(OPINI KOMPAS) Kuasa Kata

Oleh Sumbo Tinarbuko

Kuasa Kata Oleh Sumbo Tinarbuko

Kuasa kata menjadi kambing hitam terjadinya perang pesan verbal antar warganet di medsos. Kuasa kata yang mewujud menjadi ujaran nyinyirisme biasa berkelindan dalam pemandangan linimasa di medsos. Kuasa kata juga menguasai jagat komunikasi politik di lingkaran tokoh publik, pejabat negara, dan anggota Dewan. Kuasa kata yang membara menjadi perang pesan verbal bersumber dari gagasan dan kebijakan yang mereka kumandangkan. Mereka sengaja menggoreng kebijakan yang bermuara dari gagasan impulsif bernuansa subjektif. Mereka menisbikan rasa perasaan warganet dan melumpuhkan akal sehat warga masyarakat.

Pada titik itulah kuasa kata kemudian melahirkan fenomena gagal paham komunikasi. Dampaknya berhasil memporakporandakan bangunan konsep komunikasi sosial yang sudah berlangsung nyaman. Ujung dari semua itu, menyebabkan kehidupan patembayatan warganet dan warga masyarakat menjadi gaduh melenguh-lenguh.

Gagal Paham

Fenomena gagal paham komunikasi di atas menegaskan kekuatan kuasa kata yang berujung miskomunikasi di medsos. Miskomunikasi di medsos paling membahana saat ini adalah kesalahpahaman antara parapihak akibat perang wacana atas kuasa kata yang dilontarkan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta

Fenomena gagal paham komunikasi yang dipantik pidato, komentar, pendapat serta pernyataan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta lalu membara di medsos. Alirannya kemudian merembet ke seluruh media massa cetak dan elektronik. Efek turunannya berlanjut dengan polemik nyinyirisme yang semakin memanas di medsos antara kelompok haters lawan geng pendukung pernyataan orang nomer satu dan nomer dua di kantor pemerintahan DKI Jakarta.

Atas fenomena gagal paham komunikasi ini, sejatinya ada perbedaan pemahaman makna pesan verbal dan pesan visual atas kuasa kata yang dilontarkan kedua belah pihak ketika sedang beku hatinya. Akibatnya, gagal paham komunikasi menjadi sajian tidak membahagiakan yang harus dikonsumsi warganet dan warga masyarakat.

Sebaliknya, bagi kelompok tertentu fenomena gagal paham komunikasi justru sangat membahagiakan dalam konteks perolehan atensi like jempol biru. Ujungnya, pengelola akun medsos yang mengendalikan gelombang magnetik gagal paham komunikasi mendapatkan penghasilan tetap. Berbagai iklan yang menempel di laman yang dikelolanya senantiasa mengucurkan sejumlah fulus atas capaiannya tersebut.

Dalam perspektif budaya visual, harus diakui, sosok gagal paham komunikasi merupakan representasi setan. Ia selalu mengejawantah dalam sebuah proses komunikasi. Apalagi proses komunikasi yang tidak sejalan bagi peruntukan komunikasi itu sendiri. Dengan demikian, sosok gagal paham komunikasi yang menggunakan kendaraan kuasa kata senantiasa menjadi musuh bersama umat manusia.

Dalam pergerakkannya, ia senantiasa menebar energi negatif. Tebaran energi negatif itu wajib dihirup warganet dan warga masyarakat yang gelap mata atas realitas sosial yang ada. Hebatnya, perwujudan sosok gagal paham komunikasi sangat rajin mengobrak-abrik kedamaian warganet. Di sisi lain, keberadaannya juga menciptakan suasana gaduh melenguh-lenguh warga masyarakat di tengah patembayatan sosial di medsos.

Menyiangi Hati

Di abad budaya layar seperti sekarang ini, dibutuhkan kehadiran wasit dan hakim garis yang mampu menyemprit silang sengkarut kelompok gagal paham komunikasi. Kehadiran wasit dan hakim garis bertugas mengajak warganet senantiasa bergandengan tangan guna membangun kesepahaman bersama saat menjalankan proses komunikasi di medsos.

