(Analisis KR) Dogma Reklame

Dr Sumbo Tinarbuko

dogma reklame 4 agustus 2016

‘’Reklame Melanggar Tak Kunjung Ditertibkan. Aturan Lengkap, Belum Ada Tindakan.’’ Demikian judul liputan harian Kedaulatan Rakyat (28/7/2016) yang menyorot mandulnya Perda No 2/2015 tentang Penyelenggaraan Reklame. Hal sama sebangun terjadi pada Perwal No 23/2016 berisi petunjuk pelaksanaan Perda No 2/2015.

Saat menyimak Perda penyelenggaraan reklame dan Perwal yang mengatur pelaksanaan teknis izin pemasangan reklame, patut diduga banyak menemui jalan buntu. Kendala terberat terlihat lemahnya sisi pengawasan. Bahkan tampak tak berdaya dari perspektif penegakan sanksi hukum.

Dampaknya, meski kedua produk hukum yang disusun bertahun-tahun dan menyedot banyak dana operasional, ternyata tidak sedikit pun membuat takut pemain reklame media luar ruang.  Oknum pelaku teroris visual sengaja dan dengan seenak wudelnya sendiri menebar sampah visual iklan komersial dan iklan politik di ruang publik.

Bagi para teroris visual, dogma reklame dan ruang publik adalah tambang emas. Dogma reklame mengajarkan agar pesan verbal dan pesan visual direkayasa sedemikian rupa. Hal itu dilakukan demi menyegerakan munculnya gangguan visual di ruang publik. Saat warga yang beredar di ruang publik menerima secara sadar gangguan visual tersebut, pada saat itulah dogma reklame dengan serta merta berkembang biak menjadi sebuah ideologi.

Demi mengembangbiakkan dogma reklame, pemilik merek dagang dan pengurus partai politik yang diwakili para kreator komunikasi visual, dengan riang gembira menebarkan ranjau realitas semu. Ramuannya dikonstruksikan dengan cantik. Seolah nyata di ruang publik. Calon konsumen dan calon pemilih dihipnotis selera duniawinya. Secara visual mereka dirangsang untuk mengikuti ajakan pesan komersial  dan pesan politik yang ditebarkan di ruang publik.

Munculnya dogma reklame menyebabkan media iklan luar ruang dimitoskan menjadi satu-satunya media yang berwibawa.  Ketika tebaran pesan komersial dari merek dagang dan pesan politik yang dikumandangkan partai politik menjajah sebagian besar ruang publik. Pada titik itulah, bencana sampah visual pun mengancam semua warga di kawasan tersebut. Pemasangan iklan komersial dan iklan politik di ruang publik yang menisbikan etika, estetika dan ekologi visual berujung menjadi bencana sosial.

Para pelaku teroris visual hadir bagaikan pembunuh berdarah dingin. Dengan bersenjatakan dogma reklame, mereka sangat sadis menyiksa batang pohon,  dan ruang terbuka hijau. Mereka mengotori bangunan bersejarah, trotoar,  tiang telepon, dan tiang listrik. Puncaknya, mereka merasa sangat berbahagia ketika berhasil merusak estetika keindahan kota.

Perang antariklan komersial dan iklan politik yang ditancapkan di ruang publik  terlihat sangat seru. Keberadaannya bagaikan layar tancap. Ditumpuk undung dalam satu tempat yang sama. Akibatnya, hipnotis visual pesan komersial dan janji politik yang tercetak  serta terpasang di badan iklan luar ruang yang diterbarkan di ruang publik, tidak terbaca bahkan sulit singgah di benak target sasaran.

Ketika bencana sosial berwujud tebaran sampah visual iklan komersial dan iklan politik  tidak mampu diatasi. Banyak pihak menganggap kota tersebut tidak memiliki etika visual saat berkomunikasi di ruang publik. Terpenting, ramah tidaknya sebuah kota bagi wisatawan dan warganya, salah satu indikatornya terlihat sejauh mana pemerintah dan pejabat publik mampu menghilangkan atau minimalnya menekan tebaran sampah visual.

Secara psikologis, teror visual berwujud sampah visual iklan komersial dan iklan politik yang ditebarkan secara sembarangan di ruang publik, menyebabkan kemerdekaan visual di ruang publik terbelenggu. Terbayang wajah kota mendadak berubah fungsi menjadi kotak sampah. Wajah kota menjadi tempat pembuangan akhir sampah visual  iklan politik dan iklan komersial. Jika itu terjadi, selamat datang bencana sosial.

(Dr Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Kamis Legi, 4 Agustus 2016 | Website: sumbotinarbuko.com/cv-sumbo | Follow IG: @sumbotinarbuko | Twitter: @sumbotinarbuko | Facebook: @sumbotinarbuko)

 

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di about me. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s