Sumbo Tinarbuko: Sampah Visual Bisa Jadi Bencana Sosial Bagi Yogya

MENURUT Sumbo Tinarbuko, bola api iklan visual kemudian semakin menggelinding liar seiring perkembangan teknologi percetakan. Pasca reformasi, industri digital printing tumbuh masif dan mulai memperkenalkan fitur lem wheatpaste.

Terbuat dari campuran lem kanji yang semakin murah dan mudah diakses masyarakat, mahasiswa mulai menggunakan fasilitas tersebut untuk memperkenalkan kegiatannya di masyarakat. Tidak perlu cetak pamflet berwarna, mereka hanya perlu memfotokopi bahan iklan visualnya dengan biaya yang juga murah.

Setelah tercetak, para mahasiswa bisa menempelkannya sendiri ataupun menyewa jasa tukang tempel. “Jadi difotokopi, satu kertas satu huruf. Misal K-O-N-S-E-R M-U-S-I-K A-K-U-S-T-I-K. Nanti ditempel panjang sekali sendiri atau bayar honor tukang tempel per rim nya berapa. Dan (biaya murah mengandalkan fotokopi) itu yang membuat iklan visual semakin gila-gilaan,” ungkapnya menyayangkan.

Terbukti menurutnya, iklan visual semacam itu tidak berkontribusi banyak dan tak selalu berbanding positif dengan semaraknya pengunjung dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut menurutnya juga bisa ditilik perubahaan budaya pada masyarakat.

Terlebih lagi di era kontemporer, masyarakat yang terjebak macet seringkali mengoperasikan gadgetnya alih-alih memperhatikan sekelilingnya. “Jadi mereka memilih menunduk dan bercerita lewat gadgetnya (update status) dibanding menyaksikan iklan. Itu yang seharusnya disoroti mahasiswa. Dibanding menempelkan iklan yang mengganggu, lebih baik membangun narasi visual lewat media sosial semisal Instagram,” ungkap Sumbo.

Alih-alih menjangkau masyarakat, ia justru takut sampah visual tersebut bisa menjelma sebagai bencana sosial dan melunturkan keistimewaan Yogyakarta. Ruang publik yang kotor dan mengganggu estetika kota bisa membuat Yogyakarta tak lagi nyaman bagi penduduknya.

Sebagai aktivis komunitas Reresik Sampah Visual dan posisinya sebagai akademisi DKV, ia telah berulang kali mengusulkan regulasi tentang penyelenggaraan iklan visual. Namun sayang, hal tersebut luput ketika Perda 2/2015 DIY tentang penyelenggaran reklame tak memasukkan aturan yang diusulkannya.

“Dulu dianggap tidak masalah. Ternyata seiring waktu semakin masif. Di jembatan ada, tembok, sembarang tempat. Saya harap pemerintah dan Satpol PP bergerak. Karena telah menjelma menjadi vandalisme dan semakin meresahkan,” ujarnya.

Namun menurut Sumbo, pemerintah juga tidak bisa dibiarkan bergerak sendiri menghadapi bencana sosial tersebut. Semua lapisan masyarakat Yogya harus bergerak. Termasuk pemilik tembok yang menjadi korban aksi tak berizin dan media massa.

“Saya di komunitas sudah bergerak dan mengingatkan. Media harus mendorong sosialisasi bahwa hal ini tidak benar. Dan pemilik tembok harus berani tegur bahwa mereka tidak berhak menempel sembarangan,” pungkasnya.

(Wawancara ini dimuat di KROnline, Jumat, 24 Maret 2017 | Jam 06:54 WIB | Editor: Agung Purwandono | Reporter: Ilham Dary Athalah)

Iklan
Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar

SUMBO TINARBUKO: Bikin EO Salah Tingkah

(wawancara ini dimuat di Harian Jogja, Sabtu 11 Maret 2017)

Belum lama ini, Penggagas Gerakan Reresik Sampah Visual Jogja Sumbo Tinarbuko, bertemu ‘musuh bebuyutannya’ secara tak sengaja dalam sebuah acara diskusi.

Saat itu, Dosen Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu diundang dalam sebuah diskusi publik yang digelar Lembaga Ombudsman Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam diskusi yang mengangkat tema Menyorot Fenomena Iklan Seminar Bisnis itu, ia bertemu sejumlah dedengkot event organizer Jogja yang selama ini dianggap ‘musuh’ gerakan yang ia gagas. Sebab, EO kerapkali menebar sampah visual di Kota Gudeg saat mempromosikan acara yang akan mereka helat.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, seketika itu juga ia menegur ‘musuh bebuyutannya’ itu. ‘’Sebagai warga, Anda seharusnya juga ikut menjaga lingkungan. Jangan merusak estetika kota dengan iklan-iklan. Anda jangan hanya mementingkan kepentingan bisnis pribadi dong,’’ kata Sumbo mengenang kejadian pada akhir Februari lalu, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (10/3/2017).

Merasa tepergok oleh aktivis Reresik Sampah Visual, perwakilan EO hanya cengar-cengir mendapat teguran dari Sumbo. Mereka tak membantah tapi juga tak juga mengiyakan, hanya tawa canggung saja tersungging dari bibir perwakilan EO itu.

Teguran tersebut sama sekali tak direncanakan Sumbo. Doktor Ilmu Humaniora FIB UGM yang mengangkat disertasi mengenai analisis semiotika tanda verbal dan tanda visual iklan layanan masyarakat itu diundang sebagai pembicara diskusi. Ternyata diskusi itu juga mengundang perwakilan para EO penyelenggara seminar bisnis.

Beberapa EO inilah yang dalam catatan Sumbo menjadi pelaku penyebar sampah visual iklan komersial di sudut-sudut Kota Jogja saat mempromosikan acara yang mereka selenggarakan. Menurut Sumbo, persoalan sampah visual berupa iklan luar ruang seperti rontek, spanduk, umbul-umbul, poster, billboard dan baliho di Jogja seharusnya sudah selesai sejak dibuat Peraturan Daerah No. 2/2015 tentang Penyelenggaraan Reklame.

Namun sudah dua tahun sejak Perda itu diketok parlemen daerah, masih banyak iklan luar ruang yang dipasang di tempat terlarang. Padahal, pemasangan iklan luar ruang dengan tanpa memperhatikan estetika lingkungan, justru akan memunculkan kesan Jogja tidak lagi ramah dan toleran sebagai Kota Budaya. Sampah visual menurutnya juga mengurangi nilai keistimewaan DIY. Sebab menurut dia, nilai keistimewaan sejatinya berkorelasi dengan terwujudnya ruang publik yang bebas dari teror visual. (I Ketut Sawitra Mustika)

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar

(SOSOK KOMPAS) SUMBO TINARBUKO: Doktor Pemulung Sampah Visual

KOMPAS > GAYA HIDUP > SOSOK > DOKTOR PEMULUNG SAMPAH VISUAL

Lelaki ini dikenal ”garang” memberantas sampah visual, seperti iklan luar ruang yang semrawut, pemasangan gambar partai politik sembarangan, atau alat peraga kampanye yang merusak lingkungan. Lewat Komunitas Reresik Sampah Visual, dia bersama sejumlah mahasiswa terjun mencopot benda-benda itu apabila melanggar aturan.

Itulah Sumbo Tinarbuko, dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tak cukup ungkapkan keprihatinan, dia bergerak nyata.

Saat naik motor bersama istrinya, Agnes Setia Wardhani, dari Bandara Adi Sutjipto sampai di rumahnya, wilayah Sono Pakis, Yogyakarta, dia pernah iseng-iseng menghitung jumlah iklan entah itu baliho, spanduk, atau poster. ”Ada sekitar 700 iklan, padahal jaraknya tidak terlalu jauh,” kata Sumbo.

Jumlah iklan sebanyak itu mengkhawatirkan. ”Yogyakarta yang hanya memiliki luas 32 kilometer persegi, kok, lebih banyak iklannya daripada jumlah pohonnya,” katanya.

Media visual luar ruang kerap dimanfaatkan masyarakat atau pengusaha sesukanya. Pemerintah daerah pun cenderung hanya mengejar pendapatan asli daerah lewat tarif iklan.

Awalnya Sumbo rajin menuliskan pandangannya di media. Setelah dipercaya mengampu mata kuliah Kritik Desain Komunikasi Visual di ISI Yogyakarta tahun 2003, dia berpikir berbeda. ”Mata kuliah yang begitu indah untuk menjamin kenyamanan publik dalam menikmati kehidupan kota harus saya praktikkan secara nyata,” katanya.

Bagi Sumbo, mata kuliah itu bukan sekadar tugas kampus, melainkan juga tanggung jawab kepada publik yang ingin menikmati visual dan budaya kota. ”Kota ini kaya bangunan kuno, candi-candi. Kalau sampai tertutup barisan iklan, keindahan budayanya akan hilang,” ujarnya.

Sejak itu, Sumbo nekat memberantas sampah visual secara sukarela dibantu mahasiswa. Iklan yang menempel di pohon, tiang listrik, tembok-tembok kantor, pertokoan, semua itu dicopot, dibakar, atau dikembalikan kepada pemiliknya.

Gerakan itu spontan. Begitu ada waktu, Sumbo bersama para mahasiswa terjun ke lapangan, lengkap dengan gerobak dorongnya untuk menampung sampah visual. Agar lebih terorganisasi, tahun 2012, dia mendirikan komunitas Reresik Sampah Visual. Hingga kini mereka melancarkan 32 kali aksi bersih-bersih.

Komunitas itu pernah melibatkan Bupati Bantul, Wali Kota Yogyakarta, kampus ISI, Walhi, dan masyarakat.

Inspirasi ayah

Sumbo lahir di Jakarta. Ayahnya, Murianto (almarhum), alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta yang bekerja sebagai tim artistik di Balai Kota DKI Jakarta. Saat Sumbo mengikuti ayahnya pindah ke Yogyakarta untuk menjadi guru seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR).

Sumbo kecil sering mengikuti kegiatan ayahnya mengurus pameran seni, bertemu para seniman, dan belajar menulis.

—–

SUMBO TINARBUKO

LAHIR:
Jakarta 4 April 1966

ISTRI:
Agnes Setia Wardhani, SH

ANAK:
• G Anggertimur Lanang Tinarbuko, S.IKom
• Ign Rayi Angger Lintanganom Tinarbuko

PENDIDIKAN:
• SD, SMP, SMA di Yogyakarta
• Magister Desain FSRD ITB Bandung (1998)
• Doktor Ilmu Humaniora Fakultas Ilmu Budaya UGM

PEKERJAAN:
Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta

PENGHARGAAN:
• Anugerah tanda kehormatan Satyalencana Karya Satya 20 tahun (2014)
• Juara II Lomba Desain Iklan Student Creative Award Circle Indonesia, Jakarta (2003)

—–

Mantap menekuni seni, Sumbo masuk DKV ISI Yogyakarta tahun 1985. Selama kuliah, pemuda itu nyambi sebagai wartawan Minggu Pagi. Kelar kuliah tahun 1990, ia merantau ke Jakarta dan menjajal profesi desainer grafis.

Dua tahun kemudian, Sumbo kembali ke Yogyakarta dan menjadi dosen pegawai negeri sipil di Jurusan DKV Fakultas Seni Rupa ISI. Ia melanjutkan studi S-2 Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, kemudian meraih doktor Ilmu Humaniora Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tahun 2015.

Pemerintah kota

Kini, Sumbo semakin mantap meneruskan program bersih-bersih sampah visual. Apalagi, gerakan ini memperoleh dukungan dari kalangan swasta, biro iklan, dan pemimpin pemerintah. ”Pak Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti pernah keliling kota bersepeda bersama masyarakat dan mahasiswa memberantas iklan visual di luar aturan,” katanya.

Beberapa camat pun secara bergantian mengikuti jejak wali kota.

Perang sampah visual ini bukan asal babat. Khusus terhadap iklan berizin, tetapi dinilai melanggar aturan, Sumbo dan ”pasukannya” tidak langsung menurunkannya. ”Karena iklan itu resmi milik pemerintah daerah, khususnya berkaitan dengan perolehan pendapatan asli daerah, kami anjurkan iklan itu ditata ulang sesuai aturan,” ujarnya.

Jika menemukan iklan politik yang merentang asal-asalan di jalanan kota, Sumbo menghubungi partai politik terkait agar membenahi iklannya. ”Kami cari solusi damai.”

Dengan pendekatan komunikatif, komunitas Reresik Sampah Visual tidak pernah cekcok dengan pemasang iklan.

Sumbo menuangkan gagasannya dalam sejumlah buku dan merumuskan gerakan Komunitas Reresik Sampah Visual yang disebut lima sila sampah visual. Sila-sila itu mencakup larangan pasang iklan di taman kota dan ruang terbuka hijau, trotoar, bangunan heritage (warisan budaya), jembatan, tiang telepon, tiang listrik, tiang rambu lalu lintas, dan tiang penerangan jalan. Tak boleh juga memaku iklan di batang pohon.

Rumusan itu diadopsi Komisi Pemilihan Umum Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai peraturan alat peraga kampanye. Berkat dorongan komunitas itu, Kota Yogyakarta punya Peraturan Daerah Penyelenggaraan Reklame Nomor 2 Tahun 2015. Terinspirasi langkah ini, bermunculan kelompok-kelompok serupa di sejumlah daerah.

Komunitas Reresik berusaha mengembangkan pendidikan tentang bencana sampah visual. Iklan yang mengganggu rentan memicu psikologis beringas masyarakat dan kecelakaan lalu lintas. Permainan pemasangan reklame juga rentan jadi sarana korupsi.

Semua pihak diajak bersama mendorong iklan luar ruang sebagai dekorasi yang indah. ”Iklan yang baik bahkan bisa jadi ajang swafoto warga. Perusahaan pengiklan mendapatkan pasar, pemerintah memperoleh pendapatan. Semua diuntungkan,” kata Sumbo.

(KOMPAS/THOMAS PUDJO WIDIJANTO/IAM)

http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/11/07/Doktor-Pemulung-Sampah-Visual

Dipublikasi di about me | Meninggalkan komentar