Hal itu wajib dilakukan agar antar warganet yang terbelenggu belitan tangan gurita sosok gagal paham komunikasi dapat hidup damai di tengah keberagaman sifat kemanusiaannya. Selanjutnya dalam tataran pergaulan sosial, mereka sesegara mungkin menyiangi hati. Dengan hati yang sareh, sabar plus sumeleh akan keluar energi positif. Hal itu diyakini mampu menyelaraskan nalar perasaan dan akal pikiran mereka yang sedang terjerembab dalam kubangan lubang gagal paham komunikasi.

Untuk itu, marilah kita bangkit berdiri agar senantiasa mampu membangun kesepahaman diri pribadi dengan pihak lain. Pejabat publik, elit politik dan tokoh masyarakat seyogianya menjadi orang pertama yang mau dan mampu memahami aspirasi warganet serta gerak langkah warga masyarakat yang dilayaninya.

Jangan malah sebaliknya seperti yang terjadi sekarang ini. Mereka menutup diri dan mengunci hatinya dengan gembok besar. Mereka merasa paling benar. Mereka senantiasa menghindarkan diri pribadi dari realitas sosial. Mereka lebih suka menjawab daripada menanggung tanggungannya. Bahkan mereka enggan mencari jalan keluar atas permasalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Ketika sikap egois semacam itu terus dikembangbiakkan, sejatinya mereka sedang menjalankan gerakan bunuh diri massal. Upaya bunuh diri massal itu dilakukan untuk membunuh benih-benih kebaikan yang seharusnya ditumbuhsuburkan. Untuk itu, seyogianya mereka berani menyematkan konotasi positif atas kuasa kata. Hal itu penting dilakukan demi bertumbuhnya energi kebaikan bagi hidup dan kehidupan umat manusia.

Dr. SUMBO TINARBUKO
Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta
Artikel ini dimuat di kolom OPINI Harian KOMPAS, Sabtu Pahing, 18 November 2017
Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko,
Facebook: @sumbotinarbuko

Iklan
Dipublikasi di Artikel, Opini | Meninggalkan komentar

Pre Order #1 Buku Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual

cover dg isbn acc

lapor bung dan nona!
buku ke-8 pak guru ‘oemar bakri’ @sumbotinarbuko berjuluk: Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual, sudah dapat anda miliki dg mahar Rp. 96 ribu. mahar tsb belum termasuk ongkos kirim. berat buku 400 gram. untuk perkiraan ongkos kirim buku dari Yogyakarta ke alamat masing-masing pemesan, silakan anda klik http://www.jne.co.id/id/tracking/tarif

bung dan nona, periode pre order #1 mulai 27 Agustus 2017 – 27 September 2017. pembayaran dilakukan melalui transfer ke nomer rekening 0188886264 – Bank BNI Yogyakarta – atas nama: Sumbo Tinarbuko, Drs, M.S

bung dan nona, bagi pemesan buku: Membaca Tanda dan Makna Desain Komunikasi Visual, setelah melakukan pembayaran via transfer bank, dipersilakan kirim identitas dan data diri – alamat rumah/kantor – jumlah pemesanan buku – ke email sumbotinarbuko@gmail.com – sertakan juga foto bukti pembayaran

#institutesumbo, ruang untuk bersama-sama belajar dan belajar bersama-sama #merdekave #literasidekave #DKVBertindak

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar

(Analisis KR) Kuasa Jempol

Dr Sumbo Tinarbuko

Sudah menjadi rahasia umum, di jagat media sosial, jempol memiliki kekuasaan absolut. Ia mempunyai energi besar mengukir penanda zaman. Bahkan meruntuhkan sang zaman. Ia juga dipercaya menjadi eksekutor dalam menjalankan proses komunikasi lewat media sosial. Lewat ujung jempol, seluruh proses komunikasi di jagat media sosial berlangsung gegap gempita. Sang jempol menjadi medium baik hati saat pengguna media sosial menjalankan proses komunikasi dengan pendekatan komunikasi cinta.

Hal itu terlihat pada aktivitas penyebaran ilmu pengetahuan yang memberikan kebermanfaatan bagi seluruh umat. Penyampaian informasi tentang sesuatu bernuansa kebaikan. Berbagi energi positif berbentuk aksi sosial guna memberdayakan kelompok masyarakat berkekurangan. Sebaliknya, sang jempol bersalin kepribadian menjadi eksekutor sadis ketika menyebarkan komunikasi dengki lewat saluran media sosial. Kuasa jempol jahat itu hampir setiap menit dapat disaksikan di lini masa media sosial.

