Menyorot Musim Paceklik Kreativitas di Pendidikan Tinggi Komunikasi Visual

Oleh Sumbo Tinarbuko

Kenapa lingkungan pendidikan (tinggi) formal jurusan periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia mengalami masa paceklik kreativitas?

Kenapa pula mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan jurusan periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia diterpa musim paceklik serta tersandung wabah miskin imajinasi dan ide yang seragam?

Di satu sisi, tuntutan yang sangat ideal dari pihak industri ekonomi kreatif , khususnya industri komunikasi visual dan periklanan dengan serta merta memunculkan permasalahan klasik yang sulit diurai. Benang kusut semacam itu terjadi akibat bentuk kurikulum, silabus, dan sistem akreditasi atas penyelenggaraan lembaga pendidikan tinggi periklanan dan desain komunikasi visual yang lebih menitikberatkan pada aspek administrasi pendidikan periklanan dan desain komunikasi visual. Bukan pada bagaimana mengembangkan dan melakukann eksperimen kreatif atas realitas sosial yang terkait dengan karya desain iklan dan desain komunikasi visual.

Sementara itu, parameter keberhasilan sebuah proses kreatif dan inovatif di lingkungan pendidikan tinggi desain komunikasi visual  dan periklanan dapat  dilihat manakala para peserta didik mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap pemecahan masalah komunikasi baik secara verbal maupun visual, lancar dan orisinal dalam berpikir kreatif, fleksibel dan konseptual, cepat mendefinisikan dan mengelaborasi berbagai macam persoalan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di segala lini hidup dan kehidupan ini.

Pada titik inilah yang menyebabkan pendidikan tinggi periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia mengalami masa paceklik kreativitas. Selain itu, fenomena semacam ini pula yang menyebabkan kenapa mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia mengalami kemiskinan imajinasi dan sindrom paritas ide?

Dua Kelompok Dosen

Ditengarai, faktor sumber daya manusia di lembaga pendidikan tinggi periklanan dan desain komunikasi visual ikut mengusutkan benang permasalahan yang sudah kusut. Aspek sumber daya manusia itu terkait dengan kualitas dan kompetensi dosen. Tercatat, dosen pengajar periklanan  dan desain komunikasi visual terbelah menjadi dua kelompok besar, antara yang satu dengan lainnya menghuni kubu yang saling bertolak belakang.

Pertama, dosen full akademik cenderung ‘pemalu’. Keberadaannya kurang mengikuti perkembangan industri kreatif  bidang periklanan  dan desain komunikasi visual yang senyatanya. Dosen full akademik jarang yang mau bergaul lintas akademik, maupun lintas disiplin ilmu. Dosen full akademik cenderung sering merasa kagok ketika berhadapan dengan kawan-kawan praktisi periklanan dan desain komunikasi visual yang kehidupan sehari-harinya meronai industry ekonomi kreatif  khususnya industri periklanan dan desain komunikasi visual.

Kedua, dosen dengan seragam praktisi murni yang waktunya lebih banyak difokuskan untuk mencari billing, mengejar klien dan mencari ide  baru untuk eksekusi verbal visual pekerjaan kreatifnya. Akibatnya, kedua karakter dan sifat dosen semacam ini sulit disinergikan.

Untuk meminimalisir hal tersebut, seluruh sarana dan prasarana pendidikan, kualifikasi sumber daya manusia (dosen dan mahasiswa), kurikulum pendidikan, peraturan akademik dan lainnya difokuskan untuk menjawab pernyataan kritis di atas: kenapa lingkungan pendidikan periklanan dan desain komunikasi visual Indonesia mengalami masa paceklik kreativitas? Kenapa pula mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia tersandung wabah miskin imajinasi dan paritas ide?

Jawaban konkretnya, dosen yang ada dalam kelompok besar yang berbeda dan mahasiswa saling bergandengan menuju satu tujuan bersama. Selain itu, lewat proses belajar mengajardiharapkanmampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan komunikasi visual melalui studi kepustakaan dan lapangan, guna meningkatkan wawasan di bidang desain komunikasi visual dan periklanan. Mereka harus memiliki kreativitas yang tinggi untuk melakukan eksperimen-eksperiman kreatif dan menghasilkan inovasi baru, baik dari segi fungsional maupun estetika komunikasi visual. Hal itu wajib dijalankan sebagai upaya memberi nilai tambah terhadap karya-karya yang dihasilkan.

Berikutnya, mereka dapat menciptakan karya desain iklan dan desain komunikasi visual yang mengedepankan unsur kebaruan (novelties) dengan mengedepankan aspek lokalitas budaya lokal Indonesia, komunikatif dan persuasif. Terakhir,mereka mampu melakukan prosedur penelitian, perencanaan (designing), serta melakukan presentasi, sebagai pertanggungjawaban secara konseptual atas semua karya desain  iklan  dan desain komunikasi visual yang telah mereka buat.

