa Indonesia sekarang menjelma menjadi kekerasan yang sebenarnya. Kekerasan demi kekerasan secara realitas sosial  bermuncul di ranah publik. Keberadaannya seakan menjadi ‘pemandangan indah’ di layar televisi dan di halaman depan media massa cetak, seperti: koran, tabloid dan majalah.

Bagi masyarakat perkotaan, warta tentang kekerasan senantiasa menjadi trending topic di seluruh social media sosiah, kemudian diurai panjang lebar dan agak vulgar oleh media massa cetak dan elektronik. Fenomena semacam itu dapat dikatakan sebagai salah satu contoh kekerasan visual yang mengeras di ranah publik.

Kekerasan yang disuguhkan pada masyarakat oleh warga masyarakat sendiri terjadi akibat ketidakpuasan sesaat atas sebuah keadaan tertentu terkuak dari kekerasan bentrok antar warga di Kabupaten Sampang Madura. Dalam catatan KOMPAS.com bentrok dua kubu antara penganut Syiah dan warga yang mengatasnamakan Sunni di Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Kabupaten Sampang pada Minggu (26/8/2012), salah satunya dilatarbelakangi kurangnya dialog keagamaan kedua belah pihak. Hal itu diungkapkan Menteri Agama RI Suryadharma Ali saat mendatangi lokasi peristiwa bentrokan, Senin (27/8/2012). Ke depan pihaknya akan memaksimalkan dialog itu. “Dialog sudah pernah dilakukan tapi kurang maksimal. Ini yang akan kita lakukan setelah melakukan tindakan emergency,” katanya.

Akibat miskomunikasi dan minimnya proses dialogis di antara kedua belah pihak, bentrokan fisik pun tidak dapat dielakkan. Dampaknya, korban berjatuhan. Ada yang luka-luka. Ada juga yang meninggal dunia. Harta benda ludes dari dekapan para korban.

Kekerasan Laku Jual

Kekerasan yang mengeras adalah fenomena kekerasan layak jual. Media massa cetak dan elektronik membungkus kekerasan yang mengeras itu menjadi sebuah komoditas  yang laris manis untuk dikomodifikasikan. Bentuk konkret komodifikasi kekerasan yang disuguhkan media massa cetak dan elektronik ditayangkan secara  detail dan vulgar. Efek dari komodifikasi kekerasan itu ditengarai menjadi semacam pembibitan baru bagi tunas kekerasan berikutnya. Mengapa? Karena fenomena kekerasan seakan menjadi kitab referensi yang memiliki energi kuat untuk memunculkan kekerasan berikutnya, tentu  dengan intensitas kekerasan yang lebih keras. Dan bagi para pengunjuk rasa, mengekespresikan kehendakhatinya dalam balutan kekerasan, adalah buah dari pembelajarannya selama ini.

Karena ada pemikiran bahwa kekerasan itu layak jual, maka kekerasan menempati posisi orbitnya menjadi kekerasan destruktif. Modus operandinya  sangat vulgar. Orang yang terlibat sebagai pelaku kekerasan menjadi sangat ekspresif dalam mengekspresikan ketidakpuasannya. Ungkapan ‘senggol bacok’ sekarang berubah menjadi realitas sosial yang dikedepankan oleh siapapun demi mempertahankan hak kepemilikan atas sikap, prinsip dan harta bendanya. Secara komunikasi visual, hal itu terlihat manakala tarikan urat otot menjadi andalan guna menyelesaikan konflik horisontal. Pada titik ini, orang gampang tersinggung hanya karena membaca sepenggal kalimat atau mendengar sebaris narasi verbal. Kata yang disuarakan dan ujaran yang dituliskan menjadi pedang trisula yang mampu merobek jantung hati siapa pun yang terprovokasi. Mereka yang tidak puas dengan keputusan atau seperangkat kebijakkan selalu memuaskan diri sembari mengayunkan tangan dan meregangkan otot emosi untuk memuaskan ketidakpuasan mereka.

