Logo Penanda Yogyakarta

logo penanda yogyaPro kontra rebranding logo Yogyakarta usai sudah. Rakyat Yogyakarta berkenan menerima logo Jogja Istimewa pilihan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Kini, logo penanda Yogyakarta mulai diperkenalkan pada khalayak ramai sebagai representasi penanda visual wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk sosialisasi dan penggunaan logo serta tagline baru Jogja Istimewa, Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur DIY, telah keluarkan surat edaran yang ditujukan kepada bupati, walikota, pejabat publik dan masyarakat luas (KR, 23/2/2015).

Terlepas dari proses panjang penetapan logo sebagai penanda Yogyakarta, masalahnya sekarang adalah bagaimana di dalam logo tersebut dapat disematkan roh perubahan. Artinya, penetapan desain logo sebagai penanda baru Yogyakarta, tidak sebatas visual logo tersebut. Tetapi visual logo harus jadi lokomotif perubahan Yogyakarta yang istimewa.

Kata istimewa yang menjadi tagline logo Yogyakarta dipahami sebagai  representasi  linier antara kata dengan perbuatan. Dengan demikian, kata istimewa merepresentasikan pemerintah dan masyarakat Yogyakarta yang senantiasa bertanggung jawab serta mempertanggungjawabkan antara kata yang diucapkan, selaras sejalan dengan laku perbuatan yang dijalankannya.

Selain itu, visual logo harus jadi medium simbolik gerakan kebudayaan membersihkan sampah budaya. Sebuah gerakan kebudayaan berbasis masyarakat dan dinas terkait untuk mengatasi sampah budaya yang mengotori Yogyakarta. Paling tidak ada lima jenis sampah budaya yang menyebabkan ruang publik dan tata ruang wilayah Yogyakarta tidak terlihat istimewa. Kelima sampah budaya itu adalah: 1) sampah arsitektur. Keberadaan sampah ini menyebabkan perubahan cepat beberapa kampung jadi kawasan bisnis, hotel dan kafe. Secara visual, rancang bangun dari sampah arsitektur ini tidak mengadopsi arsitektur bergaya Yogyakarta. Yang ditonjolkan bergaya minimalis menyerupai gupon dara. 2) Sampah visual. Penempatan iklan luar ruang yang tidak diatur sesuai peruntukannya, menyebabkan tebaran sampah visual tidak terkendali. 3) Trotoar, taman kota dan ruang terbuka hijau sudah kehilangan fungsinya. Ketika tempat itu tidak dihadirkan untuk memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi warga yang ada di kawasan tersebut. 4) Pengaturan dan penempatan pedagang kakilima. Keberadaan pedagang kakilima di satu sisi dibutuhkan, tapi di sisi lain menganggu kenyamanan warga dan wisatawan yang ada di ruang publik. 5) Lalulintas. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan rendahnya sikap sopan santun berkendara, menyebabkan Yogyakarta menjadi semakin macet dan sumpek.

Sampah budaya yang muncul dan mengotori ruang publik Yogyakarta saatnya diantisipasi. Lewat gerakan kebudayaan yang disimbolisasikan dengan kehadiran logo baru, dapat menjadi awalan yang baik, agar gerbong perubahan renaissance Yogyakarta dapat bergerak seiring dengan perubahan itu sendiri.

Pejabat publik dan dinas terkait harus secepat mungkin berbenah lewat perencanaan program dan pelaksanaan rencana kerja yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Bukan berorientasi pada proyek dengan tolok ukur statistik berbasis angka yang kering kebermanfaatannya.

Terpenting, keberadaan logo penanda Yogyakarta diharapkan mampu memberikan energi positif kepada pemerintah dan masyarakat untuk menjadi manusia istimewa yang konsisten dan bertanggung jawab. Menjadi manusia yang senantiasa mengedepankan rasa kemanusiaannya. Menjadi manusia beradab yang selalu memajukan keselarasan antara kata yang diucapkan dengan laku perbuatan yang dijalankannya.

Sekarang saatnya menumbuhkan peradaban baru dengan menyandarkan diri pada konsep renaissance Yogyakarta, seperti disabdakan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

*) Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 26 Februari 2015 | Follow Twitter @sumbotinarbuko

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Artikel DKV. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s