Merangkul Budaya Lokal

Masalah lokalitas budaya lokal Indonesia perlu digarisbawahi di sini. Mengapa? Karena budaya lokal Indonesia perlu dirangkul menjadi kekayaan imajinasi dan sumber kreativitas bagi proses penciptaan karya desain iklan dan desain komunikasi visual, baik di lingkungan pendidikan periklanan maupun desain komunikasi visual, serta bagi insan kreatif profesional di industri periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia.

Sayangnya, mereka yang ada di industri komunikasi visual memiliki cacat rasa akibat dari kurangnya rasa percaya diri sebagian besar insan kreatif periklanan dan desain komunikasi visual di Indonesia. Mereka merasa gamang untuk merangkul dan memanfaatkan budaya lokal Indonesia agar  menjadi pijakan untuk berkarya kreatif secara dahsyat.

Solusinya, para kreator periklanan dan desainer komunikasi visual di  Indonesia sudah saatnya berpaling pada budaya lokal  bangsa Indonesia. Sebab dengan menyandarkan diri pada budaya lokal Indonesia, di situlah letak kekuatan pesan verbal dan pesan visual karya desain iklan dan desain komunikasi visual Indonesia.

Dengan mengedepankan budaya lokal, akan menumbuhkan keberagaman sudut pandang komunikasi visual dan berujung pada outcome ide dalam balutandesain iklan dan desain komunikasi visual yang yahud dengan berdasarkan Etika Periklanan Indonesia (EPI) yang mengedepankanaspek moralitas,  kearifan budaya lokal, dan adat istiadat asli bangsa Indonesia.

Mengapa hal itu perlu ditekankan? Sebab dengan mengadopsi adat istiadat yang berlaku, menjunjung tinggi moralitas, dan mengedepankan kearifan budaya lokal untuk kemudian  diangkat menjadi inspirasi, sumber ide, dan gagasan, serta sebagai perangkat lunak untuk mengomunikasikan beragam pesan verbal dan pesan visual yang bersifat komerisal, sosial, atau pun moral kepada masyarakat luas, maka berbagai anggitan karya iklan dan karya desain komunikasi visual yang dihasilkan oleh tangan-tangan kreatif periklanan dan desainer komunikasi visual di Indonesia akan menjadi penanda zaman yang cukup kuat atas keberadaan sebuah karya desain iklan dan karya desain komunikasi visual yang memberikan aksentuasi positif bagi perkembangan perikehidupan masyarakat. Ujungnya diharapkan  mampu mencerahkan pemikiran dan perasaan umat manusia yang hidup dan mengisi kehidupannya sesuai dengan talenta masing-masing.

Selain itu, ketika parakreator periklanan dan desainer komunikasi visual Indonesia senantiasa mengedepankan lokalitas budaya lokal semakin membuncahkan ciri khas dan keunikan karya desain iklan  dan desain komunikasi visual di Indonesia. Dampak turunannya akan memunculkan gerakan iklan, periklanan dan desain komunikasi visual Indonesia  yang  mengedepankan  konsep kreatif dengan pendekatan kebudayaan lokal Indonesia yang berbudaya.

Hubungan Sinergis

Berdasar kenyataan tersebut, ada baiknya mulai dipikirkan bagaimana upaya positif menjalin hubungan sinergis antara jagad industri ekonomi kreatif, asosiasi profesi, para alumnus, lembaga pendidikan tinggi periklanan dan lembaga pendidikan tinggi desain komunikasi visual di Indonesia.

Upaya menjalin  hubungan profesional yang saling membahagiakan semacam itu perlu segera diupayakan karena pihak industri menginginkan lulusan jurusan periklanan dan desain komunikasi visual yang siap pakai dengan segala amunisi yang dimiliki.

Ketika pengelola industri kreatif menuntut penguasaan berbagai bidang ketrampilan terkait  skill komunikasi visual, pencarian dan pengungkapan ide gagasan, pengetahuan konsep periklanan dan karya komunikasi visual yang sudah dieksekusi, kepiawaian berkomunikasi, maupun penguasaan software dan hardware komputer.  Ironisnya, pihak industri kreatif kurang berkenan memikul tanggung jawab sebagai ‘sekolah lanjutan’ bagi lulusan perguruan tinggi periklanan dan desain komunikasi visual yang akan memasuki dunia industri periklanan dan komunikasi visual.

Karena itulah, sudah saatnya ranah industri kreatif periklanan dan desain komunikasi visual  maupun ’industri pendidikan periklanan dan desain komunikasi visual’ saling berbagi pengalaman dan bahu membahu antara yang satu dengan lainnya. Karena masing-masing pendidikan periklanan  dan desain komunikasi visual memiliki keunikan serta kelebihan tersendiri. Dengan demikian, di dalamnya terjadi hubungan simbiosis mutualistis.  Hal itu akan sangat membahagiakan ketika di antara parapihak dapat saling memahami kurikulum, karakter dan visi misi dari pendidikan periklanan dan desain komunikasi visual itu sendiri.

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) Konsultan Komunikasi Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Artikel ini ditulis untuk Majalah Titik Dua HIMDKV Univ Binus Jakarta, Edisi #3. Follow me @sumbotinarbuko

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Artikel DKV. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s