Sumbo Tinarbuko: Ini Sejarah Sampah Visual di Yogyakarta

SUMBO Tinarbuko, pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang dikenal sebagai ‘Doktor Pemulung Sampah Visual’ mengungkapkan kesesalannya terkait banyaknya sampah visual yang dilakukan kaum terpelajar. Ia menganggap, akar permasalahan dari problematika ini bisa bermula dari ketidakmampuan mahasiswa melakukan proses komunikasi yang baik.

“Jadi cilakanya mereka melakukan proses komunikasi (dengan menempel seperti itu), tapi justru menunjukkan bahwa mereka tidak bisa berkomunikasi. Jadinya miskomunikasi. Bagaimana mereka nanti mau pimpin Indonesia jika tidak bisa berkomunikasi?” ungkapnya penuh canda ketika diwawancarai KRjogja.com via sambungan telpon, Kamis (23/03/2017). Menurut aktivis Komunitas Reresik Sampah Visual ini proses lingkaran setan tersebut tak bisa ditilik semata dari mahasiswa. Ada sejarah panjang yang menyebabkan mahasiswa termotivasi untuk meniru metode penempelan sampah visual di pinggir jalan.

Walaupun sejak era kerajaan Mataram, penjajahan Belanda maupun Jepang media komunikasi visual telah digunakan di Yogyakarta, jumlahnya tak semasif ketika era meledaknya industri rokok sejak tahun 1970an. Sejak itulah, iklan visual menjelma menjadi sampah visual bahkan vandalisme.

Iklan visual industri rokok bermula dari ketertarikan industri rokok atas status Yogya sebagai kota pelajar. Dengan tujuan menjadikan anak muda sebagai perokok baru, pengusaha rokok menenmpelkan iklan di tembok, pagar, hingga di kaca toko. Sebagian berizin dan membayar retribusi, namun tak sedikit pula yang asal tempel.

“Dan sejak awal mula sampah visual tersebut, iklan rokok terbukti jelas tidak efektif,” ujar Sumbo. Anggapannya tersebut didasari atas jarak iklan visual yang ditempel sangat berdekatan dan berjumlah masif. Selain itu, gambar yang sama dan berulang membuat masyarakat yang menyaksikan tidak tertarik.

Belum lagi, jika iklan tersebut ditumpuk dengan iklan lain maupun luntur dan mengelupas. Sehingga tak ada lagi unsur estetika dan membuat minat pemirsa yang diharapkan industri rokok bisa digaet justru sirna.

“Bahkan kadang lemnya belum kering, pesaingnya datang. Menumpuk iklan tersebut dengan iklan baru. Jadi efektifnya hanya untuk pemulung (mendapat selebaran banyak untuk dikilo),” kata Sumbo sembari menghela nafas.

Namun industri rokok menurutnya, tetap bisa meraih hasil penjualan yang baik karena mereka juga beriklan di media besar layaknya TV dan billboard. Iklan visual yang ditempel di jalan oleh industri rokok hanya dijadikan pengingat saja.

Utamanya ketika menunggu lampu merah atau kemacetan. Agar para perokok jika ingin membeli, langsung teringat pada merk rokoknya lalu menepi ke toko kelontong terdekat.

(Wawancara ini dimuat di KROnline, Jumat, 24 Maret 2017 | Jam 02:54 WIB | Editor: Agung Purwandono | Reporter: Ilham Dary Athalah)

http://krjogja.com/web/news/read/28001/Ini_Sejarah_Sampah_Visual_di_Yogyakarta

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di about me. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s