Selain itu, kekerasan diposisikan menjadi bahasa baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pada tataran berikutnya, bentrokan missal  seolah  menjadi ‘solusi cantik’ yang dianggap mampu memuaskan hasrat kekerasan pelaku kekerasan. Dalam kesehariannya, mereka senantiasa menggali energi negatif  berwujud tabiat kasar. Visualisasinya digambarkan dalam sosok maskulin yang berteriak  lantang guna memaksakan kehendaknya untuk dituruti.

Lapar Beringas

Mengapa sebagian rakyat Indonesia cepat beringas dan mengedepankan perilaku kekerasan ketika menghadapi realitas sosial yang tidak berpihak pada dirinya?

Ditengarai, semuanya itu terjadi karena secara psikologis mereka memendam kecemburuan sosial. Sayangnya pemerintah tidak tanggap memahami kondisi sosial, budaya, dan ekonomi rakyat yang dipimpinnya. Pemerintah dalam menjalankan kebijakkannya terkesan setengah hati mengupayakan kesejahteraan rakyatnya. Realitasnya, justru menimbulkan kesenjangan sosial yang panjang melingkar. Dalam konteks ini, masyarakat dibiarkan lapar perutnya dan dahaga pikirannya.

Lapar perutnya terjadi karena mereka secara ekonomi tidak berdaya untuk memberdayakan hidupnya. Untuk makan kenyang, bagi mereka adalah  sebuah kemustahilan. Ketika lapar perut tidak pernah terselesaikan secara manusiawi, emosi sang lapar pun selalu membahana ke mana pun.  Maka, ketika lontaran kata yang disuarakan dan ujaran yang dituliskan menyinggung sanubari mereka, saat itulah menjadi sumbu peledak kerusuhan dan kekerasan massal.

Sementara itu dahaga pikiran dapat dituntaskan dengan memberikan ‘minuman’ semua pengetahuan yang disemaikan lewat jalur pendidikan formal maupun nonformal dengan sebenar-benarnya. Ketika pendidikan tidak dianggap sebagai bagian dari investasi meningkatkan wawasan dan intelektualitas masyarakat, pasti selalu terjadi kerusuhan massal dan tindakan anarkis yang merugikan siapa pun. Pendidikan yang mengajarkan keseimbangan raga, mental dan spiritual diyakini mendewasan peserta pendidikan dalam berkarya nyata di tengah masyarakat. Garansinya, semakin banyak masyarakat menempuh pendidikan yang mampu memerdekakan nalar perasaan dan akal pikirannya, maka hal-hal menuju bentuk kekerasan fisik yang bermuara pada anarkisme dapat diredam. Mereka selalu berupaya menghidupi kehidupan ini dengan penuh kemuliaan, bukannya mematikan kehidupan ini dengan berbagai kematian akal pikiran dan nalar perasaan.

Seimbangkan Hak dan Kewajiban

Di dalam fenomena kekerasan yang mengeras sekarang ini, sebenarnya warga masyarakat merasakan kelelahan sosial akibat rasa keadilan yang berkemanusiaan semakin menipis dalam genggaman kehidupan sehari-harinya.

Untuk itu, agar ritme kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia ini adem ayem, seyogianya secara serius dan terus menerus, perlu dikembangkan sikap menjaga keseimbangan hak dan kewajiban antar warga negara dengan menghormati hak orang lain dalam konteks keberagaman yang berkeadilan dan keberadaban bagi sesama umat manusia. Dalam konteks ini, pemerintah,  pejabat publik  dan wakil rakyat harus berani memberikan makna baru atas rasa keadilan yang  berkeadilan demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian rakyat kecil yang jumlahnya ratusan juta jiwa ini tidak mengalami kesulitan mendapatkan rasa keadilan yang hakiki seperti digariskan Pancasila.

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com), Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual  ISI Yogyakarta. Follow me @sumbotinarbuko

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

2 Balasan ke Komodifikasi Kekerasan Di Ranah Publik

  1. mga berkata:

    tulisanya bagus mas. terimaksih.

  2. pascalis berkata:

    klo kekerasan menjadi komodifikasi media massa dan menumbuhkan efek pembibitan kekerasan. sebagai pengamat komunikasi visual apa yang perlu disadari oleh media dari tayangan kekerasan tersebut, mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s