(Analisis KR) Kampanye Kreatif Bahaya Narkoba

Dr Sumbo Tinarbuko

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbuka di Kantor Presiden Jakarta, seperti dikutip Harian Kedaulatan Rakyat (25/2/2016), membahas masalah narkoba. Pembahasan tersebut dianggap penting, karena angka penyalahgunaan narkoba mencapai 5 juta. Hal penting lainnya, jumlah penduduk yang besar, oleh sindikat narkoba internasional, diposisikan sebagai pasar potensial di kawasan Asia Tenggara.

Atas dasar itulah, Presiden Joko Widodo menginginkan disusun langkah konkret guna memberantas narkoba. ‘’Harus ada langkah-langkah pemberantasan narkoba yang lebih gila, gencar, dan berani. Lebih komprehensif dan terpadu,’’ tegas Presiden. Ditambahkannya, langkah terpadu dan komprehensif itu, pertama, BNN, Polri, TNI, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Dirjen Bea dan Cukai, harus bergerak bersama, bersinergi. Kedua, nyatakan perang terhadap Bandar dan jaringan narkoba, ‘’Tapi juga penanganan hukum itu harus keras, lebih tegas lagi pada jaringan- jaringan yang terlibat’’.

Ketiga, lanjut Presiden, tutup semua celah penyelundupan narkoba karena narkoba sudah merasuk ke mana-mana. Keempat, Presiden berharap agar digencarkan kampanye kreatif bahaya narkoba. Kelima, Presiden mengingatkan perlu ditingkatkan pengawasan yang ketat pada lapas, sehingga lapas tidak dijadikan pusat penyebaran dan peredaran narkoba. Keenam, Presiden mengharapkan program rehabilitasi penyalahgunaan dan pecandu narkoba berjalan baik, ‘’Programnya harus berjalan efektif, sehingga rantai penyalahgunaan narkoba bias betul-betul terputus’’.

Berdasar hasil rapat terbuka yang digelar Presiden Joko Widodo terkait masalah narkoba, tulisan ini mengerucut pada harapan orang nomer satu di Indonesia perihal kampanye kreatif bahaya narkoba.

Pertanyaannya, kenapa Presiden Joko Widodo mengharapkan kampanye kreatif bahaya narkoba berjalan secara terpadu dan komprehensif? Harus diakui, secara kasatmata dapat disaksikan sejumlah karya komunikasi visual dan iklan layanan masyarakat yang memuat pesan bahaya narkoba, terpasang di berbagai sudut kota. Realitas media (media massa cetak dan elektronik) juga mencatat tayangan dan pancangan kampanye bahaya narkoba yang dipaksa memasuki relung kalbu masyarakat.

Realitas sosial dan realitas media telah memaparkan fakta pesebaran kampanye bahaya narkoba. Sayangnya, pemanfaatan media komunikasi visual dan iklan layanan masyarakat untuk kampanye bahaya narkoba tidak diikuti upaya pemecahan masalah komunikasi visual. Artinya, konsep kreatif kampanye bahaya narkoba tidak melibatkan pemikiran perencanaan strategi kreatif berdasarkan permasalahan yang ada. Representasi komunikasi visual yang mewadahi pesan verbal dan pesan visual kampanye bahaya narkoba hanya ditampilkan ala kadarnya. Membosankan dan tidak mampu mengedukasi target sasaran.

Sering juga dijumpai pesan komunikasi visual kampanye bahaya narkoba hadir dengan penyajian bersifat paritas. Keberadaannya kurang menghadirkan daya ganggu atas keberlangsungan kampanye bahaya narkoba. Secara visual, terkesan tampil sporadis. Ditilik dari perencanaan strategi kreatif tidak terjalin benang merah antara perwujudan pesan komunikasi visual yang satu dengan lainnya. Dampak visualnya, pada waktu bersamaan masyarakat menyaksikan pesan yang berbeda atas pesan verbal dan pesan visual kampanye bahaya narkoba.

Lebih membosankan lagi, tampilan komunikasi visual kampanye bahaya narkoba senantiasa menyajikan fragmen vsual pengguna narkoba lengkap dengan asesorisnya. Antara lain: jarum suntik, bong penghisap, lintingan rokok, dan daun ganja. Dihadirkan juga secara realis fotografis berbagai macam pil surga, terali besi penjara, borgol, rumah sakit, kuburan dan tengkorak. Dengan visualisasi pesan verbal dan pesan visual yang ceriwis dan mengedepankan pendekatan negativisme ini, dampak komunikasinya justru antiklimaks. Artinya target sasaran yang dituju merasa tidak menjadi sasaran kampanye bahaya narkoba. Hal itu mengemuka, karena mereka tidak mendapatkan sesuatu atas pesan verbal dan pesan visual kampanye bahaya narkoba yang disampaikan oleh para komunikator. Dengan demikian, kampanye bahaya narkoba menjadi kurang berarti.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah yang peduli atas fenomena tersebut di atas?

*) Dr Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Rabu Legi, 2 Maret 2016 | Instagram @sumbotinarbuko | Twitter @sumbotinarbuko

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di Artikel DKV. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s