(Aspirasi Harjo) Persuasi Visual di Tahun Politik

Persuasi Visual di Tahun Politik 27 januari 2018

(Aspirasi Harjo) Persuasi Visual di Tahun Politik

Sumbo Tinarbuko
Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

Tahun politik 2018 baru menggelar perjalanan satu bulan kalender berjalan. Meski baru buka lapak sekitar 30 hari, nuansa lapak tahun politik sudah hingar bingar layaknya pasar malam sekaten. Beragam dagangan politik yang diinisiasi partai politik atau tim sukses pemburu kursi kekuasaan dijual bebas di ruang publik.

Sudah menjadi rahasia umum di tahun politik. Agar dapat melenggang bersama selendang kekuasaan, calon penguasa harus menumpang kendaraan ajaib bernama partai politik. Tanpa itu, muskil! Meski realitas sosialnya Anda pandai, kreatif, berwibawa dan kaya. Tetapi ketika selendang kekuasaan dari partai politik tidak dapat semampir di pundak Anda. Jangan harap Anda akan menjadi pejabat publik, anggota dewan ataupun penguasa daerah yang memiliki kesaktian untuk berkuasa di setiap strata kekuasaan.

Komodifikasi Kekuasaan

Ketika syarat hidup matinya calon penguasa sudah didapatkan dari partai politik, otomatis selendang kekuasaan tersematkan di pundak calon penguasa. Saatnya sang calon penguasa dan politisi instan memopulerkan dirinya. Caranya pun dilakukan secara instan lewat persuasi visual berwujud iklan politik.

Atas nama komodifikasi kursi kekuasaan menyebabkan para pemburu kuasa mencari perhatian publik lewat iklan politik. Pada titik ini, persuasi visual menjadi andalan para pemburu kuasa. Proses persuasi visual menjadi cara yang dimitoskan mampu mendongkrak kepopulerannya.

Mereka kemudian masuk wilayah pencitraan dengan cara menyitrakan dirinya seolah penguasa merakyat. Mereka memperkenalkan dirinya sebagai pribadi yang baik, santun dan soleh. Mereka menonjolkan dirinya sebagai pribadi yang bertanggungjawab atas permasalahan sosial, budaya dan ekonomi. Hal itu dilakukannya seraya menjanjikan perbaikan dan perubahan yang dipamerkannya dalam pancangan iklan politik di ruang publik.

Lewat persuasi visual yang terpampang di ruang publik, mereka menyontohkan kejujuran dan religiusitas. Memprioritaskan pendidikan. Senantiasa menolong yang lemah lewat sikap kedermawanan dan cinta kasih. Mereka secara meyakinkan mempersuasi calon pemilih bahwa dirinya mampu bekerja keras untuk menyejahterakan rakyat. Semuanya itu dilakukannya secara sadar sebagai upaya mempersuasi calon pemilih untuk mendudukkan sang calon penguasa di kursi kuasa yang diburunya.

Janji Gombal-Gambul

Masyarakat menilai gaya komunikasi politisi dan calon penguasa instan cenderung seragam. Konsep persuasi visual yang digelar lewat iklan politik bergaya hardsell. Bagi mereka, konsep semacam itu diyakini mujarab guna mendongkrak popularitas sang pemburu kuasa. Kemudian muncullah kemasan iklan politik yang menawarkan janji gombal-gambul.

Tepatkah konsep komunikasi politik bergaya hardsell? Dalam konteks ini, gaya komunikasi sang pemburu kuasa bersifat artifisial. Dalam perspektif budaya visual, siasat jualan gambar wajah politisi instan dan sang pemburu kuasa, menjadi antiklimaks dalam proses komunikasi politik. Jika dipaksakan, apa yang akan terjadi? Mereka jelas tidak akan mampu meraih simpati.

Di sisi lain, pilihan cara memilih media iklan luar ruang sebagai cara tunggal beriklan politik dinilai kurang efektif. Semenjak berkembangnya budaya layar, iklan politik yang ditancapkan di ruang publik tidak banyak dilihat orang. Kenapa demikian? Karena target sasaran dari iklan tersebut lebih suka memainkan gadgetnya saat kemacetan lalu lintas menghadang pengguna jalan. Selain itu, rakyat sebagai target sasaran iklan politik semakin cerdas terhadap realitas politik yang ada. Rakyat pun menilai, iklan politik yang ditebarkan di ruang publik adalah tindakan narsis dan omong kosong yang membual janji kosong.

Di mata rakyat, persuasi visual yang mereka lakukan menampakkan dirinya seorang teroris visual. Penjahat visual yang sangat bahagia menjadi orang jahat yang suka menebar sampah visual iklan politik. Kejahatannya membunuh estetika kota. Kejahatannya mengganggu ekologi visual di ruang publik. Dampak visual selanjutnya akan terjadi miskomunikasi antar parapihak. Lebih mengerikan akan muncul konflik publik di ruang publik. Siapakah yang berkonflik? Tentu saja masyarakat sebagai calon pemilih melawan politisi instan dan sang pemburu kuasa yang mengumbar janji gombal-gambul.

Agar tidak muncul konflik visual di ruang publik, tidak ada salahnya jika politisi instan dan sang pemburu kuasa bersama tim suksesnya menahan diri. Seyogianya rangkaian proses persuasi visual yang dikemas menjadi iklan politik dan alat peraga kampanye diposisikan sekadar media pengingat. Bukan diagung-agungkan menjadi media utama kampanye.

Akan lebih elok lagi manakala politisi instan dan sang pemburu kuasa langsung terjun ke daerah pemilihannya. Rangkul, ajak dan sapalah para calon pemilih dengan pendekatan komunikasi cinta. Bekerja dan dampingi masyarakat di daerah pemilihan sang pemburu kuasa agar mereka menjadi manusia mandiri. Selain itu, hasil karyanya bermanfaat bagi sesama umat.

(Dr Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di kolom Aspirasi Harian Jogja, Sabtu Pahing, 27 Januari 2018 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko, Facebook: @sumbotinarbuko)

Iklan

Tentang sumbotinarbuko

Creative Advisor and Consultant of Institute Sumbo Indonesia, and Lecturer of Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa and Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta
Pos ini dipublikasikan di about me. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s