Dalam tiga bulan terakhir, kuasa jempol jahat dengan riang gembira membagikan informasi yang bersifat adu domba terkait dengan kampanye pilkada. Terlebih dalam putaran kedua Pilkada DKI yang dilaksanakan kemarin. Kuasa jempol jahat pun tidak memilih korban. Sri Sultan Hamengku Buwono X juga dijadikan korban. Betapa kekuasaan jempol mampu memporakporandakan banyak hal lewat perang media sosial yang dikendalikannya. Masalah agama, ekonomi, sosial budaya, kinerja pemerintah dan anggota dewan pun tidak luput dari gorengan sang kuasa jempol.

Kuasa jempol di media sosial menyebabkan kekerasan verbal-visual tumbuh bermekaran. Pelaku kekerasan verbal-visual merelakan hati dan pikirannya mengeras demi mengejar kebenaran yang diyakininya benar.

Berdasarkan sifat dan watak semacam itu, media sosial lalu diambil alih dan dikendalikan oleh kuasa sang jempol jahat. Pengejawantahannya, atas kuasa sang jempol jahat, media sosial membungkus kekerasan verbal-visual yang mengeras itu menjadi sebuah komoditas.

Kekerasan verbal-visual kemudian dibranding dan dikomodifikasikan sedemikian rupa agar terjual laris manis. Bentuk konkrit komodifikasi kekerasan verbal-visual di media sosial terwadahi di dalam kotak komentar. Wujudnya dapat berupa ikon jempol like, share atau yang paling dahsyat teks komentar bernada nyinyirisme provokatif.

Efek dari komodifikasi kekerasan verbal-visual itu ditengarai menjadi semacam pembibitan generasi baru bagi tunas kekerasan verbal-visual serial berikutnya. Dalam kesehariannya, mereka senantiasa menggali energi negatif berwajah santun namun bertabiat kasar. Mereka memosisikan kekerasan verbal-visual sebagai peradaban baru. Ketika kekerasan verbal-visual diposisikan sebagai peradaban baru. Pada titik ini, dibangunlah mitos dan ideologi baru. Politik peradaban baru tersebut menjanjikan kesanggupannya menyelesaikan permasalahan sosial budaya yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak dapat dipungkiri, kekerasan verbal-visual karena ulah kuasa sang jempol menjadi tengara memburuknya kondisi perikehidupan sosial budaya bangsa Indonesia. Hal itu terjadi akibat perubahan drastis tatanilai sosial budaya. Selain itu, tentu dampak rendahnya kualitas budaya komunikasi antarumat manusia yang tercermin lewat media sosial.

Pergeseran tatanilai sosial budaya dan tersendatnya proses komunikasi antarmanusia dalam perspektif budaya komunikasi via media sosial, berujung miskinnya kualitas budaya komunikasi di jagat raya ini. Kini, muncullah realitas sosial yang menyatakan kuasa jempol jahat menjadi barometer nafas kehidupan manusia di tengah ketidaktentuan arah, kesimpangsiuran makna, dan ketidakpastian nilai-nilai kemanusiaan.

Atas kuasa jempol di media sosial, manusia sebagai makhluk berakal budi tidak lagi diposisikan sebagai subjek pengguna bahasa dalam proses komunikasi secara verbal-visual. Melainkan didekonstruksi menjadi sekadar objek tanda di tengah sistem kapitalisme global. Sementara bahasa sehari-hari yang dianggap komunikatif dalam konteks ini kemudian dipelintir menjadi wahana ekspresi manusia jahat bertajuk berperangai kekerasan verbal-visual. Ia bersalin wajah menjadi teroris verbal-visual dengan mengenakan baju seragam kebrutalan.

Jika kuasa sang jempol di media sosial tidak diantisipasi, akan terjadi mandulnya proses komunikasi dialogis antar parapihak. Artinya, sang komunikator yang menjalankan laku komunikasi verbal-visual lebih mengedepankan tabiat egoisme individual atau golongan. Atas kuasa sang jempol jahat tersebut, mereka mati rasa. Mereka memasuki kasta baru sebagai manusia modern yang gagap menjalankan sebuah jalinan komunikasi cinta yang komunikatif. Benarkah demikian?

(Dr Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis Kliwon, 20 April 2017 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko | Follow Twitter @sumbotinarbuko | Follow Facebook @sumbotinarbuko)

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar